SAMBUNGAN
RANGKUMAN / SUMMARY 7
Bercinta Dengan Polisi Ganteng
Sekembalinya Budi sarapan pagi, dia membawa beberapa roti dan camilan
juga minuman segar lainnya dibantu oleh petugas hotel itu pula. Aku perhatikan
Budi itu baik sekali dan juga sopan, berbeda dengan Niko yang terlihat agak
keras karakternya itu. Lalu Budi mempersilahkan sarapan padaku dan bahkan
membantunya pula sambil mengobrol kesana kemari pula. Kemudian Budi berpakaian Polisi
lengkap dengan semua atributnya, dan tampak kini sosok Budi itu terlihat gagah
dan ganteng sekali. Aku hanya memperhatikan Budi itu saja mulai sejak memakai
celana dalam kembali hingga salah satu senjata di pingangnya itu menambah
kewibawaan dan kegagahan sosok Polisis ganteng itu yang badannya tinggi dan
sangat proporsional. Dan diluar sana tidak akan ada orang yang dapat mengira
jika sosok Polisi Ganteng bernama Budi itu salah seorang Bisex pula karena hal
itu masih tertutup seperti aku ini.
“Bang Ricky. Ma’af sekali ya, Bang. Aku harus ke Mabes dulu dan
meninggalkan Abang disini. Aku harus melanjutkan tugas yang kemaren. Ada ujian
juga disana.” Kata Budi. “Ya. Ga apa-apa aku tinggal saja disini, Pak Polisi
Ganteng. Kantornya di Mabes Polri Jalan Trunojoyo kan?” Kataku. “Yup, betul
sekali, Bang. Abang pasti tahulah tentang Jakarta. Nanti istirahat siang aku
kemari lagi, Bang.” Kata Budi. “Ok, terima kasih Budi mau merawat aku disini.
Semoga berhasil ujiannya ya, Bud.” Kataku. “Amiin, Bang. Terima kasih juga.”
Kata Budi, kini sambil mencium bibirku kembali. Dibalas aku mencium bibir Budi
juga sehingga hatiku merasa berdetak berciuman dengan polisi ganteng dan gagah
itu. Kemudian Budi yang terlihat gagah dan berkharisma itu melangkahkan kakinya
sambil tersenyum pula dibales dengan senyuman pula.
Aku benar-benar merasa senang dapat bersama dengan Budi walau baru
seperti itu. Penampilan laki-laki yang terlihat manly seperti Budi itu justeru
yang menghancurkan hati dan perasaanku juga menggoda imanku selama ini dan kini
sosok Budi dihadapanku dan bersamaku ini pula. Itulah aku juga suka dengan Hadi
itu jika Hadi berjalan tampak seperti laki-laki tulen dan gagah membuatku ingin
memilikinya pula namun ternyata kini aku hingga berbaring dikamar hotel daerah
Melawai-Blok M ini dampak dari semuanya itu. Semuanya penuh dengan kepalsuan
dan semuanya telah di rekayasa oleh sosok Hadi itu.
Setelah sosok Budi itu keluar dari kamar hotel, aku hanya merenungkan
nasibku ini. Sejak dulu aku ingin berpacaran dengan sosok polisi atau Tentara
namun belum kesampaian juga karena pada saling tertutup dan dunia Gay/Bisex
sangat tertutup sekali di Indonesia ini bahkan pada menganggapnya orang-orang
tidak waras, padahal sama ciptaan Tuhan juga sama dengan mereka itu pula. Lalu
aku mulai SMS pada kawan-kawan yang baik hati padaku. Khususnya aku meng-SMS
Radith dan Dwinovian itu. Dan kini telah dapat disimpulkan dari balasan SMS
Radith jika Radith juga akan mencari BF yang dekat saja di Kota Majalengka,
Jawa Barat agar mudah ketemuannya jika sedang pada kangen itu. Dwinovian itu
sendiri hanya dapat menasehatiku terus melalui SMS-SMS-nya itu membuatku agak
tenang kembali dan fikiran juga agar terbuka bahkan badanku-pun mulai agak
baikan kembali namun belum dapat berdiri sendiri, harus menggunakan alat bantu.
Dan bekas diperkosa / disodomi oleh Giri masih sakit juga karena ternyata penis
Giri cukup besar dan panjang pula. Jika saja aku dapat bergerak tadi malam akan
aku hajar dan aku banting Giri itu. Dan aku berfikir, kalau saja yang merayu
dan memperkosa Budi atau Rendy itu mungkin aku masih dapat memakluminya dan
mungkin dapat menerimanya karena rasa cinta dan suka itu tidak dapat dipaksakan
seperti itu apalagi diperkosa seperti tadi malam itu.
Tepat jam 21:00 WIB., Budi datang memasuki kamar hotel itu dengan
senyuman manis menambah kegantengan sosok Polisi Ganteng itu membuatku semakin
berdetak di jantungku ini walau sedang sakit hati oleh Hadi itu, sambil
membalas senyuman Budi ini. Tidak lama kemudian pesanan makan malam yang telah
dipesan oleh Budi juga diantar ke kamar hotel itu oleh petugas hotel itu. Kini
aku makan bersama dengan Budi yang masih lengkap dengan pakaiannya itu menambah
wibawanya sosok Budi itu. Aku dan Budi mengobrol kesana kemari sambil
memperhatikan Budi yang kemudian mengganti pakainnya itu, tampak tubuh Budi
keren dan sexy juga berbeda dengan dalam acara kemaren malam itu. Disini
terlihat sangat berkharisma sekali dan sexy menurut aku ini yang memang Bisex
ini. Tidak lama kemudian Budi menatapku sambil tersenyum. “Bang. Makan malam
bersama, udah. Abang udah mandi belum?” Tanya Budi kalem. “Belum. Aku takut
terjatuh, Bud.” Kataku. “Hhmm… Abang mau mandi juga-kah?” Tanya Budi menatapku.
“Ya. Sebetulnya aku mau mandi tapi aku serba salah. Kotoran bekas
kemaren malam juga belum sempat dibersihkan baunya ga sedap gini. Bau
obat-obatan dan alcohol ga jelas gini.” Kataku. “Oh, iya sorry, Bang, aku lupa.
Tadi pagi aku mandi sendirian saja. Kalau Abang mau mandi, kita mandi bersama
aja bisa kan, Bang.!? Aku bantu Abang.” Kata Budi. “Oh, kalau ga keberatan,
boleh-boleh aja, Bud. Dan pakaianku yang dikasih Rendy ada di ranselku itu.”
Kataku sambil berusaha akan mengambil ransel secara merayap, tapi kini dilarang
oleh Budi itu. “Stop, Bang. Biar Bang, aku yang ambilkan.” Kata Budi sambil
mendudukan aku kembali disofa kamar hotel itu. “Oh, terima kasih, Bud. Kamu
baik sekali, Bud.” Kataku. “Kita harus saling membantu, Bang.” Kata Budi. “Oh.
Iya sih. Kamu memang tepat sekali menjadi Polisi itu. Udah baik, sopan pula.
Juga ganteng. Beruntung dech yang jadi pasangannya.!” Kataku. “Amiin. Terima
kasih, Bang Ricky.” Kata Budi sambil tersenyum dan menyerahkan ranselku itu.
Lalu aku mengeluarkan pakain itu, sementara Budi langsung menyalakan air hangat
di bathtub kamar mandi hotel itu. Setelah air hangat cukup, kemudian aku
dibantu Budi memasuki kamar mandi itu pula.
Pertama aku memasuki bathtub itu dan membasuhi seluruh tubuhku bersama
dengan Budi itu. Aku sendiri memperhatikan tubuh Budi itu, juga sebaliknya Budi
memperhatikan tubuhku pula sambil menyeka kotoranku itu agar bersih menggunakan
sabun yang tersedia disana. Tapi kini sepertinya perang bathin dan asmara
terjadi kembali. Hati dan jantungku serasa berdetak secara terus menerus
bersamaan dengan Budi juga membelai-belai tubuhku secara perlahan-lahan pula.
Aku juga turut menyeka punggung Budi itu bahkan aku menyeka wajah Budi itu.
Namun kini Budi kemudian membelai-belai posisi yang dapat terangsang khususnya
penisku ini dalam air hangat di bathtub itu sehingga aku dapat terangsang pula,
dan tentunya penisku menjadi bangkit juga. Sebaliknya Budi juga terlihat
demikian. “Bang…!?” Kata Budi pelan-pelan sekali sambil mentapku. “Ya, Bud.”
Jawabku menatap Budi juga. Tampak Budi tersenyum dan serba salah lalu menunduk.
“Aku suka sama Abang. Boleh aku peluk Bang di dalam air hangat bathtub ini?”
Kata Budi. “Oh. Aku juga suka sama Budi ko. Jujur aku suka dengan Polisi atau
Tentara.” Kataku.
Mendengar jawabanku seperti itu, Budi tersenyum dan memeluk tubuhku
sambil menciumi bibirku ini secara perlahan-lahan pula. Kini aku mejadi
terangsang sambil berendam mandi bersama Budi dalam air hangat itu. Kami berdua
berendam dalam hangatnya air di bathtub itu bersama gejolak asmara dalam hati
yang sama-sama suka sama suka dalam bercinta sesama Bisex itu. Belaian dan
ciuman yang sama-sama terangsang disertai merendam dalam air hangat berbusa itu
manambah hangatnya bercinta itu. Rasanya rasa sakit dan luka dalam hati telah
diperkosa oleh Giri itu seperti sirna dan lupa, yang ada gejolak hati dan
bercinta dengan Polisi Ganteng itu. Aku semakin bergairah juga menatap seluruh
tubuh Polisi Ganteng itu sehingga aku semakin hot mencium dan memeluk Budi itu
juga sebaliknya Budi juga demikian, sepertinya lupa jika kami itu pada sedang
merendam diri di air hangat dalam keadaan malam hari itu yang dapat menyebabkan
sakit pula. Setelah cukup lama aku dan Budi saling jilat dan saling cium juga
saling peluk dalam kehangatan bercinta, tiba-tiba Budi berbicara.
“Bang. Tembak aku Bang. Aku Bott, Bang.” Kata Budi sambil menatapku,
membuat aku terperanjat pula jika ternyata sosok Polisi Ganteng yang jika
berpakain menggunakan pistol untuk menembak itu Bott juga, kini malah memintan
untuk ditembak oleh penisku ini. Namun aku berpura-pura tidak kaget agar Budi
tidak tersinggung pula. “Oh. Ok, kondisikan saja aku yang berbaring dan
menyandar ya, Bud.” Kataku, seakan-akan lupa dengan semuanya. “Ok. Abang yang
diam aja ya Bang. Biar aku yang kondisikan.” Kata Budi sambil merangkul tubuhku
dan melanjutkan bercinta di bathtub kamar mandi hotel itu. Tampak sepertinya
Budi menikmatinya juga dalam bercinta itu walau dia Bott.
Aku diam saja jika Polisi Ganteng itu ternyata Bott dan ingin di sodomi
dengan sendirinya itu karena aku sedang tidak dapat banyak bergerak, dan aku
bagaikan pasrah juga pada Budi itu. Setelah sekian lama kami bercinta didalam
rendaman air hangat berbusa di bathtub kamar mandi itu kini Budi juga mengerang
dan mendesah penuh dengan kenikmatan hingga ereksi dan spermanya keluar pula.
Lalu Budi menciumi aku kembali dalam pelukan didalam kehangatan air berbusa di
bathtub itu, dan kini sepertinya kasih sayang tanpa status itu terjadi begitu
saja dengan Budi si Polisi Ganteng itu, pelukan dan belaian satu dengan yang
lainnya terasa membekas hingga kini.
Pada malam hari menjelang tidur malam, Budi yang berbaring rebahan
ditempat tidur disampingku dalam kamar hotel itu memeluk aku erat-erat sekali
sambil berbicara. “Terima kasih, Bang. Abang hot sekali ya walau dalam keadaan
lemah seperti ini.” Kata Budi sambil mencium bibirku pula secara perlahan-lahan
dan lembut. “Ya. Sama-sama, Bud. Budi juga udah ganteng dan hot juga. Aku suka
juga sih. Ga perlu melangkahin mayat Niko dulu juga kan!?” Kataku sambil
membalas memeluk erat-erat dan mencium bibirnya juga dalam balutan selimut
berwana putih itu. Mendengar aku bercanda seperti itu Budi tertwa pula. “Haha.
Betul, Bang. Abang tahu aja.” Kata Budi. Kini dilanjutkan pada obrolan kesana
kemari sambil menonton televisi juga, termasuk Budi juga mengaktifkan lagu-lagu
cinta atau Love Songs itu pula, namun tangannya tetap membelai-belai tubuhku
ini. Dan obrolan jelang tidur itu sendiri pada akhirnya membahas masalah
bercinta itu kembali.
Tanpa disadarinya kembali kini Budi salah seorang Polisi Ganteng memohon
agar aku dapat menyodominya kembali membuatku heran pula. Bagaimana mungkin
sosok Polisi yang terlihat ganteng dan gagah namun ternyata ini malah Bott
juga. Dan ini hanya salah seorang yang aku hadapinya secara langsung bukan
rekayasa aku ini, karena selain sosok Budi Polisi Ganteng itu, masih
ada yang lainnya karena aku memiliki data dalam jejaring sosial khusus
Gay/Bisex/Lesbi itu yang memang benar adanya dan aku sendiri kini sejak
diperkenalkan oleh Hadi itu dalam jejaring social khusus itu telah berada
didalamnya itu dan bahkan jika aku boleh katakan sungguh diluar dugaan karena
masih banyak yang ganteng dan manly namun sama dengan seperti aku dan Budi juga
Niko; Gay/Bisex itu, mereka telihat ganteng-ganteng dan gagah-gagah juga dan
semua orang pada tidak mengetahuinya akan hal itu.
“Bang.!?” Kata Budi. “Ya, Bud.” Kataku. “Tembak aku lagi, Bang. Pistol
Abang jauh lebih besar dari pistol milik aku dan menggemaskan, Bang. Untuk
ukuran orang Indoneia, Abang sungguh sangat luar biasa hot. Please, Bang.!”
Kata Budi membuatku kaget pula. Aku hanya tersenyum dan serba salah karena
kondisiku masih sedang perlu perbaikan mental untuk kesembuhan juga. Tetapi
urusan hati dan perasaan atau asmara tetap normal-normal saja dan dapat
terangsang juga. Karena aku sedang lupa daratan dan lupa segalanya menghadapi
sosok Budi memohon bercinta dan disodomi olehku, aku hanya dapat tersenyum
menatap Budi itu yang menanti jawaban dan sikapku ini. Sejenak aku merenung
dalam serba salahku ini. “Aku suka sama Polisi dan tentara, Bud. Silahkan
puas-puasin saja hasyratmu bersamaku, Bud. Aku juga memang Top dan Verst.”
Kataku. “Terima kasih, Bang. Aku suka Abang.” Kata Budi. Dan kini Budi
membelai-belai tubuhku juga termasuk pada hal yang sangat sensitif hingga aku
terangsang kembali walau aku masih berbaring disampingnya itu, bahkan Budi
sambil menciumi bibirku ini secara perlahan-lahan sekali. Kini aku bagaikan
pasrah pada sosok Polisi Ganteng itu, dan Oh My God, Budi membuka seluruh
pakaian tidurnya dan pada dilepaskannya lalu Budi memeluk tubuhku yang masih
berbaring ini, kemudian Budi menjilat-jilat seluruh tubuhku ini khususnya
penisku juga dalam menggauliku sesukanya itu tanpa ada seorangpun berani yang
melarangnya.
Walau Budi Bott namun pada akhirnya dapat disolusikan juga hingga Budi
sangat menikmatinya bercinta itu. Budi pandai sekali bercintanya dan memeluk
aku erat-erat sekali sambil mendesah dan mengerang dalam kenikmatan dan
kepuasan ereksinya berulang kali itu. Aku sendiri seperti yang lupa akan
segalanya dan hanya pasrah pada Budi itu karena telah bertahun-tahun ingin
berpacaran dengan polisis kini aku baru tersampaian ingin bercinta dan pacaran
dengan sosok Polisi Ganteng namun Bisex itu. Tanpa kata-kata dan tanpa ada yang
mengganggunya Budi secara terus menerus menggauliku sepuasnya kembali hingga
larut malam, bahkan Budi juga hingga berkeringat kembali. Raungan, desahan dan
erangan Budi terdengar ditelinga dalam kepuasan sex sosok Bisex itu hingga
mencapai klimaksnya itu pula berulang kali dan diakhiriri dengan
pelukan-pelukan sangat erat sekali serta tatapan-tatapan sepasang yang pada
sedang bercinta, lalu pada berbaring ditempat tidur itu pula.
Keesokan petang harinya walau badanku masih lemah dan lemas serta
fikiran masih dihantui kejadian sakit hati dan perasaan di Lubang Buaya itu,
kami tetap berjalan besama Budi dan lainnya untuk menghilangkn kepenatan
fikiran pula. Namun yang pertama, aku dan Budi juga yang lainnya pada
mengunjungi salah satu discotique dahulu daerah Darmawangsa, Jakarta, Selatan.
Tampak disana para kaum Luth itu pada sedang enjoy berjogedria bersama para
teman-temannya, termasuk beberapa artis dan model Indonesia dan juga perancang
Indonesia berada disana pula. Setelah cukup lama disana, tidak lama kemudian
kami pada pindah tempat lagi ke salah satu discotique daerah Sarinah Thamrin
itu, juga sama pada dipenuhi oleh para kaum Luth itu.
Setelah minum-minum cukup dan bersantai, kami pada berjalan kembali ke
discotique daerah Hayam Wuruk Jakarta Pusat, juga disini dipenuhi oleh kaum
Luth bahkan para Lesbi juga ada disana, terlihat cantik-cantik dan sexy-sexy
pula. Sepertinya kami pada belum puas lalu kami pada mengunjungi stadium studio
juga, hingga tengah alam itu. Tampak disana para Gay/Bisex juga Lesbi terlihat
tampan-tampan dan cantik-cantik juga sexy-sexy pula berbaur dengan para tamu
yang lainnya. Aku dan teman-teman seperti yang sedang buang-buang waktu saja
sambil pada bercanda pula pada akhir pekan itu dan di jalan seputar Kota
Jakarta tidak terlalu macet seperti hari biasa. Alex dan Adam juga yang lainnya
terlihat pada menikmatinya pula dalam rangka trip ke Jakarta itu. Kemudian kami
pada meluncur lewat tol kembali ke daerah kawasan Kelapa Gading, Jakarta Timur,
menembus kegelapan malam remang-remang lampu Kota Jakarta itu.
Kami sepakat pada akan mengunjungi acara khusus itu disalah satu
apartemen milik Ronald kawasan Kelapa Gading, Jakarta Timur, dekat kawasan Mall
Of Indonesia itu. Namun dalam perjalanku ke tujuan bersama Rendy dan
lain-lainnya membawa mobil BMW model terbaru bagai melayang di Fly-Over jalan
jembatan terpanjang di Asia itu, aku mendapat SMS dari Hadi, jika Hadi
menginformasikan telah transfer uang Rp. 150.000,- untuk ganti transport aku
pulang kampung, namun anehnya Hadi sekaligus menjelek-jelekanku dan mengancamku
juga, bahkan jika aku mati-pun mungkin akan jauh lebih baik dan mereka pada
tidak perduli lagi. Sejenak aku termenung sakit hati dan memikirkannya mengapa
Hadi menjadi sadis dan kejam seperti itu dan kini menjelek-jelekanku serta
mengancamku juga, habis manis sepah dibuang.
Bahkan Hadi juga mengatakan jika semua pakaian dan barang serta yang
lainnya termasuk perlengkapan untuk promosi buku miliku aku itu telah
dikeluarin secara paksa dari rumah kontrakan itu. Aku menjadi teringat dengan
ancaman mereka jika semua barang aku yang jumlahnya banyak dirumah kontrakan
itu juga pada akan dibuang atau dikasihkan pada orang-orang lain. Aku menjadi
teringat semua sertifikat, transkip nilai kuliah, ijazah kuliah selama lima
tahun itu hasil jerih payah aku sendiri; kuliah sambil bekerja, termasuk
passport juga mungkin akan hangus pula, betapa sadis dan tega juga kejamnya
keluarga Hadi itu. Aku juga baru sadar ternyata selama ini sosok aku juga
dijadikan sosok pemuas sex Hadi yang Hypersex Gay itu saja, terbukti aku sering
dikasih uang Rp. 10.000,- itu untuk transport bekerja pada pagi hari itu. Kini
informasi padaku laki-laki idaman lainnya banyak sekali membuatku terperanjat
pula akan hal itu.
Kini aku dikatakan memanfa’atkan Hadi itu karena faktor ekonomi segala.
Seakan-akan aku selama ini memanfa’atkan fasilitas milik Hadi dan melorotin
Hadi itu sendiri, bahkan aku dikatakan orang miskin dan hanya numpang hidup
sambil melorotin Hadi itu sendiri. Aku seperti orang tidak tahu diri, udah
numpang sama orang, sombong dan so kaya serta tidak mau diatur pula, apalagi
urusan bercinta dan pacar yang diharapkannya lebih dari satu orang itu. Ledekan
dan pengkhinaan itu ditutup dengan sumpah serapah Hadi dengan kata-kata ‘rasain
loh..!’. Aku menjadi teringat dengan kata-kata Hadi yang ingin balas dendam
pada Iman yang telah menyodominya saat kecil itu namun hingga sekarang belum
ketemu sama Iman itu, apakah Hadi berniat balas dendam padaku ini? Aku merasa
aneh dan heran jika memang hal itu yang Hadi inginkan karena aku tidak berdosa
dan tidak bersalah, mengapa aku harus menerima itu sehingga aku hancur seperti
ini. Sekarang saja aku telah hancur semuanya dan tertiban tangga pula gara-gara
Hadi itu. Kini aku menjadi tidak bersemangat dan badan rasanya lemas sekali,
badanku lemas kembali bagaikan tidak bernyawa dan tidak bertenanga pula, bahkan
aku hingga meneteskan air mata pesedihan dan kepedihan kembli. Tega dan kejam
sekali Hadi itu, aku harus hancur dan terpuruk seperti ini. Fikiranku kini
menjadi tidak dapat berkonsetrasi kembali menahan rasa sakit hati dan perasaan
pula.
Namun kini aku memaksakan diri mengikuti mereka dalam acara itu
sekaligus acara perpisahan teman-teman itu di apartemen mewah lantai dasar
milik Ronald itu. Terlihat ruangan apartemen milik Ronald itu strategis dan
sangat lux juga dirancang khusus pula. Tampak yang menyambut rombongan kami itu
orang-orang yang bertubuh tinggi dan tampan-tampan, namun wajahnya di make-up
bagai kedok berwarna warni hingga mengkilap juga, pakaiannya menggunakan jubah
merah tua. Dan tampak rombongan perempuannya dengan make-up sama dan pakaiannya
sama pada berjubah pula dan pada menyambut kami semua sekaligus pada
mempersilahkan kami memasuki dalam apartemen mewah itu.
Sejenak Bobby menatapku sambil menghampiriku ketika aku sedang duduk di
sofa apartemen yang sangat lebar itu, yang diseting ada karaoke dan home
theater-nya itu pula sangat lebar juga. “Ada apa lagi, Mas? Tadi terlihat agak
baikan tapi sekarang terlihat lain?” Tanya Bobby sambil meminum minuman
beralkohol yang telah disediakan oleh para petugas yang pada berjubah itu. “Aku
dihina Hadi seakan-akan kau orang kere dan melorotin ekonominya dan juga aku
diancamnya.! Semua pakaian dan barangku juga sekarang pada hangus, termasuk
sertifikat, transkip nilai dan ijazah kuliahku itu. Aku mendapatkannya hasil
kerja keras aku selama lima tahun, kuliah sambil bekerja. Sadis banget mereka
itu. Untuk ijazah aja kalau aku butuh lagi untuk keperluanku, sekarang ga bisa
dan memang udah ga ada. Harus nebus lagi dan tentunya butuh biaya sangat besar
dan ga cukup hanya seribu perak.” Kataku.
“Wallah-walllah, Mas. Kurang ajar banget si Hadi dan keluarganya itu.
Kamu ini ada-ada saja dech..! Harus dihajar juga mereka itu.” Kata Bobby.
“Biarkanlah, Bob. Mungkin ini harus terjadi pada kehidupanku ini.” Kataku
sambil meneteskan air mata pula. “Mendengarkan aku dan Bobby seperti itu tampak
yang lainnya pada menggeleng-gelengkan kepala saja. “Mas Ricky. Sabar ya, Mas.”
Kata semuanya sambil pada memeluk aku pula. “Bang. Sabar, Bang. We love you.”
Kata Diaz. Dan kini tampak Budi hanya terlihat termenung sambil menatapku pula,
kepalanya digeleng-gelengkan juga, tampak hanya bicara bahasa isyarat saja,
lalu Budi menatap Fedro yang terlihat sedang termenung berfikir pula. “Ok. Ga
apa-apa. Lanjutin saja acara ini. Besok kita kan pada akan berpisah juga.
Tapi…..” Kataku ga kuat untuk bicaranya. Lalu aku menatap kesana kemari, namun
tampak Giri dan Niko kini tidak ada ditempat sementara yang lainnya pada telah
datang dan berkumpul pada sedang memperhatikanku pula, termasuk para petugas
laki-laki mapun perempuan yang terlihat sangat ramah itu.
“Tapi kenapa. Mas?” Tanya Ronald dan yang lainnya itu hampir bersamaan
juga. “Kalau ada yang ingin weekend ke Bandung, aku numpang ikut kesana.”
Kataku menunduk. Mau kemana Bandungnya, Mas? Tanya Bobby. “Mohon diantar ke
Kakaku di daerah Mengger, Bandung, di Jakarta sekarang aku dah ga ada tempat
singgah. Nanti akan aku forward alamatnya ke Hand Phone.” Kataku. “Oh. Ok, Mas
Ricky. Kebetulan nanti ada acara kesana sekalian besok kami juga ada acara di
Bandung sih. Mas ikut bersama kami aja.” Kata Bobby mengerdipkan kelopak bola
matanya itu. “Ok, nanti aku forward alamatnya. Terima kasih, Bob.” Kataku
sambil mentrasfer alamat Kakaku itu ke Hand Phone Bobby itu pula. “Koko Ricky,
saya sudah bilang sama Koko, jangan terlalu terlena dengan hal itu. Biarkan
saja mereka itu nanti juga ada karmanya. Koko sabar dan berfikirlah ke depan.
Bekerja keras demi pekerjaan itu lagi. Semoga mendapatkan penggantinya lagi
yang lebih baik dan tidak menyakiti Koko.” Kata Vincent.
“Iya, Ko Vinc. Thank you untuk support-nya.” Kataku, padahal hatiku
kesal dan ingin menghajar Hadi dan Roby itu namun aku tahan sekuatnya pula, aku
berusaha tersenyum pada mereka itu. Dan percakapan kini sambil membicarakan
kejadian malam kemaren itu pula; ternyata Giri menjadi babak belur dihajar oleh
Niko gara-gara Giri memperkosa aku berulang kali ini, dan Niko sendiri yang
cemburu buta harus berurusan dengan administrasi hotel itu karena terbukti
melakukan kekerasan disana, bahkan informasi yang aku dapatkan dari teman yang
lainnya ternyata Niko di skor di kantornya pula, sekarang masih dalam proses
dan masih sedang dikantor pula sehingga tidak dapat bergabung dalam acara itu
pula. Apakah betul atau tidak jika Niko di skor dalam kesatuannya itu, aku
tidak tahu pasti, yang jelas pada saat ini Niko tidak dapat hadir pula walau
dia telah mengetahuinya dan bahkan diundangnya pula. Lalu aku menatap Fedro
yang terlihat sedang berfikir serius dan dalam sekali.
=====o0o=====
Sex Party & Freesex
Para petugas yang pada memakai jubah itu juga pada membantunya pula
membuat unik dalam acara itu, dan wajah-wajahnya pada di make-up berwarna-warni
mengkilap sangat indah dan sangat menarik bagai tato berukiran seni klasik
juga, menambah ketampanan dan kecantikan para petugas berjubah dalam acara yang
misterius dan unik itu. Alunan musik semakin lama menjelang pagi, semakin hot
dan bergairah bagi yang sedang menikmatinya, terlihat mereka setelah makan
malam itu pada bergoyang juga penuh canda dan sukaria satu dengan yang lainnya.
Tepat pukul 01:00 WIB., Ronald berbicara pada semuanya. “Baik,
rekan-rekan semua. Acara kita akan segera dimulai. Silahkan pada melepaskan
pakaiannya dan memasuki ruangan ini.” Kata Ronald sambil mengarahkan ke arah
pintu yang tadi tertutup oleh gordeng berwarna merah tua pula, sama dengan
gordeng utamanya yang terlihat pada menutupi seluruh ruangan apartemen itu
pula. Tanpa menunggu lama lagi, kini Ronald, Vincent, Diaz, Budi, Bobby, Alex,
Adam, Marteen, Rendy, Rizal, Fedro dan beberapa teman Alex serta teman Adam
juga kini pada melepaskan pakaiannya itu. Tampak kini semua laki-laki Gay dan
Bisex juga Heterosexual itu terlihat pada bugil semuanya, membuat jantungku
berdetak juga menyaksikannya itu. Kemudian Ronald memandu paling dahulu
memasuki ruangan lainnya itu diikuti oleh yang lainnya termasuk aku sendiri
bersama Budi itu.
Sungguh sangat diluar dugaan, ketika kami pada memasuki ruangan dalam
itu, ternyata kami pada disambut oleh para petugas berjubah yang terdiri dari
laki-laki dan perempuan itu yang pada langsung menari dengan iringan music
dance remix seiring gayanya sangat indah luar biasa pula. Tampak para petugas
laki-laki dan perempuan rangkap dapat menari itu terlihat pada pintar menari
juga dan pada menyambut kami semua disambung dengan tarian erotic-nya itu pula.
Bahkan beberapa penari itu seperti telah diatur, ada yang pada mengambil
minuman beralkohol pula dan pada memberikan minuman itu sambil menari-nari
erotic-nya itu. Acara menari bersama para petugas berjubah itu sungguh unik
pula apalagi para petugas berjubah itu terlihat tampan-tampan dan cantik-cantik
pula.
Lagu demi lagu dalam musik, minuman demi minuman telah dilaluinya
bersama gaya dan cara manari itu seiring music dance remix serta musik stadium
mengantarkan kami itu. Kini semakin dihangatkan dengan tampilnya beberapa
perempuan cantik yang menari erotic dan Striptis di atas mini stage yang tersedia pula. Bukan hanya itu kini penari
erotic dan Striptis itu menari bersama Ular Emas yang terlihat kuning emas sebesar paha
penari itu sendiri. Menari bersama ular dan saling berciuman dengan ular juga
bahkan ularnya itu bagai sedang bercinta dengan para penari itu pula bahkan
ular-ularnya dihimpit oleh selangkangan para penari itu disertai adegan seperti
sedang bercinta dengan ular pula menambah heran dan kaget juga tegang
menyaksikan tarian ular itu karena para penarinya kini secara perlahan-lahan
pada melepaskan seluruh pakaiannya dan kini hanya memakai celana dalamnya saja.
Kemudian celana dalamnya kini malah pada dilepaskannya pula menambah
kaget dan herannya khawatir ular-ular yang sangat besar itu dapat masuk pada
daerah terlarang milik para penari itu. Yang membuat heran, ular-ular itu pada
dicapit dan dihimpit oleh vagina / selangkangan para penari itu bagai sedang
bercinta dengan ular kembali. Setelah cukup lama menari erotic dan Striptis dengan ular-ular emas dalam posisi tubuh pada telanjang bulat, kini
para penari itu memberikan ularnya pada yang lainnya dan kemudian memberikan
suatu isyarat pada para petugas berjubah yang lainnya itu diikuti para petugas
itu pada menghampirinya pula, tidak lama kemudian para petugas itu pada menari
bersama pula dengan para penari telanjang bulat itu sendiri dengan gayanya
sangat memukau dan sexy sekali.
Tampak terlihat menari erotic dan Striptis itu semakin seru, kini jubah-jubah para petugas laki-laki pada
dilepaskan oleh para penari perempuan, sementara para petugas perempuan yang
berjubah dan menari itu pada dilepaskan oleh para penari laki-laki pula. Dan
kini tampak terlihat para petugas itu ternyata pada telah memakai pakain menari
erotic dan Striptis itu pula, dan langsung pada menari erotic dan Striptis secara kompak bersamaan pula. Anehnya menari erotic dan Striptis itu dilengkapi dengan minuman dan dibalurkan pada tubuh para penari
perempuan itu lalu pada dijilatinnya pula. Disambung dengan para penari
laki-laki itu juga kini pakaiannya pada dilepaskan oleh para penari perempuan
itu hingga semua petugas laki-laki itu kini tampak pada telanjang pula.
Kini terlihat para petugas itu ternyata para Man Escort dan para Lady
Escort yang sangat professional dibidangnya pula. Mereka telah di booking oleh
Ronald dan teman-temannya itu untuk acara undangan khusus itu pula, dan tadi
sepertinya mereka pada bersandiwara sebagai petugas itu. Para Man Escort yang
jumlahnya sepuluh orang dan para Lady Escort sepuluh orang juga terlihat kompak
pula sepertinya sering bertemu dan latihan pula. Kini adegan menari Striptis dilanjutkan dengan adegan-adegan bagai sedang bercinta di atas
mini-stage itu pula, gayanya penuh pengkhayatan dan sangat energik juga. Tidak
lama kemudian kini semua atributnya pada dilepaskan semuanya dan kini semuanya
pada telanjang bulat menambah berdetaknya jantungku ini pula menyaksikan sosok
tubuh para Man Escort dan para Lady Escort yang pada sexy itu.
Dan kini aku juga digodain oleh Diaz sambil membelai-belai tubuhku tanpa
kecuali sehingga aku yang masih lemas dapat terangsang pula, dan yang mebuat
aku geli Diaz malah menjilati aku pula termasuk alat vitalku sehingga aku
semakin terangsang. Kini suasana semakin hot karena para Lady Escort dan Man
Escort menarinya semakin erotic bagai tak ada batasan pula bahkan seperti
sedang bercinta di atas mini-stage itu pula diikuti oleh yang lainnya sambil
pada bergoyang itu. Bersamaan dengan itu kini muncul seorang Lady Escort
diangkat di atas bahu para Man Escort yang menjemputnya itu, sambil berjalan
dan menari erotic, Lady Escort dan Man Escort itu pada melepaskan seluruh
pakaiannya hingga pada telanjang bulat. Kemudian rombongan itu pada bergabung
dengan yang lainnya dan menari bersama secara kompak bersamaan dalam tari
erotic-Striptis-nya itu pula. Dan setelah cukup lama menari bersama dengan rombongan
Ronald itu, kini para Lady Escort dan Man Escort itu pada merangkul rombongan
Ronald itu pula hingga mereka pada terangsang pula bahkan kini saling
peluk-memeluk satu dengan yang lainnya sementara music dance remix masih
berjalan terus sepertinya telah diprogram secara nonstop itu pula.
Dan, Oh My God, kini mereka saling berciuman secara terang-terangan
terbuka seperi itu bahkan mereka pada bercinta secara bersama pula. Sepertinya
mereka boleh memilih siapa saja yang disukainya dan boleh bercinta dengannya
pula. Ada laki-laki yang bercinta dengan laki-laki dan ada pula laki-laki
dengan perempuan itu juga sebaliknya perempuan dan perempuan pula. Para Man
Escort yang badannya tinggi-tinggi dan perutnya pada six-pack itu dan para Lady
Escort yang langsing tinggi juga cantik kini pada bercinta dengan rombongan
Ronald itu. Mereka bercinta dalam freesex dan gaya orgy itu seperti telah
terbiasa sekali, terlihat cara dan gayanya sangat luar biasa sekali. Aku juga
digodain oleh beberapa Man Escort namun aku tak berdaya dan tidak dapat bangun
juga karena memang sedang lemas, mereka hanya mencium dan menjilati tubuhku
saja termasuk beberapa Lady Escort itu sendiri secara bergiliran pula, yang
akhirnya mereka kembali lagi pada rombongan Ronald itu lagi. Kini hanya
terdengar music dan desah serta erangan para Gay dan Bisex juga Man Escort
serta para Lady Escort termasuk para heterosexual itu sendiri dalam berselancar
cinta secara masal di Sex Party dan freesex ini.
Aku menyaksikan bercinta laki-laki dengan laki-laki dan laki-laki dengan
perempuan juga perempuan dengan perempuan dan yang Bisex, selain bercinta
dengan perempuan bercinta dengan laki-laki pula. Aku terangsang namun tak dapat
melakukan apa-apa kecuali ketika digodain oleh mereka itu, namun aku hanya diam
dan seperti orang yang sedang pasrah saja sehingga mereka yang menggodain aku
dapat semuasnya menjilati seluruh tubuhku ini termasuk alat vitalku ini dalam
serba salahku ini yang bagaikan pasrah saja. Dan kadang-kadang aku meminum
minuman beralkohol lagi daripada tidak ada kawan sementara yang lainnya masih
sedang asyik berpestapora penuh dengan pesta sex. Dan aku juga dapat
menyaksikan teman-teman Alex dan teman-teman Adam sebagian ada yang Gay dan
Bisex juga ada yang heterosexual sebebasnya berganti-ganti pasangan para Lady
Escort dan para Man Escort itu sendiri.
Yang paling heboh kini Lady Ecort yang paling cantik dan paling sexy
serta langsing itu seperti pada diperebutkan pula. Dan Lady Escort juga tidak
menolaknya mungkin karena telah di booking pada malam itu, dia hanya melayani
secara bergiliran juga, uniknya bercinta sambil berdiri kadang-kadang tiduran
di atas meja yang diangkat ke atas mini-stage itu pula. Berbagai gaya bercinta
kini aku dapat menyaksikannya secara langsung didepan mata pula. Desahan dan
erangan serta jeritan kenikmatan kini terdengar sangat jelas dan sepertinya
bebas sekali dalam kenikmatan masal seperti itu, dan bebas memilih ingin
bercinta dengan siapa saja ditempat itu. Bukan hanya itu kini ternyata para Man
Escort telah menyediakan tempat bercinta yang dapat diarak berkeliling pula,
bagai bercinta di atas papan melayang terbang dan mereka cuwek saja walau
bercinta diarak keliling ruangan itu disertai musik yang nonstop itu. Dan
bercinta secara diarak oleh para Man Escort yang pada telanjang bulat itu
secara bergiliran pula, silih berganti sesuai dengan seleranya masing-masing.
Terlihat pesta sex dalam freesex itu bebas sekali dan tidak ada yang mengganggu
atau memprotesnya hingga terlihat mereka pada lemas pula dalam kelelahan
bercinta berganti-ganti pasangan sesuai dengan pilihannya masing-masing itu
pula.
Budi sendiri hanya menatapku dan membelai-belai tubuhku sambil mencium
sayang pada bibirku ini dengan senyuman manisnya. “Abang sayang. Hati-hati
dijalan ya, Bang. Ma’af aku ga bisa temenin, aku harus berkemas juga, besok
pagi-pagi sekali aku harus flight ke Palembang. Abang tahu kan jadwalku ini.!?
I lave you, Bang.” Kata Budi mencium keningku juga dan tersenyum manis, lalu
mencium bibirku juga secara perlahan-lahan disaksikan oleh yang lainnya pula.
Aku hanya dapat manggut saja karena kini aku kini tidak dapat bicara lagi,
sekitar bibir dan wilayah pipi atau wajah pada bergetar dan rasanya tebal
sekali mungkin akibat pengaruh stress dan alcohol itu, aku hanya dapat
menggut-manggut saja bersama tetesan air mata kepedihan harus berpisah juga
dengan orang yang aku sayangi itu dan Budi sendiri akan menikah dua bulan lagi.
Aku sebetulnya kecewa telat bertemu dengan Budi itu, karena aku kurang begitu
suka dengan Niko itu yang kini tidak hadir pula, tapi secara fisik Niko juga
sexy dan tinggi juga, sering ke gym untuk membentuk tubuhnya itu. Dan yang
lainnya yang tidak ada ikut hanya berpesan saja agar hati-hati dijalan sambil
pada melambaikan tangan-tangannya pula sebagai tanda isyarat pula. Mereka melanujutkan
acaranya kembali dan kami beragkat ke Bandung, Jawa Barat bersama mobil yang
lainnya menembus melalui fly-over yang terdekat dengan Mall Of Indonesia itu
yang akan tembus ke jalan bebas hambatan menuju ke Bandung itu.
Deru bunyi suara mobil Land Rover terdengar sangat keras dan empuk
mungkin karena mobil baru. Kini Bobby berbicara pada drivernya agar
mengaktifkan musik yang nonstop dan bahkan terdengar berpesan pada drivernya
itu jika menjalankan mobilnya pelan-pelan saja karena acara di Bandung itu
ternyata pada sore harinya. Dan kini mobil Land Rover menembus fly-over,
jalannya pelan sekali, terdengar Bobby mengobrol dengan yang lainnya pula
sambil tetap meminum minuman kembali sepertinya mereka pada membawa stok
minuman beralkohol pula. Namun belum juga beranjak lama, kini tangan Bobby
meraba-raba tubuhku yang hanya diselimuti oleh jubah itu sementara para Man
Escort dan Lady Escort terdengar mengobrol dengan yang lainnya juga. Aku hanya
terdiam karena aku kini tidak dapat berbicara, sekitar wilayah wajah dan mulut
rasanya tebal dan beku bagai telah disuntik obat bius, dan tidak ada rasa juga,
rasanya dingin dan membata seperti itu.
Dan kini Bobby meraba-raba alat vitalku hingga bangun juga, bahkan Bobby
nekad sambil berbicara dekat kupingku ini. “Bang. Penis Abang besar sekali. I
love it. Aku cium ya dan Abang diam saja. Nikmat loh, Bang.” Kata Bobby. Tapi
aku tidak menjawabnya karena sedang galau dan serba salah, juga tidak dapat
konsentrasi juga. Mendapati aku diam saja, kini Bobby meraba-raba alat vitalku
kembali sekaligus melepaskan jubah selimutku itu disaksikan oleh yang lainnya
pula, lalu Bobby mencium dan menjilat-jilat alat vitalku hingga bangun terus.
=====o0o=====
Tester
Random – Bersambung Summary 9
(Selengkapnya di buku bersangkutan)
=====o0o=====