Summary 6

SAMBUNGAN RANGKUMAN / SUMMARY 5

DVD Gay/Bisex berlangsung di televisi dan aku juga bercinta dengan Harry penuh dengan pengkhayatan pula karena Harry itu ganteng sekali. Kini aku terbuai dalam bercinta dengan Harry yang sosok laki-laki manly sekali yang aku sukai pula. Harry menciumiku pula dan aku juga bagaikan menyerahkan tubuhku pada Harry hingga Harry oral sepuasnya pula termasuk pada alat vitalku ini membuatku teringat terus hinga kini. Aku juga atas saran Harry, berfikir jika Hadi dapat melakukannya selingkuh, mengapa aku tidak mencobanya pula, sebatas jika ada orang yang ingin bercinta denganku ini. Kini aku dan Harry bercinta di dasarkan pada suka sama suka saja sesama Bisexual. Hadi bisa membagi asmara dan rasa cinta berulang kali dengan laki-laki idaman yang lain, mengapa aku juga tidak melakukannya jika memang ada pasangannya apalagi sosok Harry itu type laki-laki yang aku sukai juga bahkan sosok Harry itu jauh lebih tampan dan manly dari sosok Hadi itu sendiri, sayangnya Hadi pernah bilang jika sosok Harry yang ganteng itu masih kategori brondong.!
Kini ketika aku bercinta dengan Harry, anehnya Harry juga menyelingi mengoperasikan Hand-Phone-nya mencari beberapa musik dan sekaligus mendengarkan Love Songs koleksi lagu-lagu-nya  yang hampir sama koleksinya dengaku juga, diantaranya adalah “Asmara” menambah emosi balas dendamku semakin mengebu-gebu pula kini pada sosok Harry:
=====o0o=====

ASMARA
(Lirik lagu Asmara – Novia Kolovaking )

Sendiri.... Kukemas air mata di pipi, Tak percaya 'ku yang t'lah terjadi
Cintamu kini telah terbagi, Haruskah cinta aku akhiri, Hanya sampai di sini
Tak mungkin.... Aku berpaling dan menyudahi
Tercabik hati ingin meronta, Jangan kau rejam gairah yang ada
Haruskah aku mengemis cinta, Untuk menghilangkan duka
Asmara... Kemana lagi akan kucari
Siapa yang 'kan mengusir sepi, Disaat 'ku sendiri
Asmara... Mungkinkah kau sampaikan padanya
Walau hatiku penuh derita, Aku masih s'lalu cinta
Jangan kau rejam gairah yang ada
Haruskah aku mengemis cinta, Untuk menghilangkan duka
Asmara... Kemana lagi akan kucari
Siapa yang 'kan mengusir sepi, Disaat 'ku sendiri
Asmara... Mungkinkah kau sampaikan padanya
Walau hatiku penuh derita, Aku masih s'lalu cinta
Aku masih s'lalu cinta…….
=====o0o=====
            Tepat pada waktunya, dengan nekadnya Hadi, jalan-jalan honeymoon ke Singapore dan Malaysia dengan Robby. Juga pulangnya mampir ke Jakarta seperti yang akan pamer pula mebawa Roby Kirana itu membuatku heran dan kaget, apa masksudnya Hadi itu. Seperti orang yang tidak memiliki perasaan dan hati berfikir sehat jika aku ini seorang pacarnya juga. Hadi menginap dirumah utama bersama Roby sementara aku di rumah kontrakan yang kini hanya terhalangi tiga atap saja. Aku kesal ditahan pada Hadi itu dan aku memohon berbicara dengan mereka semua, dan Hadi bersedia bicara di kawasan TMII (Taman Mini Indonesia Indah) saja agar aman dan terlepas dari pendengaran umum sekaligus mengajak jalan-jalan Roby itu di TMII juga. Dengan hati panas dan kesal juga sabar aku masih dapat berbicara dengan Hadi dan Roby itu sambil berusaha mengendalikan mental dan jiwaku ini. “Di. Sebetulnya gubungan kita ini gimana sih? Ko menjadi begini?” Kataku super sabar dihadapan mereka. Padahal hati telah terbakar pula dan ingin rasanya menghajar mereka semua namun aku menahannya sekuat mentalku ini. Tampak Hadi dan Roby terlihat serba salah dan saling pandang memandang satu dengan yang lainnya. Sepertinya Hadi tidak dapat menjawabnya dan aku yakin sekali jika Hadi pasti membohongi Roby itu ketika propose ingin menjadi pacarnya itu.
          Lalu aku menatap Robby. “Robby. Kamu tahu ga pacar Hadi itu siapa?” Tanyaku, tapi pada tidak menjawabnya pula terlihat mereka pada salah tingkah. “Di. Robby. Kan gue udah bilang jika loe pacaran di Kalimantan itu hanya sebatas selama loe tugas di Kalimantan aja. Loe kan udah janji, Di. Kamu Roby juga jangan ganggu aku, karena aku yang dimadu juga ga mengganggu kalian. Kita saling tidak menggangu. Sebelum Hadi pergi ke Kalimantan itu telah sepakat dan pada berjanji kita sama-sama pacaran. Dan gue ngasih izin selama Hadi tugas di Kalimantan aja, dan setelah kembali ke Jakarta bersama gue lagi. Gue tidak mengganggu kalian kan? Maksudnya kalian harus pada tahu diri. Kalian punya hati dan perasaan kan.!?” Kataku membuat mereka pada terperanjat pula. “Ma’af, Mas Rickky orang mana?” Tanya Roby salah tingkah dan serba salah. “Gue orang Jawa Barat.” Kataku. “Ya, saya ga tahu kalau kenyataanya jadi gini, Mas Ricky. Tadinya saya mau silaturahmi ke Jakarta.” Kata Robby.
          Aku menatap Hadi yang terlihat salah tingkah. “Iya. Silaturahmi apaan? Hadi itu pacar saya. Dan sebetulnya saya ga mau ribut gara-gara laki-laki. Apalagi memperebutkan laki-laki. Tapi hati dan perasaan saya serasa dihina oleh Hadi ini. Bukan hanya cuman laki-laki, masalahnya aku telah kehilangan pekerjaan juga gara-gara dampak terbujuk rayu Hadi ini. Kalau cuman gara-gara pacaran saja aku tidak masalah walau memang Hadi BF-nya ribuan juga sesuai dengan keinginannya dan fahamnya itu.” Kataku. “Ya, saya juga ga mau ribut gara-gara laki-laki, Mas. Mas sendiri kenapa di add di Facebook hanya sebentar saja, padahal tadinya saya ingin berkawan melalui facebook juga. Sama dengan Danny dan lain-lainnya itu. Tapi setelah dikonfirmasi tiga hari kemudian malah Mas mem-blok-nya.” Kata Robby. “Robby. Jika kamu punya hati dan perasaan, bagaimana mungkin kamu dapat meng-konfirmed pacarnya orang yang kamu pacarin. Tentunya akan sakit hati bukan? Apa bedanya dengan aku ini, aku akhirnya mem-blok kamu karena aku tahu jika kamu itu cowok yang berpacaran dengan pacar aku juga seperti yang merebut pacar orang. Aku ga mau ribut di facebook gara-gara laki-laki itu. Hati ini serasa dihina dan dilecehkan oleh Hadi dan kamu ini. Itulah mengapa aku blok kamu aja karea aku sakit hati dan kesal. Tapi sepertinya kalian ini happy-happy aja dan leluasa dapat berjalan-jalan honeymoon juga ke Singapore dan Malaysia, dan akan silatutahmi ke Jakarta. Silaturahmi apaan? Hadi itu pacar saya dan saya selamaini tinggal dirumahnya Hadi. Silaturahmi sama yang tua.?” Kataku. Kini Hadi dan Roby terlihat semakin salah tingkah saja.
“Mas Ricky. Aku mau bersilaturahmi dikenalin sama keluarganya Hadi di Jakarta khususnya pada Ibunya Hadi itu. Saya dan Hadi udah menjalin hubungan di Kalimantan lama juga.” Kata Robby. Mendengar jata-kata itu aku semakin kesal ditahan sekuatnya. “Oh. Udah gue jelasin tapi tetap membandel ya. SMS dan bahasa isyarat yang lainnya pada kagak mempan juga. Katanya kalian pada beredukasi. Kalian sepertinya berbahagia di atas penderitaan orang lain ya. Sepertinya kalian pada ga punya hati dan perasaan. Bagaimana jika hal itu menimpa diri kalian semua?” Kataku masih sabar. Sejenak Hadi dan Roby hanya menarik nafas panjang sambil tatap menatap satu dengan yang lainnya.
“Aku hanya ikut Hadi saja, Mas.!” Kata Robby. Seperti aku telah tebak sebelumnya pasti ini hasil rekayasa Hadi itu. Aku menatap Hadi yang serba salah pula. “Rick. Udahlah. Kita bicarakan dirumah aja. Ga enak sama orang-orang disini.” Kata Hadi. “Di. Loe yang rekayasa semuanya. Gue yakin itu. Ini semua gara-gara loe, Di. Loe memang keterlaluan.! Mana janji loe itu.!??” Kataku kesal. Kini Hadi dan Roby saling tatap menatap satu dengan yang lainnya. Rasanya aku ingin menghajar mereka tapi aku menahannya sekuat semampuku ini. Aku sepertinya kini sedang diuji mental dan jiwaku juga kesabaranku ini.
=====o0o=====

Terusir Kekasih Hypersex Gay

TIADA LAGI
(Lirik lagu Tiada Lagi – Mayangsari )

Sia-sia sudah kita jalin cinta, Bila hati selalu berbeda
Sampai kapan
lagi ku harus menahan, Rasa kecewa di dalam dada, Seandaianya bisa masih bersatu
Tak mungkin kan menyatu, Walau masih ada sisa cinta, Biarkan saja berakhir sampai di sini
Tiada lagi yang ku harapkan
, Tiada lagi yang ku impikan
Biar aku sendiri tanpa dirimu
, Tiada lagi kata cintaku, Takkan lagi ku bersamamu
Biar ku simpan semua kenangan ku bersamamu...
Sampai kapan lagi ku harus menahan
, Rasa kecewa di dalam dada, Seandaianya bisa masih bersatu
Tak mungkin kan menyatu
, Walau masih ada sisa cinta, Biarkan saja berakhir sampai di sini
Tiada lagi yang ku harapkan, Tiada lagi yang ku impikan
Biar aku sendiri tanpa dirimu
, Tiada lagi kata cintaku, Takkan lagi ku bersamamu
Biar ku simpan semua kenangan ku bersamamu...
Tiada lagi yang ku harapkan, Tiada lagi yang ku impikan
Biar aku sendiri tanpa dirimu
, Tiada lagi kata cintaku, Takkan lagi ku bersamamu
Biar ku simpan semua kenangan ku bersamamu...
=====o0o=====

Dengan hati dan perasaan sangat sakit, aku tetap membawa semua pakaianku ke rumah kontrakan milik Sari itu kembali dengan cara dibawa secara acak dan berantakan dan tidak memakai alas atau wadah, dan aku menahan rasa sakit hati namun terlihat dalam ekspresiku dan perbuatanku ini hingga salah seorang keluarganya yang dari Tasikmalaya, Jawa Barat, menyaksikanku seperti itu kaget dan heran sambil bertanya pula. “Loh, Oom Ricky. Kenapa? Apa yang terjadi denganmu ini, Mas? Orang-orang dari daerah dan Jawa pada datang, ini Oom malah pergi membawa pakaian seperti itu? Ada apa?” Tanya salah seorang keluarga Hadi itu heran. “Ga apa-apa, tante. Aku mau ke kontrakan saja.” Kataku menahan tangis dan sakit hati.
“Ada apa, Oom Ricky. Ko aneh-aneh saja sih? Bawa pakaiannya pakai wadah.” Kata keluarga Hadi itu. “Ga usah, ga apa-apa tante.” Kataku sambil tetap melangkah dan ingin rasanya menjerit sekuatnya sekaligus menghajar Hadi dan Roby Kirana itu. “Oom Ricky kenapa sih?” Katanya ingin tahu. “Ga apa-apa, tante. Santai saja. Nanti aku kemari lagi.” Kataku sambil melangkah dan terus memasuki kontrakan itu. Dan ketika aku masuk ke rumah kontrakan itu aku langsung menangis rasanya hati ini sakit sekali oleh sikap Hadi itu. Aku telah tidak dianggap lagi oleh Hadi yang Hypersex Gay sejak kecil itu dan kini telah ada Roby yang merebut pacarku itu pula secara terang-terangan. Aku masih dapat menahan emosi dan kesabaran, jika kejadian seperti ini terjadi dengan orang lain aku yakin sekali Hadi dan Roby telah babak belur semua tubuhnya itu, bahkan mungkin telah tinggal nama saja.
Yang mebuat aku kaget lagi ketika kami diberi seragam batik untuk para panitia khitanan itu, Hadi dan Roby juga diberi pula, sepertinya telah berkoordinasi dengan Hadi pula hingga Roby sendiri diberi seragam itu. Aku masih sabar menghadapi tekan mental jiwaku ini sambil tetap melanjutkan pekerjaan hingga selama hari berlangsungnya acara khitanan itu aku menjadi cameraman untuk dokumentasinya, Hadi dan Roby hanya diam dan duduk saja bahkan mengobrol berduaan saja, makan juga secara berduaan saja, bahkan tanpa sadarnya satu piring berduaan di meja khusus itu pula. Aku kesal memperhatikannnya ingin rasanya Camera Handycam dan trhreefold-nya itu dibantignya ke wajah Hadi dan Roby tapi aku tetap menahan mentalku itu. Dan semua orang termasuk keluarganya tidak mengetahui dan pada tidak menyadarinya jika diantara kami ini ada terjalin hubungan intin sesama jenis hingga sedang perang dingin terjadi seperti itu karena selingkuhan Hadi yang Hypersex Gay itu berada satu atap pula.
Bersamaan dengan itu Oom juga datang untuk membantu acara itu agar tidak hujan dan banyak tamu undangan pula. Dan kini Oom bertanya padaku secara perlahan-lahan. “ Mas Ricky. Itu yang disebut Roby Kirana itu?” Tanya Oom. “Ya, Oom. Dia pacar selingkuhannya Hadi itu. Dia yang merebut Hadi itu sekarang ini. Hadi juga sepertinya ingkar janji kembali pada saya, Oom.” Kataku karena terlanjur Oom tahu masalahnya. “Oh. Sabar, Mas Ricky. Sekarang urusan hajatan dulu. Nanti Oom bantu ya. Mas tenang saja.” Kata Oom meyakinkanku. “Saya kesal ditahan, Oom. Ingin rasanya hajar mereka semua. Hati dan perasaan ini panas dan sebel.!” Kataku. “Sabar, Mas Ricky. Oom juga ga suka dengan Roby itu. Terlihat sombong dan angkuh. Oom melihat dikeningnya ada sesuatu, Mas Ricky.” Kata Oom itu. “Mungkin lebih kali Oom. Dia kan cucunya kepala suku di Dayak itu. Minta apa saja bisa langsung dikasih oleh kepala suku itu yang pintar juga di Kalimantan-nya itu.” Kataku. “Iya. Sabar ya Mas. Sampean terlihat sekali ada masalah itu.” Kata Oom menasehatiku. 
Ketika aku menjadi panitia khitanan Lingga itu aku tidak banyak bicara dan malas makan juga malas minum karena mental jiwaku kini seperti yang sedang diasah oleh Hadi dan keluarganya juga Roby itu. Aku berfikir benar-benar Hadi yang Hypersex Gay itu telah mendarah daging, sepertinya dia bukan gara-gara telah bercinta dengan Iman itu ketika masih kecil namun sepertinya memang Hadi dilahirkan seperti sosok laki-laki Gypersex Gay itu saja karena tidak ada perubahan sedikitpun malah kini secara terang-terangan selingkuhannya orang Kalimantan Timur itu dibawanya dari Kalimantan Timur dan diperkenalkan pada Ibunya sendiri jika dirinya itu telah memiliki pasangan hidup baru membuatku kesal serasa dipermainkan oleh Hadi itu. Atau mungkin juga Hadi itu ada darah tetesan dari Almarhum Ayahnya itu yang sempat selingkuh dan memiliki anak perempuan dan kini telah gadis itu anak dari isteri selingkuhannya itu.
Karena aku kesal, selesai acara hajatan itu aku langsung ke kamar kontrakan dan aku menyendiri saja seorang diri walau hati panas dan sakit hati bagai disayat-sayat silet tajam dan beracun itu. Dan ketika aku menyendiri di kontrakan, Hadi tetap bersama Roby bagaikan berbulan madu, bahkan membeli mobil pula karena Hadi meminjam uang dari Roby itu, serasa diingatkan oleh pernyataan Oom ada yang akan membeli mobil duluan diantara kami bertiga ini, sementara Ervando kini telah memiliki BF baru orang kaya itu sesuai dengan targetnya itu pula.
Semenjak acara itu aku tidak makan dan tidak minum, juga ketika aku ke kontrakan tidak makan dan tidak minum pula karena kesalnya itu, rasa makanan itu menjadi telah hilang rasa dan tidak nafsu makan pula. Dan dikontrakan aku tidak keluar sama sekali selama lima hari lima malam, tidak makan dan tidak minum juga hingga badanku lemas sekali. Aku sabar dan super sabar hanya menangis rasanya sakit hati dan perasaan ini dan tidak ada orang yang mengetahuiku ini.
Karena dalam lima hari lima malam aku sukar dihubungi baik melalui Hand Phone dan ke rumah kontrakan, tiba-tiba pintu kontrakan itu dibobolnya oleh keluarga Hadi dan Roby itu juga hingga pintu kontrakan itu terpelanting ke dalam. Namun  aku tetap berbaring karena tidak dapat bangun dan berdiri sebab badanku lemas sekali, tidak makan dan tidak minum selama lima hari lima malam itu. Dan mereka dapat menyaksikanku yang berusaha merangkak ke depan pintu. Aku dapat menyaksikan mereka dalam tatapan benci padaku namun aku tetap diam karena tidak dapat bangkit pula. Dan Hadi terlihat memberikan isyarat pada mereka agar mereka pada pulang dulu untuk menghindarkan Hadi dan aku juga. Aku sendiri berusaha meragkak menghadapi Hadi yang petangtang-petengteng so kuasa, lalu duduk diruang tamu depan aku yang masih merayap. Karena aku kesal tidak tertahan lalu aku tampar-tampar pipi Hadi itu sekuat tenagaku pula. “MANA JANJI LOE KEMBALI KE GUE!? MANA JANJI KESETIAAN LOE ITU.!” Kataku, tapi aku malah brak..! terjatuh kembali.
=====o0o=====

Jatuh Sakit Mental
Aku jatuh sakit mental akibat tekanan mental dari sikap Hadi dan semuanya itu dalam batas kesabaran seorang teraniyaya seperti ini. Dan lama-lama setelah sekian jam kemudian aku mulai dapat sadar, namun aku tidak dapat berbicara sepatah katapun pula bibirnya kejang-kejang, namun pendengaran masih normal. Pertanyaan-pertanyaan hanya dapat dilakukan oleh tanganku yang berusaha dapat memegang pencil untuk menawab pertanyaan Hadi karena aku tidak dapat berbicara menggunakan mulutku ini. Akhirnya Hadi berbicara. “Iya, Rick. Gue akan kembali lagi sama loe.” Kata Hadi berbisik. Aku hanya terdiam dalam serba salah mendengar dan cara Hadi seperti itu. Aku tidak percaya karena Roby berada di kamarnya sendiri. Aku hanya dapat meneteskan air mata saja dalam sakit mental itu.
          Baru saja aku sadar dan dapat merayap dan melangkah. Aku ke kamar Hadi kembali walau ada Roby itu. Aku hanya termenung mengapa nasibku menjadi seperti ini. tapi tiba-tiba Hadi berbicara lagi. “Sorry, Rick. Semuanaya udah gue atur. Gue juga udah bilang sama Ibu tentang Roby itu.” Kata Hadi menatapku penuh dengan kebencian. Aku teringat dengan katakata Oom, Hadi itu telah merekayasa semuanya, ternyata kata-kata Oom itu benar sekali, termasuk membeli mobil itu. Tapi kini aku menjadi kesal pada Oom itu juga karena janjinya menolongku sepertinya bohong pula, kenyataanya kini Hadi datang dan kembali ke Jakarta sama Roby juga. Aku teringat dengan kata-kata Oom yang selalu mengatakan “akal-akalan Oom” itu saja dan sering terucap seperti itu.
Dan karena aku tidak kuat menahan mental dan jiwaku ini, sore hari menjelang Hadi pulang kerja aku kejang-kejang kembali dan mulutku tidak dapat berbicara sepatah katapun, tangan dan seluruh tubuhku kaku semuanya. Dan Hadi juga pulang kerja mengdapati aku sedang sakit kejang-kejang, tapi secara hati dan perasaan aku masih dapat merasakannya bahkan pendengaranpun masih normal, bedanya mulut tidak dapat berbicara dan tangan kaku sekali seperti waktu aku pingsan itu. “ANTARIN SAJA KE KELUARGANYA DI KUNINGAN ITU ATAU DISURUH JEMPUT SAJA.! LAGIPULA UDAH NUMPANG MEREPOTKAN JUGA..!” Kata Kakaknya yang satunya bernama Suwartini yang selalu dipanggil Warti itu. “DIA PUNYA MASALAH HINGGA DIFIKIRIN KE DALAM SAMPAI SEPERTI ITU. AKIBATNYA SAKIT GINI. NANTI JUGA REDA KEMBALI..!” Kata Sari sambil berlalu. Dan kini semua anggota keluarga Hadi menyarankan agar aku dipulangkan saja. Aku menyaksikan orang-orang itu seperti pada habis manis sepah dibuang pula. Aku juga disana dapat membantu jika pekerjaan yang dapat dilakukan oleh laki-laki juga tapi kini malah mereka pada sinis begitu pula. Lagipula aku tinggal disana juga bukan keinginanku tapi atas dasar kesepakatan antara aku dan Hadi itu sebagai pasangan kekasih Gay-Bisex yang kini berbelot faham pada Roby Kirana itu.
          Lalu Hadi mengambil Hand Phone-ku mencarai nomor Had Phone adikku; Sonnie itu tapi tidak didapatkannya karena memang sedang tidak disimpan di Hand Phone-ku itu. Tapi malah Hadi menghubungi Oom itu dan berbicara. “Oom. Mohon ma’af, Ricky sakit kejang-kejang dan tidak dapat bicara. Bagaimana caranya nih Oom?” Tanya Hadi dan Hand Phone-nya memakai loud speaker pula hingga dapat terdengar oleh semuanya termasuk aku pula. “Biasa, Mas Hadi. Dia butuh perhatian. Ngerti kan maksudnya.!?” Kata Oom itu terdengar jelas sekali membuatku kaget pula mendengar kata-kata dari Oom itu sepertinya Hadi juga sering berkonsultasi tentang itu padanya, namun aku tidak dapat berbuat apa-apa karena sedang kejang-kejang menahan stress dan sakit hati akibat sabar ditahan-tahan itu, mulut juga memang tidak dapat berbicara sepatah katapun. Aku jika saja dapat berdiri dan berbicara akan berbicara juga namun apa daya tangan tak sampai dan hanya kejang-kejang dan dapat mendengar segala yang dapat berbunyi dan melihat apa yang dapat dilihat walau aku sedang sakit kejang-kejang seperti itu.
Oom kira aku tidak dapat mendengarnya dari bahasa isyarat seperti itu. Padahal Hand Phone Hadi loud speaker dan dapat terdengar oleh semuanya itu. Aku sendiri jika diminta tolong oleh Oom dan yang lainnya untuk keperluan Hadi dan keluarganya aku tidak pernah menolaknya, kini pada sebaliknya.
          Daripada aku beristirahat dikamar Hadi karena ada Robby, akhirnya aku beristirahat ditengah rumah itu. Tapi bersamaan dengan itu Ibu Sutiariyah menghampiriku yang sedang masih sakit dan merenung, sambil berbicara. “Mas Ricky. Ibu faham sama Mas Ricky. Kecewa dan sakit hati sama anak Ibu, Supri itu. Sampai kapan Mas akan seperti ini? Ibu juga pernah disakiti oleh Alamrhum Bapaknya Hadi tapi Ibu dapat selesai juga.” Kata Ibu Sutiariyah itu membuatku kaget pula ditanya seperti itu, sepertinya mereka itu pada tidak memiliki hati dan perasaan, dan pada tidak mengetahui hati dan perasaan aku ini sedang berkecamuk menahan rasa sabar agar tidak emosional, supaya tidak terjadi amarah sehingga tidak terjadi bertikai antara aku, Hadi dan Roby itu. Aku hanya terdiam dan meneteskan air mata kesedihan dan kepedihan hati sambil menahan tekanan mental jiwaku ini. Bagaimana mungkin Hadi itu yang selalu berjanji kembali kepadaku namun selalu ingkar janji terus dan selingkuhannya kini ada dikamarnya itu pula satu kamar setiap hari dan tentunya bercinta juga setiap hari juga. Kini aku hanya menarik nafas panjang sepertinya aku sedang disorot pula oleh mereka itu, yang semuanya itu telah diatur dan direkayasa oleh Hadi itu sendiri. Aku berfikir Hadi itu sama dengan Almarhum Ayahnya itu, bedanya Hadi Hypersex Gay sejak kecil itu.
          Karena aku kesal dan menahan hati juga perasaan akibat tekanan sikap dan mental itu, aku secara berangsur-angsur melangkah ke kontrakan sambil membawa tongkat alat bantu berjalanku ini. Aku menangis seorang diri dikontrakan itu rasanya hati dan perasaan ini sakit dan pedih sekali.
“Oom, namanya hati dan perasaan cinta itu ga bisa dibohongi. Juga namanya cinta itu ga bisa dipaksakan, kecuali orang-orang yang hanya mebutuhkan sex saja. Saya tidak, saya setia, Oom. Tapi saya malah diperlakukan seperti ini. Oom udah tahu kan sejarah hidup saya ini. Sekarang saya stress dan mental saya ini drop sekali, sama seperti orang gila. Saya juga baru sadar jika saya ini menjadi gila seperti ini, dan saya baru tahu rasanya penyakit mental itu seperti ini, LING-LUNG TAK KARUAN, OOM.! Teman ini juga menemani saya baik di kontrakan maupun saya yang ke hotelnya dia itu. Bisa dibayangkan, sejak kepergian dia ke Kalimantan saya sendiri sering kemari dan membantunya agar dia dapat kembali lagi ke Jakarta termasuk kembali pada saya tapi kenyataannya begini. Saya benar-benar kesal sama Hadi dan Roby itu.” Kataku. “Magic Roby itu kuat, Mas Ricky.” Kata Oom. “Ya. Dia cucunya kepala suku dayak. Pasti sebelum ke Jakarta telah diberi mantra-mantra dulu, Oom. Sekaligus menundukkan Hadi dan keluarganya karena dia juga di Jakarta ga ada tempat tinggal. Ini hanya numpang di teman padahal didalamnya kumpul kebo sesama laki-laki juga.” Kataku. “Sudahlah Mas. Sabar.” Kata Oom membuatku kesal titahan pula.
“Sabar sejak dari dulu saya sabar, Oom. Sekarang hati ini rasanya ingin meledak saja. Mental saya drop dan fikiran saya menjadi kacau ling-lung begini. Ga bisa konsentrasi berfikir juga. Saya juga sakit di kontrakan ga ada yang mengetahuinya, Hadi sendiri udah lupa, dia selalu dengan Roby saja. Saya sakit ling-lung dan mental seperti ini baru kali ini. Saya ga terima dengan keputusan dan cara Hadi itu memperlakukan saya seperti ini. Saya jadi ling-lung gini, lebih baik mati saja kali. Orang bisa seenanknya dan tega banget seperti itu.” Kataku kesal. “Ya Mas Ricky. Oom juga bingung jadinya. Semula Oom berusaha agar Mas banyak temannya. Oom juga pernah berfikir jika Mas juga mati, ya ga apa-apa juga. Tapi…..” Kata Oom tidak dilanjutkan sepertinya ada yang akan disampaikan namun berat hati untuk dapat mengatakannya. Oom mengatakan hal itu saja membuatku kaget dan tidak menyagka jika Oom itu juga ternyata mengatakan hal yang seperti itu pula. Hati aku sebetulnya terperanjat namun akut tahan pula, ternyata Oom itu juga berkiblat pada Hadi dan keluarganya itu. Kini aku bagaikan ditampar pula oleh Oom itu juga. “Ya, Oom. Oom pernah mengatakan segalanya akal-akalan Oom juga kan? Oom juga pernah mengatakan pada saya jika Oom ini dalangnya kan?” Kataku kesal ditahan juga kini segalanya semakin terkuak juga. Dan kini sejenak pada terhenti, teman Orang Singapore itu masih setia menunggu kami ini disampingku sambil menonton Televisi dan kadang-kadang menyimaknya namun tidak dapat mengetahuinya tentang itu karena dia berbicara Bahasa Inggris.
=====o0o=====

Dokter Bercinta Dengan Pasiennya
Sejenak aku termenung dan berfikir karena memang dada hingga perutku memang pada berbulu, sama dengan tubuh Rendy blasteran Arab-Indonesia itu pula. Kini aku menjadi serba salah bagaimana dengan Dwinovian  yang mencintai aku ini juga. Lalu aku berbicara berpura-pura tidak bingung juga. “Aku sakit ling-lung jiwa, Radith. Mana ada yang mau sama orang sakit ling-lung gila seperti ini. Sekarang aku lemas dan sukar untuk bangun, Radith. Mental jiwaku seperti dibrak-abrik oleh Hadi dan lain-ainnya itu hingga seperti ini pula.” Kataku. “Masalah sakit kan aku yang akan merawatnya Mas-ku.” Kata Radith. “Iya, Dek.” Kataku serba salah. Dan karena aku tak ingin Radith sakit hati dan kecewa juga olehku, aku berusaha meraba-raba tangan Radith itu dibalas dengan rabaan dan belaian Radith pula sementara Video Gay/Bisex yang di-on-kan oleh Radith tadi masih berjalan dilaptopku itu. Radith juga secara berangsur-angsur kini memeluk tubuhku yang masih berbaring ditempat tidur ini.
Tampak juga Radith itu sayang padaku dan membelai-belaiku penuh dengan kasih sayang. Radith yang tampan dan menarik itu juga kini secara perlahan-lahan mencium bibirku secara penuh dengan perasaan dan pengkhayatan, bahkan dilanjutkan dengan membuka bajunya pula. Dan aku juga menjadi terangsang kembali walau masih sedang sakit mental dan hanya berbaring namun urusan hati dan perasaan tetap saja terangsang pula dengan sentuhan-sentuhan tangan dokter Radith itu. Dengan penuh pengkhayatan, Radith menciumi tubuhku dan aku sendiri bagaikan menjadi pasrah pula pada Radith itu, tidak mengatakannya jika Dwinovian juga menyukaiku pula, khawatir akan terjadi ribut diantara teman juga.
Akhirnya pada malam itu juga terjadi bercinta dengan Radith setelah pintu kamar dikunci karena Radith akan menemani aku pada malam itu juga. Aku sendiri tidak mengerti mengapa aku suka dengan dokter Radith itu yang tampak baik sekali padaku ini. Ciumannya sungguh sangat luar biasa dan aku juga hingga mengatakan padanya “Ciuman Adek sangat luar biasa. Aku baru dapat berciuman lama sekali dan dapat merasakannya berbeda dengan Hadi itu.” Kataku. “Ah, Mas bisa saja. Mas-ku, aku Bott. Mas sedang lemas, diam saja ya, Mas-ku sayang.” Kata Radith sambil tetap menggauliku ini, lalu membuka dan melepaskan semua pakaianku ini hingga aku benar-benar telanjang bulat. Dan kini dokter itu berselancar cinta di atas ranjang dalam dunia Gay/Bisex itu pula. sepertinya Radith juga puas dan senang bercinta denganku hingga dapat beberapa kali. Aku yang berbaring hanya pasrah akan apa yang terjadi karena posisiku sedang lemah dan sakit, juga aku tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan.
Radith sendiri memeluk tubuhku dan menggauiliku sepanjang malam penuh dengan kasih sayang dan perhatian pula, sambil meciumiku pula, hingga pada tidur pulas sekali. Dan pada pagi harinya Radith pamit karena harus bekerja kembali seperti biasa. Aku juga hanya memberikan suatu isyarat jika aku agak sehat akan bertemu kembali dengan Radith. “Mas-ku. Aku suka sama Mas.” Kata Radith. “Iya, Dek. Aku juga suka. Kita lihat kondisi juga ya Dek. Mudah-mudahan kita masih bisa bertemu lagi.” Kataku. “Semoga kita dapat bertemu lagi ya, Mas. Mas-ku baik-baik saja ya disini. Keep kontek aja ya Mas-ku.” Kata Radith. “Iya, Dek.” Kataku. “Trima kasih, Mas-ku sayang. Aku pamit dulu ya.” Kata Radith. “Iya, Dek.” Kataku. Kini Radith juga malah sambil mencium bibirku kembali lembut sekali dan lama sekali dipagi hari yang masih sunyi itu. Aku juga merasakan kehangatan ciuman oleh Radith di pagi yang masih buta dan sunyi itu, dan hingga kini tidak dapat melupakan ciuman itu pula.
Aku menatap sosok tubuh Radith yang terlihat sexy pula badannya sedang dan berisi karena sering ke gym, terlihat membentuk dan semampai pula. Senyumnya terlihat manis dalam keramahan seorang dokter muda yang cakep dan imut-imut dan aku yakin tidak semua orang dapat menebaknya jika sosok dokter muda dan tampan itu seorang Gay-Bott pula, penampilan dokter muda itu juga terlihat laki-laki sekali dan terlihat manly pula. Tapi tersurat dari cara dan gayanya dokter muda itu masih manja, khususnya padaku ini sebagai sosok laki-laki yang sedang didekati dan disukainya ini pula.
Aku teringat sepanjang tadi malam dokter muda itu menggauliku sepuasnya hingga beberapa kali, bahkan aku yang hanya dapat berbaring saja dan terangsang ini dapat membuat dokter Radith itu merasa puas, beberapa kali dia menjadi bott dan aku bagai pasrah saja karena tidak berdaya pula. Bahkan dokter Radith juga oral sesukanya karena aku hanya berbaring seperti yang sedang menyerahkan seluruh tubuhnya ini pada dokter itu. Pelukan dan ciuman juga belaian tangan lembut Radith itu juga hingga kini masih dapat dirasakan pula. Kesunyian pagi buta itu memberikan kesan pula walau hatiku terluka.
Setelah Radith pergi, aku hanya berbaring kembali di kontrakan karena memang aku sedang sakit dan badan rasanya lemas sekali, fikiran tentang kejadian dengan Hadi masih membayangiku dalam benak dan hati juga perasaan sehingga aku baru sadar juga memiliki penyakit gila juga mungkin tidak berbeda denganku yang kini ling-lung ini. Amarahku masih aku tahan karena aku juga tidak ingin semua rahasia terbongkar oleh para tetangga dan sekitarnya itu. Karena aku merasa tidak nyaman memiliki penyakit seperti itu, aku tetap berusaha menghubungi kawan-kawanku itu diantaranya; Alex, Niko yang berstatus resmi ABRI, Budi berstatus Polisi, Dwinovian Psikiater itu, Vincent, Ronald, Marteen, Rendy, Fedro kawannya Rendy itu, Diaz, Rizal, Bobby, Giri dan yang lainnya juga. Dan mereka ternyata pada tidak sefaham dengan cara Hadi dan Roby memperlakukanku seperti itu, mereka pada geram pula dan pada berjanjian ingin pada bertemu pula.
Namun anehnya tidak lama kemudian kini tiba-tiba muncul Yudi datang ke kontrakan itu sambil menatapku tajam sekali. “Mas Ricky. Apa kabar? Apa yang telah terjadi dengan Mas Ricky terlihat murung sekali?” Tanya Yudi terlihat heran menyaksikanku seperti ini. “Baik, Yud. Seperti telah aku katakana, Hadi itu sekarang kumpul kebo bersama Roby dirumah sebelah ini.” Kataku. “Ko si Hadi gitu sih, Mas? Penisnya si Roby karena gede kali, si Hadi butuh yang lebih gede.!” Kata Yudi. “Aku udah bilang sama kamu Yud, dia itu Hypersex Gay. Ga cukup hanya satu orang laki-laki. Sekarang aku serasa dipermainkan dan serasa dibohongin.” Kataku. Lalu aku menjelaskan semuanya apa yang telah terjadi denganku ini secara lengkap. Dan tampak Yudi juga tidak dapat menerimanya jika diperlakukan sama seperti aku ini. Aku menjelaskannya sambil meneteskan air mata pula karena tak kuat menahan rasa sakit dalam hati dan perasaan ini.
Tapi anehnya Yudi malah mendekatiku sambil berbicara kembali. “Mas Ricky. Sabar, Mas. Jangan menangis. Saya mengerti perasaan, Mas Ricky.” Kata Yudi, membelai-belai punggungku, kini malah langsung sambil mencium aku pula membuat aku heran pula. “Aku udah sabar bahkan lebih dari sabar, Yud. Ngomong-Ngomong kamu ga kerja, Yud?” tanyaku sambil menyeka air mataku ini. “Tidak, Mas. Aku sedang ribut sama isteriku dirumah.” Kata Yudi. “Loh, kenapa, Yud?” Tanyaku. “Hmmhh.. Biasa Mas. Malah kalau aku boleh jujur, daripada aku ribut sama isteriku, aku lebih baik memilih Mas jadi pacarku saja, kita bisa hidup bersama juga. Kita bisa enjoy, Mas.” Kata Yudi enteng membuatku kaget pula. “Maksudnya.!!??” Tanyaku. “Ya, aku udah ga suka sama isteriku sendiri, Mas. Aku lebih suka sama, Mas Ricky ini. Kita pacaran aja ya Mas.!” Kata Yudi tersenyum dan langsung to the point.
Sejenak aku heran dan berfikir dalam sekali sambil menatap Yudi yang tersenyum dalam ketampananya itu. “Yud. Aku sedang kacau fikiranku ini. Mohon ma’af aku ga bisa jawab jika aku jadi BF-nya kamu. Kita berkawan saja, Yud.” Kataku bingung juga. “Aku ingin memilih Mas Ricky jadi pacarku, Mas. Kita bisa hidup bersama dalam ketenangan.” Kata Yudi kekeh. “Aku sedang bingung, Yud. Hati dan perasaan ini sakit sekali.” Kataku kini meneteskan air mata kembali dan menunduk. “Mas. Jangan menangislah, Mas. Kan ada aku disini. Ayo camoooon, jangan menangis Mas. I love you, Mas Ricky.” Kata Yudi kini sambil membelai-belai tanganku dan bahkan langsung mencium bibirku pula membuatku salah tingkah pula. Anehnya Yudi kini malah memeluk tubuhku erat sekali hingga aku tak dapat berkutik apa-apa. Aku hanya diam karena aku sedang bingung sekali harus bagaimana selanjutnya akan nasibku ini.
Posisiku sedang gundah dan resah seperti itu dimanfa’atkan oleh Yudi itu, lalu Yudi menciumi bibirku ini sambil berbicara kembali. “Mas Ricky. I love you, Mas. Jangan menangis. Aku disini bersama, Mas. Buka baju dan celananya, Mas.! Kita bercinta bersama.!” Kata Yudi berbisisk sambil meraba-raba seluruh tubuhku hingga aku terangsang pula. Aku hanya diam saja karena kaget jika ternyata kedatangan Yudi yang mendadak itu menyukai aku ini dan ingin sekaligus bercinta denganku pula. Yudi kini yang agresif, lalu bajuku secara perlahan-lahan dibukanya pula termasuk celana dalamku ini hingga aku yang sedang galau juga kini menjadi bugil total, termasuk Yudi itu sendiri yang gagah dan ganteng itu bugil pula. Yudi langsung memeluk tubuhku kembali dan mengarahkan aku ke tempat tidur itu pula, dan kini aku juga menjadi pasrah pada Yudi karena Yudi agresif sekali, lalu Yudi oral pada alat vitalku ini pula. Aku dan Yudi bercinta tanpa sadar dan tanpa rencana, hal itu terjadi atas serangan Yudi yang mendadak itu sendiri yang diluar dugaanku ini pula lebih baik mencintai aku daripada isterinya sendiri namun aku menolaknya saja karena aku tidak ingin menghancurkan rumah tangga orang lain yang syah, namun kini sosok Yudi aku nikmati pula karena Yudi jauh lebih menikmati tubuhku ini hingga Yudi beberapa kali ereksi-nya itu dalam kepuasan dan kenikmatan bercinta denganku ini disertai desahan dan erangannya itu hingga tubuh Yudi kini terlihat lemas sekali dan berbaring ditempat tidur.  
Pada petang harinya Hadi sepulangnya bekerja menghubungiku dan mengusirku kembali. Aku merasa kini kiamat benar-benar telah tiba, bagaimana mungkin aku yang sedang sakit dan sedang drop lagi karena keputusan Hadi itu kini secara terang-terangan diusir kembali oleh Hadi yang dulunya merayu dan memujaku ini. Hadi mengusirku disamping Roby pula sehingga Roby merasa semakin naik daun dirumahnya Hadi itu juga pada diangkat-angkat dan difuja-fuja oleh semua anggota keluarga Hadi itu. “RICK. LOE PERGI DARI KONTRAKAN ITU SEBELUM ADA ORANG YANG AKAN MENGUSIR LOE.! SEKARANG JUGA..!!!” Kata Hadi. “IYA. DAN JANGAN NGOMONG GA PUNYA DUIT LOE. JANGAN BEBANKAN AMA ADE GUA.!” Kata Warti. “PERGI SEKARANG JUGA RICK.! NANTI AKAN ADA ORANG YANG MAU KEMARI..!!!” Kata Hadi.
=====o0o=====

Tester Random – Bersambung Summary 7
(Selengkapnya di buku bersangkutan)
=====o0o=====