SAMBUNGAN
RANGKUMAN / SUMMARY 1
Boy
Friend (Berpacaran)
FROM THIS
MOMENT
(Lirik
Lagu From This Moment – Shania Twain)
(I
do swear that I'll always be there
I'd give
anything and everything and I will always care
Through
weakness and strength, happiness and sorrow
for better
for worse, I will love you with every beat of my heart
.)
From this moment life has begun
,
From this moment you are the one
Right beside you is where I belong
,
From this moment on
From this moment I have been blessed
,
I live only for your happiness
And for your love I'd give my last breath
,
From this moment on
I give my hand to you with all my heart
Can't wait to live my life with you, can't wait to start
You and I will never be apart
,
My dreams came true because of you
From this moment as long as I live
,
I will love you, I promise you this
There is nothing I wouldn't give
,
From this moment on
You're the reason I believe in love
And you're the answer to my prayers from up above
All we need is just the two of us
,
My dreams came true because of you
From this moment as long as I live
,
I will love you, I promise you this
There is nothing I wouldn't give
,
From this moment
I will love you as long as I live
,
From this moment on
.
=====o0o=====
Sejenak aku termenung karena kami telah berkomitmen pacaran dengan
laki-laki dan babak cinta terlarang akan segera dimulai juga. Obrolan-pun
sangat seru dan akhirnya kesana kemari tentang kupasan dunia Gay/Bisex/Lesbi
dan seterusnya menambah semakin akrab, sambil makan camilan yang ada dan serasa
nyaman juga. Dan ternyata Hadi menginformasikan database alangkah banyaknya
kaum Gay/Bisex/Lesbi di Indonesia ini, khususnya kaum lesbian yang jauh lebih
banyak daripada kaum Gay/Bisex itu sendiri, sangat diluar dugaanku walau aku
tidak percaya akan semua itu karena aku belum berpengalaman dan baru saja
terjalin hubungan cinta terlarangnya itu.
Bersamaan dengan itu pula kini Hadi membuka ranselnya kembali lalu
mengeluarkan DVD Gay/Bisex, Buku Agenda dan beberapa souvenir untukku. “Mas
Ricky coba saja tonton DVD Gay ini. Orangnya cakep-cakep. Dan saya suka banget
dengan Lucas, yang main dalam film ini. Lucas itu favorit saya.” Kata Hadi.
“Oh, terima kasih, Hadi. Akan saya coba lihat DVD itu.” Jawabku sambil
menerimanya. Asing, aneh dan terperanjatnya ketika Hadi akan berpamitan,
tiba-tiba Hadi tersenyum ramah menghampiriku, sementara tangannya merangkul
tubuhku dan mencium bibirku yang merah muda, bibirku yang pernah disukai teman
wanitaku juga. Karuan saja aku merasa asing dan serba salah, juga salah tingkah
pertama kali berpelukan dengan pria dan dicium bibirnya.
Aku suka dengan cara Hadi berjalan tampak terlihat seperti laki-laki
tulen dan gentle, tidak ada orang yang akan mengira jika pada dasarnya sosok
Hadi itu Gay tulen sejak kecil. Rasa sayang dan cinta terhadap pria kini mulai
terasa tumbuh karena sosok Hadi adalah salah satu type pria yang aku sukai
juga, namun tidak berlaku bagi pria yang lainnya karena aku Bisex dan tidak
total mencintai laki-laki, kecuali jika sosok laki-laki itu terlihat tampan dan
manly atau gagah sekali dalam ketampanannya juga. Rasa itu yang selama
bertahun-tahun aku tutup erat-erat namun kini terjadi pula berpacaran dengan
laki-laki itu, sepertinya babak baru dimulai.
Aku juga masih suka dan mencintai wanita namun sejak terputus dengan
tunanganku hingga saat itu aku belum dapat pasangan lagi karena banyak faktor
yang sangat mempengaruhiku, khususnya tentang pekerjaanku itu, karena aku
terputus dengan tunanganku itu juga disebabkan tuntutan karier yang harus jauh
lebih bagus dan sukses dalam keberhasilan yang nyata yang dapat dirasakannya,
tuntutan wajar seorang keluarga yang cukup disegani dalam keluarga dan
lingkungannya karena mereka jauh lebih sukses dibanding keluarga yang lainnya
itu. Ku baru menyadarinya benar jika aku ini benar-benar sosok seorang Bisex
yang seluruh teman dan anggota keluarga termasuk Ibuku tidak mengetahuinya jika
salah seorang dari anaknya yang dilahirkannya ini memiliki kelainan jiwa yang
rasa dalam hatinya dapat mendua dengan pria tampan bertubuh tinggi terlihat
gagah, membuatku menjadi bingung sendiri atas keanehan dalam jiwa ragaku ini.
Kini aku menatap Hadi di mobil angkot karena angkot yang ditumpangi Hadi
telah cukup menjauh mengarah ke arah Jakarta Timur, khususnya ke arah Lubang
Buaya, Jakarta Timur itu. Karena kami telah menjalin hubungan Cinta Terlarang
itu, aku dan Hadi selalu kontek baik melalui SMS maupun kontek langsung melalui
Hand Phone. Pertemuan juga menjadi rutin bertemu baik di dalam kantor
masing-masing temasuk jika pada weekend diluar rumah sambil pada makan siang
diluar kadang-kadang makan malam bersama pula, dilanjutkan tidur bersama pula
dalam balutan Cinta Terlarang tanpa ikatan resmi hitam di atas putih itu. Aku
dan Hadi telah sepakat dan berkomitmen menjalin hubungan intim sesama jenis itu
tanpa dikethui oleh siapapun, dan tanpa saksi resmi siapaun juga, dan dalam setiap
pertemuan selalu diakhiri dengan bercinta bersamanya pula.
Kebetulan sosok Hadi itu sendiri type pria idamanku juga membuatku
semakin semangat dan semakin jatuh hati kepadanya, karena aku juga baru pertama
kali berpacaran dengan laki-laki itu karena selama ini aku hanya meredam rasa
dalam hati dan bathin ini.
Rasa dan hasyrat biologis mendua “Bisex”
dalam hatiku yang telah puluhan tahun aku tahan kini dapat tersalurkan dengan
adanya sosok Hadi itu. Ini benar-benar baru pertama kalinya aku berpacaran dengan
laki-laki itu yang sebelumnya aku tahan selama puluhan tahun karena banyak
pertimbangan lainnya apalagi di Negara mayoritas religinya muslim ini. Hal ini
bukan penyimpangan atau melawan religi namun memang aku sendiri dilahirkan
mendua dalam rasa seperti ini, sama dengan kaum Luth yang lainnya dalam rahasia
Tuhan yang tidak ada seorangpun yang dapat mengungkapnya itu, kecuali Tuhan itu
sendiri sebagai penciptaNya untuk isi Planet Bumi sebagai salah satu
kerajaanNya itu.
Balutan dan sentuhan serta belaian-belaian tangan lembut Hadi yang telah
berulang kali mengatakan Gay sejak kecil memang sangat luar biasa, sehingga aku
sendiri kini dapat terangsang dan bergairah pula. Televisi berukuran cukup
besar mewarnai audio-visual film Gay/Bisex yang dibawa oleh Hadi itu sendiri
membuatku senang berduaan dengan Hadi dalam buaian cinta terlarang
remang-remang kegelapan malam yang hanya terhiasi sinar-sinar lampu neon taman
di lantai atas dan sinar-sinar bintang di langit yang dapat aku tatap dari
barisan jendela yang terbuka dan tembus pandang karena barisan jendela itu
menggunakan kasa nyamuk.
Sinar bulan juga aku dapat menyaksikannya sambil berbaring dan bercinta
dengan Hadi bagaikan sedang melepas rindu dan hasyrat yang selama puluhan tahun
terpendam dan membeku dalam hati seiring mental jiwaku yang menutupi kelainan
biologis aku sendiri. Ciuman halus dan lembut bibir Hadi dan belaian-belaian
tangan lembutnya bagaikan sesuatu keajaiban yang selama ini baru dapat
dirasakannya itu. Rangsangan dan cumbu rayu tanpa kata-kata di atas tempat
tidur spring-bed empuk itu menambah keleluasaan bercinta sesuai dengan gerak
alamiah insan-insan yang menyatukan cinta sesama jenis semakin memanas dan
semakin eksposif nan lembut menjawab kepenasaranan yang selama ini aku tahan sekuat
semampu mental dan jiwaku ini.
Seluruh pakaian aku dan pakaian Hadi menjadi saksi bisu apa yang kami
lakukan dalam eksplorasi cinta terlarang dimalam yang sedang berbintang dan
sempurnanya bulan purnama di atas Kota Jakarta itu. Aku tidak tahu lagi harus
bagaimana karena aku belum berpengalaman namun aku sepertinya bagai pasrah pada
Hadi yang menggauliku sangat lama sehingga akupun terangsang sepanjang malam,
bagaikan pasrah dan menyerahkan seluruh tubuhku pada kekasih yang sangat aku
cintai itu. Juga sebaliknya akupun membalasnya dengan cinta tanpa kata dan
hanya dapat dirasakan dalam gerakan-gerakan halus di atas tempat tidur itu.
Eksplorasi cinta terlarang di atas tempat tidur srping-bed empuk itu
bagaikan mengeksplor dunia yang selama ini masih tertutup untuk umum dan hanya
dapat dilakukan hanya oleh kaum Gay/Bisex itu saja yang dapat melakukannya,
karena rasa mendua dalam hati bukan kami yang menciptakannya melainkan ada yang
menciptakannya pula, sama dengan “rasa” yang dimiliki masyarakat umum yang
lainnya itu. Eksplorasi cinta terlarang sepertinya tidak mengenal lelah dan dan
tidak mengenal waktu, hingga jelang pagi hari, sehingga lagu-lagu Love Songs
telah silih berganti judul menambah irama dalam hasyrat bercinta hingga pagi
hari itu.
Akupun menyadarinya dalam hatiku ini jika bercinta dengan Hadi ini
bagaikan pelampiasan yang selama bertahun-tahun ini aku tahan dan aku tutup
sekuatnya karena khawatir jika aku membuka mulut lingkungan sekitarnya pada
akan mengucilkan aku ini pula, karena aku juga memiliki banyak kawan yang
sangat benci dan merasa jijik pada kaum Luth atau Gay/Bisex ini, tanpa
disadarinya mereka berbicara dengan salah seorang Bisex pula membuat aku
menjadi semakin tahu kondisi dilingkungan itu, bahkan banyak juga yang pada
menghindar jika ternyata setelah diketahui sosok laki-laki itu Gay/Bisex.
Kami bercinta dalam semalam hingga beberapa kali karena Radi jikala
sedang terjaga dan terbangun dari tidurnya selalu memeluk tubuhku kembali
bahkan membelai-belai seluruh tubuhku hingga aku terangsang kembali dan
bercinta kembali. Bahkan hingga pagi, termasuk setelah waktu subuh pula,
sepertinya pada melampiaskan hawa nafsunya itu, hingga lupa daratan dikamar itu
membuat aku lupa segalanya dalam cinta terlarang bersama Hadi itu. Aku mengikuti
arah dan ekspresi berselancar cinta Hadi itu yang ternyata dapat berulang kali
dalam satu malam.
Aku menyadarinya dan bertanya pada Tuhan, mengapa aku dan yang lainnya
dilahirkan ke dunia ini seperti ini, dapat membagi rasa dan cinta dalam hati
yang sebagian orang pada tidak mengetahuinya sekalipun keluarganya yang
terdekat karena kami sama-sama menutupinya secara ketat sekali, sebab jika
diketahui oleh orang-orang yang mengklaim paling suci, kami akan dicerca dan
dihina, juga akan dikucilkannya bahkan diasingkannya bagaikan makluk Tuhan yang
tidak ada artinya atas kelainan jiwa dan hatinya ini walau secara fisik kami
terlihat manly seperti pria-pria yang lainnya itu, sementara perselingkuhan
oleh para pria hidung belang ditempat lainnya masih tetap semakin merajalela
berlangsung dengan berbagai alasannya itu pula. Bahkan yang secara diresmikan
adalah dengan faham ‘Sunah Rasul’ dengan memiliki isteri banyak padahal intinya
ma’af “sex” belaka karena banyak isteri dan anak dan pada tidak terurus yang
ujung-ujungnya pertikaian dan perceraian pula, tidak ada yang memprotes dan
mencacinya apalagi pada diusirnya karena tersumbat dengan kata “Sunnah
Rasul” yang membohongi kaum wanita itu sendiri agar pada mau dipoligami
dan lain sebagainya itu.
Selama aku menjalin hubungan Cinta Terlarang itu, tidak ada teman dan
keluarga yang dapat mengetahuinya, kecuali Ibu-nya Hadi itu diawali ketika pada
hari weekend di petang hari aku berkunjung kerumahnya Hadi bersama Hadi itu
sendiri di daerah Lubang Buaya itu, karena Hadi telah diketahui oleh Ibu-nya
jika Hadi itu seorang Gay sejak kecil di dalam anggota keluarganya itu.
Beberapa obrolan penting yang aku kaget adalah Ibu-nya bertanya pada
Hadi. “Supri. Kamu suka sama Mas Ricky ya.!?” Tanya Ibu Sutiariyah itu tanpa
diketahui oleh Ayah dan kedua kakak perempuannya memanggil Supri, panggilan
nama lengkap Suprihadi Santoso yang selama ini aku panggil ‘Hadi’ itu. “Ya, Bu.
Supri suka sama Mas Ricky. Dia orangnya baik juga pada saya, Bu.” Jawab
Suprihadi Santoso (Hadi) terdengar tenang. “Oh. Gitu. Pantas selama ini kamu
suka pamit sama Ibu jika kamu selesai kursus Bahasa Francis itu suka langsung
menginap ditempat Mas Ricky ini. Dan kamu juga sering bersama dengan Mas Ricky
ini kalau hari-hari libur itu.” Kata Ibu Sutiariyah. “Ya, Bu.” Jawab Hadi. “Ga
apa-apa kalau kamu suka sama Mas Ricky. Memang Mas Ricky orangnya terlihat
sepertinya baik juga sih. Tapi awas, jangan sampai ketahuan sama Bapakmu itu
loh..!! Kalau kalian pada sampai ketahuan oleh Bapakmu, kalian pasti pada
diusir dari rumah ini..!! Ibu ga mau kalau kita karus berpisah..!” Kata Ibu
Sutiariyah itu mengingatkan Hadi. “Ya. Bu. Supri akan tutup mulut dan jaga
sikap juga. Sampai sekarang juga kan Bapak sama Sari dan Warti tidak
mengetahuinya kan, Bu.” Jawab Hadi. Aku sendiri mendengar perkataan itu dari
kamar Hadi sempet terperanjat kaget sekali, Ibu Sutiariyah langsung menembak
Hadi seperti itu, karena kamarnya bersebelahan itu.
“Ibu faham, kalian semua pada telah menjalin hubungan. Ibu tidak bisa
bicara apa-apa lagi karena kalian sendiri yang akan menghadapinya itu, juga
semua risikonya itu. Kalian harus jaga hubungan itu jangan sampai Bapaknya
Supri dan kakak-kakaknya; Sari dan Warti pada tahu saja. Kalau Bapaknya Supri
sampai tahu kalian pada akan disusirnya dari tempat ini. Anak saya memang udah
begitu sejak kecil. Ibu tahu semuanya, Mas Ricky. Nitip anak saya saja, Mas
Ricky. Jaga baik-baik semuanya…!!” Kata Ibu Sutiariyah itu menasehati aku
sambil menunggu Hadi mandi itu.
“Iya, Bu. Terima kasih saya diizinkan berteman dengan Hadi ini.” Kataku
malu juga karena tidak dapat membohonginya lagi. “Ya sudah, kalau begitu,
kalian terlihat seperti teman saja agar tidak diketahui dan dicurigai oleh
Bapaknya Supri dan kakak-kakanya itu. Jaga hubungan kalian itu.” Kata Ibu
Sutiariyah keluar kamar karena Hadi selesai mandinya dan masuk kamar Hadi itu
sendiri dalam ekspresi agak aneh. Kini aku berpacaran dengan laki-laki telah
diketahui dan direstuinya pula oleh Ibunya sendiri seperti itu hanya secara
lisan saja dan tanpa hitam di atas putih, seakan-akan aku merasa diberi jalan
keleluasaan berpacaran dengan Hadi itu. Namun pembicaraan belum selesai Hadi
selesai mandinya dan kini telah berada dalam satu kamar itu pula.
Hadi juga sempet kaget sambil menatapku tajam menyaksikan Ibu-nya ada
dikamar Hadi itu dan berbicara denganku, yang kemudian Ibu-nya itu keluar
setelah Hadi masuk kamar itu pula. “Ibu gue bilang apa, Rick.!?” Tanya Hadi
agak keras dan kaget. “Ga bilang apa-apa, Di. Dia cuman nyaranin ma gue suruh
jaga diri baik-baik aja atas hubungan kita ini agar jangan sampai kita ketahuan
sama yang lainnya. Memangnya kenapa, Di..!??” Kataku agak heran juga dan serba
salah. “Ooh. Iya, kita jangan sampai Bokap gue tahu hubungan ini. Kalau bokap
gue tahu, bahaya, gue bisa diusir dari rumah ini. Gue juga ga suka sama Bokap
gue.” Kata Hadi sambil berpakaian baju tidur dan santai, ekspresinya serius
sekali. “Oh. Ko loe ga akrab sama Bokap loe, Di?’ Tanyaku.
“Ga. Gue sebel sama bokap gue..!! Sejak dia punya Isteri Muda waktu itu,
gue sebel, kasihan sama Nyokap gue. Gue juga pernah ribut dan pernah berantem
sama Bokap gue itu. Lama juga gue musuhan sama Bokap gue walau tetap serumah.”
Kata Hadi membuatku terperanjat pula.
Hadi berpengalaman di dunia Gay sejak kecil, artinya berapa banyak
pasangan yang telah hidup dan bercinta bersamanya pula termasuk para pria yang
telah beristeri dan beranak itu membuatku termenung dalam berfikir serius
karena aku baru dapat menyadarinya jika dunia Gay/Bisex itu telah berjalan lama
juga yang selama ini belum terungkap karena para pelaku/pesakitan itu
masing-masing menutup diri di masyarakat ini, walau penampilan mereka sama-sama
pria tulen bahkan beristeri dan beranak pula, bahkan dianggap tabu, namun
kenyataannya sangat potensial juga.
Aku yakin mereka pada tertutup karena banyak factor yang sangat
mempengaruhinya itu khususnya di Negara berkembang atau di Negara yang
mayoritas muslim seperti di Indonesia yang masih belum dapat menerimanya kaum
Gay/Bisex/Lesbi tanpa disadarinya jika kaum Gay/Bisex/Lesbi juga sama-sama
ciptaan Tuhan sebagai pemilik Planet Bumi-nya ini, namun masyarakat
kebanyakannya pada mengklaim jika dirinya-lah yang paling suci dan paling
bersih dari yang lainnya itu, Tuhan sendiri menciptakannya untuk penghuni
Planet dan KerajaanNya pula, namum masyarakat itu yang pada mencaci dan
mengucilkannya dalam sumpah serafahnya terhiasi tertawaan dan olok-olokkannya
itu, belum dapat berfikir jika kita semua sebagai makhluk Tuhan yang sama
ciptaan Tuhan pula sama dengan makhluk yang lainnya.
Kini aku menyaksikan koleksi DVD dan koleksi foto Gay/Bisex yang sangat
banyak itu hanya bernafas panjang karena baru dapat menyadarinya ternyata dunia
Gay/Bisex itu telah, sedang dan akan berlangsung pula selama umat manusia hidup
di permukaan bumi ini walau selama ini tertutup pada publik, karena mungkin
Tuhan tetap akan menciptakannya pula untuk isi KerajaanNya, kita semua yang
pada belum menerimanya karena tidak pernah berfikir jika Tuhan itu sang
pencipta segalanya termasuh roh dan jiwa ini, juga semua yang berada di Planet
Bumi dan Planet Bumi itu sendiri dan lain-lainnya atas kehendakNya pula.
Pantas jika kaum Gay/Bisex/Lesbi sebagai minoritas di seluruh dunia juga
pada protes mengklaim hak hidup-nya dalam penindasan dan diskriminasi
terhadapnya beraneka ragam dengan Negara-Negara lainnya. Hadi juga menunjukkan
beberapa foto mantan-mantan BF-nya termasuk foto teman-teman Gay-nya itu pula.
Aku juga demi keamanan dan harga diri harus dapat berperan seperti teman kantor
saja dalam sandiwara Cinta Terlarang dan terselubungnya itu sekaligus
menunjukkan kesetiaannya itu pula.
Dalam hubungan Cinta Terlarang dan terselubung ini, Hadi yang telah
berjanji akan setia padaku, Ia sering menginap di Salemba, Jakarta Pusat, dan
berakhir dalam eksplorasi cinta terselubungnya itu di atas ranjang hingga pagi,
kadang-kadang aku yang menginap di rumah Hadi, Lubang Buaya, Jakarta Timur itu
hingga lama-lama dengan semua anggota keluarga Hadi itu serasa semakin akrab
juga, bahkan seperti saudara saja, mereka tidak menyadarinya jika kami ini
pasangan Gay-Bisex yang hidup dalam Cinta Terlarang dan terselubung diantara
keluarganya, kecuali Ibu Sutiariyah itu yang telah mengetahui hubungan intim
kami itu.
Dan disetiap kami pada akan tidur, ada kesamaan mendengarkan musik dan
lagu, yaitu selalu mendengarkan musik khususnya lagu-lagu bertemakan cinta
dan/atau Love Songs itu. Bahkan Hadi sendiri suka menyanyi mengikuti Love Songs
itu dengan cara Lip-Synch-nya pula. Aku juga yang berbaring disampingnya
kadang-kadang menyimaknya kata-perkata dari lirik lagu itu yang terucap dari
mulut Hadi itu sambil kupeluknya erat sekali dalam balutan Cinta Terselubung
Gay-Bisex itu.
Namun aneh dan herannya setiap kami tidur bersama Hadi, Hand Phone Hadi
selalu diselipkan dibalik bantalnya sambil SMS-an dengan kawan-kawannya itu,
kadang-kadang Hadi terlihat suka tertawa dan senyum sendiri sambil SMS-an
dengan mitranya itu. Tapi aku masih toleran dan bijaksana menghadapinya semua
itu.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan aku
berpacaran dengan Hadi semakin lengket, dan yang paling sering kontek adalah
Hadi itu sendiri daripada aku ini, bersamaan dengan pertemuan-pertemuan yang
rutin dilakukannya seminggu tiga kali khususnya jikala waktu weekend itu selalu
bersama baik siang maupun malam, tidur dan bercinta bersama pula, sementara
aktivitas kantor tetap berjalan seperti biasanya saja, tidak ada orang yang
mengetahui jika kami berpacaran cukup lama, seiring aku kini dikenalkan pada
teman-teman Hadi yang ternyata Gay juga, mereka pada bekerja kantoran pula sama
seperti kami bedua ini.
Tahun-pun berganti menginjak Tahun 2000 aku masih berpacaran dengan
Hadi, aktivitas kantor dan yang lainnya sama seperti biasa. Bersamaan dengan
perkembangan itu pula, Hadi pindah kantor, kini diterima bekerja di perusahaan
asing yang bergerak dalam pengeboran minyak dan gas bumi yang berlogo kulit
kerang warna kuning ada list merahnya.
Aku juga sepulangnya tugas dari Malaysia dan Singapore, pimpinan kantor
(Boss) aku seperti biasa selalu mengadakan meeting secara bersama pula
bersamaan dengan evaluasi pekerjaan yang telah dilakukannya sekaligus membuat
agenda kerja berikutnya. Namun dalam kesempatan meeting itu lama-lama
pembicaraan akhirnya terfocus padaku disaksikan oleh semua personil kantor
International Event Organizer itu pula.
Sekembalinya dari kantor, seperti biasa aku suka menaiki taxi ke
Salemba, Jakarta Pusat. Dalam kemacetan di taxi aku menghubungi Hadi via Hand
Phone. “Di. Posisi loe dimana?” Kataku. “Hai, honey. Gue on the way pulang. Gue
mau ketemu ma loe bisa kan malam ini? Gue kangen ma loe, Rick..!” Kata Hadi.
“Oh, ya udah kemari aja. Sekalian nonton film di Metropol Megaria aja ya. Tapi
kita ketemuan di Kentacky Fried Chicken aja dulu. Gue tunggu disana..!!”
Kataku. “Ok, honey. Loe pulang dulu kan.!?” Tanya Hadi. “Gak. Gue ga pulang
dulu. Gue gi males aja nih..!” Kataku. “Kenapa, Rick.?” Tanya Hadi. “Ga
apa-apa, Di. Nanti kita ngobrol sambil makan KFC aja.” Kataku. “Ok kalau gitu.
Gue kesana ya sekarang juga. I love you. Mmuuaacchhh..!” Kata Hadi menutup
komunikasinya dengan ciumannya melalui Hand Phone itu dibales olehku sambil
menatap kaca cermin taxi depan driver itu khawatir driver taxi menatapnya dan
menertawakanku juga, atau mungkin tetarik denganku juga karena aku juga pernah
suka dengan melihat sosok driver taxi yang ganteng sekali dan badannya tinggi
sekali namun aku menahan rasa itu sekuat kemampuanku itu. Dan kini aku meluncur
ke daerah Theater 21 Metropol Megaria sesuai dengan konfirmasi dengan BF-ku
itu.
Obrolan seperti biasa kesana kemari sambil membahas film yang akan
ditonton pula. Tampak aku juga melihat yang berpasangan dengan pria itu pula
bukan hanya aku, bahkan ada juga yang terlihat mesra walau mereka telah
berusaha pada jaga diri agar tidak terlihat oleh orang lain. Aku yakin mereka
pasangan Gay juga walau mereka berusaha agar tidak terlihat dengan yang
lainnya, namun dari gerak-geriknya mereka terlihat karena pasangannya tanpa
sadar membersihkan kotoran makanan di dada dan pipi pasangannya dengan tissue
bahkan cara bicaranya terlihat sekali sebagai pasangan sejati Gay membuat aku
tersenyum pula karena aku tidak seperti itu.
Sepulangnya menonton itu, Hadi juga terlihat menatapku sangat tajam dan
tidak berani bertanya karena aku masih berfikir serius tentang akan
dipindahkannya tugas ke Bali itu. Karena Hadi pandai merayu dan menghibur
akhirnya Hadi menggodaku dengan berbagai candaanya hingga sampai juga kerumah
itu. Lalu kami mandi malam berdua dikamar mandi dan bahkan kini atas permohonan
Hadi kami pada bercinta juga dikamar mandi, dan tanpa disadarinya ternyata
pembantu memperhatikannya atas sikap dan gerak-gerik kami berdua itu namun aku
tidak perduli dengan mereka itu.
Setelah kami mandi dan becinta berdua kami pada memasuki kamar seperti
biasa dan pada berpakaian karena Hadi juga suka memakai pakaianku juga. “Rick.
Boleh gue tidur dikamar yang sebelah ini?” Tanya Hadi ingin mencoba tidur
dikamar yang sebelahnya. “Oh, kenapa, Di?” Tanyaku heran. “Gue pengen coba
tidur dikasur itu. Terlihat nyaman dan empuk. Loe tahu kan kasur tempat tidur
gue tidak seperti ini..!!?” Kata Hadi memelas membuat aku merasa iba dan
kasihan juga, bahkan sayang. “Oh, boleh ga apa-apa, Di. Tapi AC-nya sedang
rusak di kamar ini.” Kataku. “Ga apa-apa. Gue pengen coba tidur dikasur ini.”
Kata Hadi. “Ya udah, kita tidur Disana aja, Di.” Jawabku sambil masuk ke kamar
yang satunya dan langsung pada rebahan ditempat tidur yang memang empuk sekali
karena tempat tidur spring bed itu.
Obrolan-pun jelang tidur berlanjut kembali sambil menonton TV di kamar,
bahkan sambil berpelukan dalam kemesraan yang nyata. Tanpa dirasa obrolan yang
tadinya kesana-kemari sedikit-demi sedikit mengarah pada urusan kantor dan
tentang tugas ke Bali itu kembali. “Di. Menurut loe jika gue tugas di Bali bagaimana
perasaan loe.!?” Tanyaku. “Tadi loe bilang sama orang kantor loe bagaimana,
Rick?” Jawab Hadi. “Gue bilang, gue mau bilang dulu sama keluarga, Ibu gue.
Padahal Ibu gue kan di Kuningan, Jawa Barat. Gue disini sendirian aja. Maksud
gue sebetulnya bukan Ibu atau keluarga gue, tapi loe orang terdekat gue
sekarang ini, Di. Pendapat loe bagaimana setuju ga kalau gue tugas di Bali
itu.!?” Kataku menegaskan. “Berapa lama tugas di Bali-nya, Rick? Jadi apa pula
loe disana.?” Tanya Hadi. “Kayaknya selamanya. Gue jadi Branch Office Manager
di Bali. Jika tidak salah, Boss gue bilang kalau mau pulang dulu boleh, tapi
per-dua bulan sekali, biaya dari kantor. Kalau rutin pulang, biaya ditanggung
sendiri.” Kataku.
“Wah, jangan-lah kalau gitu.! Gue sayang ma loe. Kalau gue mau ketemu
sama loe, gaji gue kagak cukup untuk sekali bertemu, apalagi rutin bertemunya.
Belum untuk makan, hotel dan lain-lainnya itu. Gaji loe juga ga cukup untuk
rutin ketemuan itu.” Kata Hadi. Sejenak aku termenung dalam serius. “Iya sih.
Nantinya kita jarang ketemuan juga. Gue juga masih bingung sih, Di. Jawabannya
besok harus udah disampaikan sama Boss gue.!” Kataku resah juga dalam berfikir
seriusku.
Kini pelukan Hadi di tempat tidur itu semakin erat sambil berbicara.”Gue
sayang ma loe, Rick. Jangan mau kalau lama. Bilang saja Ibu loe dan keluarga
loe ga setuju loe tugas di Bali itu. Gue susah nantinya kalau mau ketemuan.
Sekarang aja dalam seminggu kita ketemuan rata-rata tiga kali.” Kata Hadi
pelukannya semakin erat sekali. “Ok. Gue harus berbohong juga besok. Tapi loe
janji ya setia sama gue, Di.!?” Kataku. “Iyeee…. Mmuaacchh…!!” Kata Hadi sambil
mencium keningku, bahkan meraba-raba dada berbulu-ku ini. “Ok, kalo gitu. Deal
ya, Di..!” Kataku menegaskan. “Iyeee….!!!” Kata Hadi sambil mencium bibirku
perlahan-lahan yang telah merah bekas bercinta di kamar mandi tadi.
Dan kini bercinta-pun berlanjut kembali di kamar, dan Hadi sepertinya
nafsu sekali. Seluruh pakaian akhirnya pada lepas dari sosok tubuh para pria
ini diiringi lampu kamar yang pada di-off-kan, hanya pantulan remang-remang
lampu taman menembus jendela-jendela yang cukup jelas pula untuk beraksi di
atas kasur empuk pilihan Hadi itu. Sentuhan-sentuhan dan belaian-belaian tangan
Hadi yang memang tangannya lembut dan halus itu juga menambah rangsangan bagiku
membuatku heran sekali sehingga aku dapat mudah terangsang oleh sentuhan
tangan-tangan Hadi itu. Tanpa ada kata-kata semua tubuhku kini menjadi
bergairah kembali sambil akupun berusaha membalasnya pula dengan bahasa
isyaratnya itu sebagai perwakilan bahasa kata-kata itu, perwujudan dari Bahasa
Kalbu dan perasaan dari masing-masing makhluk Tuhan yang Gay dan Bisex yang
pada sedang mabuk asmara terpendam namun sangat bergairah dalam kobaran
asmaranya itu.
“Loe type gue
banget, Rick.! Bulu dada dan perut loe membuat gue semakin bergairah juga.”
Kata Hadi sambil terus menggauliku ini. “Iya. Thank you, Di. Tapi gue ga mau
diselingkuhin ya. Loe harus janji ma gue.” Kataku tetap sambil bercinta.
“Iyeeee….!!! Gue janji sama loe, yang penting loe tetap sama gue dan ngerti
keinginan gue.” Kata Hadi. Mendengar janji dari Hadi itu aku percaya, lalu aku
memeluk erat sekali bagai menyerahkan badanku ini karena Hadi tetap
membelai-belai titik lemah aku hingga aku semakin terangsang bagai yang pasrah pula.
Dan Oh, My God, Hadi dapat bersetubuh denganku pula, aku kesakitan pula namun
aku tetap memeluk tubuh Hadi erat sekali bersamaan Hadi yang semakin lama
semakin ereksi dan mengerang, juga mendesah sangat keras hingga terdengar jelas
erangan dan desahan kenikmatannya itu. Aku sendiri memeluk Hadi erat sekali
dalam berselancar cinta terlarang itu bagaikan sedang menyerahkan diriku ini
dalam bahtera cinta terlarang itu karena merasa Hadi-lah yang aku cintai selama
ini yang berulang kali berjanji.
Pada pembukaan awal meeting pembicaraan masih ruang lingkup kegiatan dan
Event kantor di Singapore itu, namun pada akhir meeting akhirnya pimpinan
kantor menatapku serius sekali sambil berbicara. “Pak, Ricky. Kamu ikut tugas
di Singapore.” Kata pimpinanku. “Baik, Pak.” Jawabku disaksikan oleh semua
personil kantor itu. “Pak Ricky, kamu ke Batam dulu, simpan perlengkapan kantor
bersama perlengkapan pribadimu di apartemen Batam Center yang untuk di Batam.
Kemudian kamu ke Singapore. Setelah kelar tugas di Singapore, kamu kembalinya
ke Batam lagi dan bergabung dengan temanmu di Batam itu pegang kantor bagian
Batam dan Provinsi Riau itu untuk dapat turut Event Exhibtion di Singapore dan
Batam itu bersama Pak Kiki.” Kata pimpinanku itu. “Baik, Pak. Kapan kira-kira
saya harus mempersiapkannya?” Tanyaku agak serba salah. “Besok kamu persiapkan
perlengkapan kamu untuk di Batam. Yang untuk Singapore biarkan Pak Jedy yang
mengaturnya. Hari berikutnya kamu langsung terbang ke Batam saja dulu, nanti
kita ketemuan di Singapore.” Kata pimpinanku. “Baik, Pak.” Jawabku.
Kemudian pimpinanku menatap bagian accounting dan secretaris. “Pak Tony,
Pak Ricky kasih pegangan dana untuk selama di Batam. Jika kurang, biacara saja
lagi tapi bill pengeluarannya sertakan saja, Pak Ricky.” Kata pimpinanku itu.
“Baik, Pak.” Jawab Tony manggut. “Sisty. Pesan ticket pesawat aja sekarang
untuk Pak Ricky, ke Batam dan Singapore.” Kata pimpinanku menatap secretaries
kantor. “Ya, Pak. Nanti akan saya kerjakan.” Kata Sisty manggut pula lalu
menatapku. “Pak Ricky. Kamu konsentrasi saja di Batam dan Provinsi Riau itu
untuk Singapore dan Batam itu sendiri. Biarkan yang di Jakarta ini untuk
petugas kantor yang disini saja.” Kata pimpinanku menegaskan kembali. “Ya,
Pak.” Jawabku. Kemudian meeting-pun dilanjutkan dengan pembicaraan Event itu.
Setelah meeting kelar, terdengar Sisty langsung memesan ticket pesawat dan
hotel dengan namaku yang tercatat dalam salinan passport-ku itu, termasuk
apartment di Batam Center itu sendiri. Aku berfikir sepertinya harus bicara lagi
pada Hadi bagaimana solusinya itu. Siap atau tidak siap, aku harus berbicara
dengan Hadi. Aku harus siap berpisah dengan Hadi karena aku harus menjalankan
tugas kantor itu. Selama dalam taxi di perjalanan pulang, aku menghubungi Hadi
melalui Hand Phone, dan Hadi akan bertemu denganku kembali.
Sepulangnya aku ke rumah, aku berkemas sambil menunggu Hadi datang.
Hadi-pun akhirnya datang ke tempatku kembali malam-malam itu dan terperanjat
agak kaget pula melihat aku kini berkemas seperti itu. Koper besar dan koper
kecil telah siap-siap rapih sekali termasuk perlengkapan kerja juga. Aku tidak
dapat berbuat banyak, akhirnya aku harus pamit pada Hadi itu. Hadi juga pada
akhirnya harus menerimanya jika aku harus pergi untuk sementara waktu dahulu.
Malam perpisahan erat sekali dikamar itu, bercinta-pun hingga sampai pagi. Aku
dapat merasakan rasa bimbang dan sedih harus berpisah dengan kekasihku itu yang
sama-sama pria juga dalam Cinta Terlarang tanpa ikatan resmi hitam di atas
putih. Bercinta telah berlangsung dengannya cukup lama dan menginjak tahun
kedua. Hadi juga mencium keningku penuh dengan kasih sayang. “Semoga loe ga
lama di Singapore dan Batam itu ya, Rick.” Kata Hadi memeluk erat tubuhku dalam
tidurnya malam itu. “Iya. Gue sebetulnya berat hati juga harus perpisah seperti
ini. Gue sayang sama loe, Di.” Kataku sambil mencium bibir Hadi itu, bahkan
memeluknya erat sekali.
=====o0o=====
Batam
& Singapore
Dan selama kami tidur berdua, lagu-lagu Love Songs terdengar sepanjang
malam karena kebetulan kami pada suka dengan lagu Love Songs itu. Bahkan
kadang-kadang turut bernyanyi Lip Synch walau secara perlahan-lahan pula sambil
pada tidur itu. Kami sendiri hampir pada hafal lirik-lirik lagunya juga. Aku
sendiri tidak mengira jika pada akhirnya dapat berpacaran hingga menginjak
tahun kedua dan bertemu hampir setiap hari, berakhir dalam urusan ranjang itu,
khususnya pada weekend itu.
Kini rasa enggan berpisah terasa sekali apalagi meninggalkan seorang
kekasih yang sangat aku sayangi itu. Aku juga merasa mendapatkan sosok orang
seperti Hadi susah sekali hingga harus bertahun-tahun dalam kamuflase aku
sendiri menahan rasa “Bisex” dalam hati ini. Aku benar-benar merasa serba
salah. “Gue juga suka ma lue, Rick. Gue juga ga mau berpisah sama loe. Gue
nyaman sama loe, Rick. Mmmuuacchh…!” Kata Hadi menciumiku, melanjutkan
bercintanya melepas perpisahan itu. Rasa kesedihan juga kini aku dapat
merasakannya walau hanya dalam Cinta Terlarang itu. Aku harus meninggalkan
seseorang yang aku sayangi, juga sebaliknya Hadi terlihat gelisah dan resah
juga ditinggalku seperti itu.
Selesai sarapan pagi itu, aku hanya tatap menatap dengan Hadi, berbicara
tanpa kata. Pagi itu kami benar-benar harus dapat rela berpisah apapun
alasannya itu. Hadi berangkat kerja, aku berangkat ke Bandara Soekarno-Hatta
untuk ke Batam dan Singapore dalam tugas itu. Aku benar-benar kesal dan benci
juga jika aku harus pergi lama di Singapore dan Batam itu. Tapi apa mau dikata
aku harus turut dalam keputusan manajemen kantor itu. Siap atau tidak siap aku
harus siap apapun risikonya itu, lalu aku menaiki salah satu pesawat di
Soekarno-Hatta Airport itu.
Aku masih teringat berjalan berduaan dengan Hadi, tanpa ada seorangpun
yang mengetahuinya jika kami ini sepasang kekasih Gay dan Bisex. Penampilan
kami benar-benar manly dan terlihat Office Looking, tidak ada yang dapat
mengira jika kami ini memiliki kelainan hasyrat dan biologis. Karena jika kami
membuka kartu pada public, masyarakat dan keluarga tentunya pasti pada akan
protes, pada mencaci, pada memaki, pada mencerca, pada menghina dan pada
mengasingkannya bahkan pada mengucilkannya bagai pada makhluk yang tidak ada
harganya, tanpa disadarinya jika kami ini hanya produk Tuhan sang pencinta
langit dan bumi ini. Aku sebetulnya enggan berangkat, namun apa mau dikata, ini
tugas apapun aku harus melakukannya karena pekerjaan itu.
Aku menjadi teringat dengan warga yang menyanjung dan memuja hewan-hewan
peliharaanya bahkan ada yang diberi kalung emas dan berlian dan potong rambut
(bulu/surai) serta mandinya di salon ternama dan termahal, sementara manusia
yang memiliki kekurangan dan kelainan sedikit saja pada langsung dicaci-makinya
dan pada diasingkan dari lingkungannya dalam kebengisan dan cemoohan manusia
yang dapat berfikir dalam. Sepertinya hewan peliharaan jauh lebih berguna dan
jauh berharga daripada manusia yang memiliki kekurangan sedikit saja. Aku
tersenyum semu dalam pesawat atas keanehan sikap manusia itu sambil menatap
awan-awan yang telah dilewati pesawat yang aku tumpangi itu. Penerbanganku
mulai terasa tidak nyaman dan membosankan, aku menatap jam tangan di tangan
kiriku ternyata penerbangan baru 35 menit dan kalendernya Tahun 2000.
Dan fikiran masih teringat dengan segala kejadian dengan Hadi yang aku
sayangi dalam Cinta Terlarangnya itu. Aku benar-benar dapat merasakannya jika
aku ini seorang Bisex yang memiliki rasa cemburu di atas tirai Cinta Terlarang
tanpa ikatan resmi hitam di atas putih itu karena bercintanya disetiap
pertemuan dengan sang kekasih sesuai dengan keinginan Hadi dan selalu berakhir
dengan adegan ranjang dalam sex-nya itu. Kebersamaan dan bercinta tanpa
mengenal batas waktu itu baik, pagi, siang jika sedang pada berlibur, sore atau
malam masih teringat dalam benakku, mengapa aku menjadi terbujuk rayu dan suka
terbawa seperti itu.
Semua rasa dalam hati dan perasaan tidak dapat aku lupakan walau aku
telah berusahanya untuk dapat melupakannya, aku menyadarinya jika semua rasa
itu hanya Tuhanlah yang menciptakanNya untuk bagian kecil penghuni Planet Bumi
ini karena kehidupan Gay/Bisex/Lesbi itu bukan hanya terjadi di Indonesia namun
terjadi dan terdapat disemua Negara di dunia ini. Tapi Negara-negara lain itu
pada menerimanya dan saling hidup rukun pula satu dengan yang lainnya, dalam
kebebasan hidup bersamanya; tidak saling mencemooh, tidak mencaci, tidak
menghina, tidak tidak usil, tidak mengucilkannya dan lain-lainnya hingga mereka
aman.
Setibanya di Apartement Batam Center, kini Hadi menghubungiku kembali
via Hand Phone itu. Obrolan-pun seperti biasa berlangsung hingga aku selesai
belanja dan memasuki ruang kamar apartemen itu, dan kini terasa berbeda karena
di dasarkan pada masing-masing rasa kangen itu. Selama aku di Batam, dalam satu hari Hadi menghubungiku lebih
dari lima kali; kadang pagi-pagi, siang, sore, petang dan malam, dan sekali
menghubungiku hingga cukup lama juga waktunya itu, karena biaya komunikasi
di Hand Phone Hadi kantornya yang membiayainya.
Setelah aku kelar tugas di Batam aku langsung ke Singapore, meninggalkan
segala perlengkapanku di kamar Apartement Batam Center itu, karena aku
kembalinya harus ke Batam lagi sesuai dengan mandat pimpinan kantorku itu.
Apatemen juga kebetulan telah di booking oleh kantor tempatku bekerja. Dan Hadi
tetap menghubungiku walau aku telah di Singapore itu. Sehari menghubungiku lebih
dari lima kali sehingga akhirnya pembicaraan kami tersadap dan tersimpulkan
juga oleh para Office Mate karena yang dibicarakan hanya obrolan ringan dan
bukan urusan kantor. Tapi semua Office Mate pada memakluminya karena aku
meneima panggilan Hand Phone jika sedang pada break kerja agar semuanya dapat
tersolusikan secara bersamaan pula.
Namun tetap para Office Mate telah memiliki kecurigaan denganku itu
karena kadang-kadang aku terpancing dengan perkataan dan pertanyaan Hadi yang
harus di jawab walau aku harus menggunakan istilah, tapi para Office Mate itu
tetap pada mengerti makksudnya itu.
Hari berganti hari hingga aku cukup lama di Singapore dan jika aku
sedang resah, aku suka berjalan kaki sambil menghirup udara segar disana.
Ketika selesai tugas di Singapore aku kembalinya ke Batam; Apatement Batam
Center itu. Hadi masih gencar menghubungiku sehari lebih dari lima kali dengan
berbagai alasannya; kangen dan lain-lainnya.
Para Office Mate di Batam juga saling tatap-menatap dan pada senyum
bahkan pada membicarakan posisiku ini. Bahkan ada teman kantor perempuan yang
dengan latahnya terucap. “Ko, Pak Ricky ganteng-ganteng itu pacaran sama cowok
sih? Mesra juga bicaranya.!?” Kata temanku, Nely, itu terdengar olehku sendiri,
berbicara dengan temanku yang laki-laki karena heran. “Nggak.! Aku hanya
ledek-ledekan saja sama temen ko.! Bercanda dan meledek temen kan bisa aja
caranya bagaimana.” Kataku membela diri. “Oh, Ma’af, Pak Ricky. Aku kira Pak
Ricky ga dengar aku. Aku sangat kaget saja… Tapi… Tadi yang kontek kan
laki-laki..!? Ma’af, ya Pak Ricky. Aku salah ucap.” Kata Nely terlihat serba
salah, namun ekspresinya heran tujuh keliling menghadapiku yang pada akhirnya
tercium juga seperti itu karena frequency Hadi menghubungiku melebihi batas
pula.
Sepulangnya pada petang hari ke kamar apartemen, aku resah, gundah dan
serba salah. Fikiranku menerawang jauh dan hampa. Semua orang kantor termasuk
yang di Jakarta kini pada telah mengetahuiku jika aku ini sosok Bisex yang
sedang berpacaran dengan seorang Gay juga di Jakarta, dan mereka juga pada
telah mengetahui sosok Hadi ketika janjian denganku dan Hadi menjemputku ke
kantor itu. Aku menarik nafas panjang dalam kegundahan dan keresahanku itu
bercampur rasa malu juga. Bersamaan dengan itu kini terdengar bunyi suara Hand
Phone-ku berdering, dan setelah aku lihat yang menghubuniku ternyata Hadi.
“Hai, Di.” Kataku. “Hai, Rick. Lagi apa kamu, Rick.?” Tanya Hadi. “Gue
sedang berbaring aja dikamar apartemen.” Jawabku. “Wah, enak bener.? Kangen nih
gue ingin ikut bersama. Pengen ketemu dan tidur bersama loe.” Kata Hadi. “Gue
masih di Batam, Di. Sabar ya, nanti juga gue kembali lagi ke Jakarta.” Kataku.
“Kapan? Lama banget sih loe tugasnya? Di Singapore juga lama. Gue kira loe
pulangnya ke Jakarta, tahunya pulang ke Batam. Disambung lagi di Batam lama.”
Kata Hadi. “Iya. Gue kan udah bilang, kalau gue mau ke Batam dulu. Gue hanya
menjalankan tugas boss gue aja, Di. Sabar ya, Di.” Kataku. “Sepi nih ga ada
loe, Rick. Kangen gue..!” Kata Hadi. “Iya, Gue ngerti. Gue juga kesepian nih,
Di.” Kataku.
Dan obrolan-pun seperti biasa, kesana-kemari cukup lama hingga malam hari.
Keluhan Hadi sering terucap merasa kangen dan kesepian dan lain-lainnya
membuatku lama-lama berfikir juga sebagai pacarnya ini. Aku juga menyarankan
jika akan menghubungiku jangan sampai ketahuan oleh para teman kantorku itu
khususnya pada jam sibuk kerja. Aku juga berbicara jika semua teman kantor pada
telah mengetahuiku jika aku berpacaran dengan Hadi itu pula. Tapi sepertinya
Hadi tidak perduli dengan semua itu. Hadi tetap menyarankan agar aku dapat
pulang dulu ke Jakarta dengan berbagai alasannya itu.
“Iya, Di. Gue usahakan agar gue
juga dapat pulang dulu ke Jakarta. Tunggu saja ya agar gue dapat kesempatan
pulang dulu. Kita bisa ketemuan dan bercinta seperti biasa. Kita puas-puasin
bercinta.” Kataku menghibur Hadi yang merasa kanget berat denganku itu. “Ok,
gue tunggu ya Rick. Kangeeeennn….!!! Mmuaach..!” Kata Hadi. “Mmuaach juga…”
Kataku membalasnya juga. “I love you. Met tidur ya.” Kata Hadi. “Me too. Met
tidur juga. Mimpi yang indah ya…” Kataku. “Ok. Bye…” Kata Hadi menutup
komunikainya. Aku-pun langsung tertidur sendirian di apartment itu tanpa
seorangpun yang menyentuhku.
Hari berganti hari seiring bergulirnya waktu, hingga aku tinggal di
Batam menginjak bulan ketiga pada tahun 2001 itu. Rasa bosan mulai merasuki
pribadiku walau aku telah berusaha mengusir sepi dan resah juga kesepian dengan
sering berjalan-jalan seputar Pulau Batam itu. Bahkan jika pada hari libur dan
weekend aku berjalan-jalan ke Singapore dan Malaysia juga, berangkat pagi
pulang malam hari ke Batam kembali bagai Jakarta-Depok saja yang dapat ditempuh
15 menit perjalan melalui kapal. Dan Hadi masih tetap gencar menghubungiku
bahkan semakin gencar frequency-nya kontak aku sehari lebih dari lima kali
membuatku kewalahan juga, memohon agar aku dapat pulang dulu. Karena aku merasa
pacarnya, aku berjanji pada Hadi jika aku akan berusaha membuat alasan di kantorku
agar aku dapat pulang dulu. Akhirnya aku membuat laporan dan permohonan ke
kantor pusat di Jakarta agar aku dapat pulang dulu.
Tidak lama kemudian, secretaris kantor menghubungiku. “Halo, selamat
siang, Pak Ricky.” Kata Sisty. “Ya selamat siang juga, Mbak Sisty. Ada yang
dapat saya bantu?” Kataku. “Kamu bikin surat pengen pulang ke Jakarta ya,
Rick.!?” Kata sekretaris kantor, Sisty, itu nadanya agak lain dan agak keras
membuatku agak heran juga. “Oh, Ya. Betul sekali. Gimana udah dipelajarin-kah?”
Kataku. “Udah. Kata Bapak, kamu beli ticket pesawat aja sekarang minta tolong
sama bagian accounting disana. Besok pagi-pagi kamu ke kantor..!” Kata Sisty
itu. “Ok, kalo gitu. Sekarang saya mau beli ticket pesawat dan besok saya
seperti biasa ke kantor. Sampai ketemu besok ya, Sis..!” Kataku senang
permohonannya di acc juga. “Ok..! jangan lupa besok pagi-pagi.” Kata Sisty
menutup pembicaraannya. “Baik. Besok saya ke kantor sana.” Kataku senang
sekali.
Lalu aku keluar kantor sebentar ingin menghubungi Hadi. Namun alangkah
terperanjatnya, ketika aku menutup komunikasi itu, ternyata Pak Kiki terlihat
sedang tersenyum sinis dan berjalan menghampiriku juga, jaraknya dekat sekali
membuatku kaget ditahan. “Pak, Ricky. Ticket pesawat udah dipesan dan dalam
perjalanan kemari. Setelah menyelesaikan pekerjaan disini nanti, semua berkas
kantor perlengkapanmu itu sekalian saja dibereskan juga. Besok pagi kamu
ditunggu pimpinan di kantor pusat, Jakarta itu.” Kata Pak Kiki serius pula.
“Oh, iya, Pak Kiki. Akan saya selesaikan semuanya. Terima kasih.” Kataku
melangkah memasuki kantor itu kembali dan melanjutkan aktivitasku. Namun
anehnya semua Office Mate kini terlihat pada terdiam dalam kesibukannya, hanya
tatapan-tatapan bola mata saja.
Aku juga menjadi berulang kali bergumam; “I’LL BE THERE, DI. And I Love
You Too…!”. Lalu aku berkemas-kemas termasuk semua perlengkapan kerjaku juga
kini pada dibawanya pula, tanpa ada yang ditinggalkan karena perlengkapan
sehari-hari disana milik apartement itu. Yang ada difikaranku ini aku dapat bekerja
kembali di kantor pusat di Jakarta, dan aku juga akan rutin bertemu dengan
kekasihku itu, kami dapat bersatu kembali dalam hubungan intimnya itu pula
walau tanpa ikatan hitam di atas putih, karena Ibunya juga telah merestuinya
secara lisan, backsreet dari semua anggota keluarganya itu demi keamanan Hadi
dan aku pula. “I’ll be there, Di. Gue nanti malam balik ke Jakarta. Gue juga
bawain oleh-oleh satu stel pakaian kerja dan farfume buat loe.” Kataku berguman
dan senang juga akan bertemu dengan sang kekasih yang aku cintai juga selama
ini.
Setibanya di Jakarta, alangkah kaget dan herannya ketika aku memasuki
ruangan kantor, semua Office Mate sikapnya pada terlihat asing dan aneh pula,
sama dengan yang terdapat di kantor Batam; mereka pada sibuk namun mulutnya
pada diam sementara bola-bola matanya pada saling menatap dengan yang lainnya.
=====o0o=====
Job Fired ( PHK
)
Sapaan selamat pagi-ku hanya dijawab dengan hampa dan aneh sekali
membuatku bertanya-tanya dalam keherananku ini. Dan ketika aku mencari
database-ku untuk prospect pekerjaan, tampak semua database aku telah pada
lenyap dari meja utama padahal penting sekali database itu. Ketika aku membuka
laci mejaku juga tampak kuncinya telah dibuka dengan sistim congkel dan
database-nya telah pada lenyap pula membuatku heran sekali, tapi mereka
sepertinya tidak perduli denganku ini.
Namun tidak lama kemudian atasanku melangkah menghampiriku sambil
berbicara dengan nada keras sekali. “Mas Ricky. Kapan datang?” Tanya atasanku
membuatku heran karena selama ini aku suka dipanggil ‘Pak Ricky’ oleh semuanya.
“Tadi malam jam 23:00, Pak.” Kataku. “Oh. Sekarang tinggal dimana? Masih
bersama Ibu-nya-kah.?” Tanya atasanku. Tapi anehnya tiba-tiba ada yang nyeletuk
bicara keras juga. “Sama pacar Gay itu. Gay itu suka sama orang yang
brewokan..!” Kata salah seorang Office Mate itu terdengar meledek aku membuat
yang lainnya pada tersenyum ditahan. Sepertinya mereka pada benci padaku
terlihat dari sikap dan cara bicaranya itu juga database-ku hingga lenyap pula.
Namun aku menahan mental dan kesabaranku pagi-pagi telah diteror seperti
itu. “Saya stay di hotel sendirian Pak. Rumah di Salemba udah dijual. Keluarga
saya tidak disana lagi.!!” Kataku jujur. “Oh gitu. Ricky. Bukannya kamu masih
single? Setahu kami yang single di kantor ini hanya kamu, Ricky. Yang lainnya
pada telah berkeluarga semuanya. Dan tadinya kami tidak mungkin menugaskan
orang yang pada telah berkeluarga di Bali atau Singapore serta Batam karena
pertimbangan keluarga dan anak-anaknya itu. Kamu ini ditugaskan untuk di Bali
tidak mau dengan alasan keluarga tidak mengizinkannya. Ditugaskan di Singapore
kamu malah uring-uringan dan yang dibicarakan urusan pacar terus. Pindah tugas
di Batam kamu minta dipulangkan juga dan yang dibicarakan tetap hanya pacarmu itu.
Tadinya hanya kamu pilihan kantor ini untuk ditugaskan diluar kota karena kamu
masih single, Ricky..!! Ternyata kami salah memilih juga.!” Kata atasanku
terdengar keras sekali sambil berdiri dekat meja kerjaku membuat aku
terperanjat pula mendengarnya itu.
Sepertinya aku telah tersumbat mulutnya hingga salah tingkah karena aku
tidak dapat berbohong. Lalu atasanku melangkah dan duduk dikursinya sambil
ngomel kembali terdengar oleh semuanya. “Ricky. Yang kuasa di kantor ini bukan
kamu.!!! Tapi pimpinan kita semua. Tunggu sebentar lagi Bapak masih dalam
perjalanan, sebentar lagi Bapak akan datang khusus untuk berbicara dengan kamu
ini.” Kata atasanku terdengar sedang emosi pula.
“Ya, Pak.” Kataku heran dan terdiam sambil menatap pada para Office Mate
yang pada sibuk bekerja namun tidak ada satu kata-pun terucap kecuali bunyi
dering telepon yang mulai sibuk bekerja seperti biasanya di kantor-kantor.
Namun tidak lama kemudian aku masih mendengar suara pelan-pelan ledekan dan
ejekan para Office Mate yang menertawakan aku berpacaran dengan seorang Gay itu
membuatku malu ditahan juga. Lalu aku menunduk dan berfikir mengapa jadi
begini.
Tidak lama kemudian pimpinanku datang dan menyapa. “Selamat pagi
semuanya.” Kata pimpinanku. “Selamat pagi juga, Pak.” Jawab semuanya termasuk
aku juga. “Hey, Ricky. Kamu udah datang..!!?? Tunggu sebentar ya..!!” Kata
pimpinanku. “Iya, Pak.” Kataku melihat Boss-ku yang terlihat ramah dan
tersenyum lalu memasuki ruangannya itu. Tapi tidak lama kemudian atasanku
memasuki ruangan pimpianku itu juga. Setelah lima menit kemudian atasanku
keluar dan duduk dikursinya bersamaan dengan secretaris kantor berbicara.
“Ricky. loe dipanggil Bapak.!” Kata Sisty itu nadanya agak keras dan tidak
seperti biasanya membuatku bertanya-tanya pula.
Dalam keherananku, lalu aku memasuki ruangan pimpinanku itu dan aku
dipersilakan duduk dikursi depan pimpinanku itu. “Selamat pagi Pak.” Kataku
tetap sopan dalam keheranan yang nyata. “Ya selamat pagi juga, Ricky. Gimana
perkembangan di Batam itu?” Tanyanya dalam serius itu tatapannya tajam sekali,
tangannya memegang kertas permohonanku untuk kembali ke Jakarta itu, sepertinya
telah di print-out oleh sekretaris itu dan digandakan pula karena disetiap meja
para Office Mate juga ada dan tersimpan rapih sekali.
“Di Batam berlangsung baik. Event di Singapore bulan depan tetap akan
berlangsung. Beberapa peserta Exhibition telah ada yang akan berpartisipasi di
Singapore dan Batam itu. Salah satu perusahaan rokok ternama akan menjadi
sponsor Event itu juga, Pak. Kami telah bertemu dan meeting bersama mereka di
Batam.” Kataku. “Ya, ya….. Ricky. Saya sibuk, tidak banyak waktu untuk
berbicara. Terima kasih kamu sudah bergabung di kantor ini. Dan semua teman
kantor ternyata telah pada tidak suka dengan kamu, mereka merasa kamu ini under
estimate terhadap mereka.” Kata atasanku membuatku terperanjat kaget juga.
“Untuk kerja, kamu memang lumayan bagus. Tapi saya mempertimbangkan
temen-temen kantor itu yang merasa tidak nyaman dengan kamu. Mereka bilang kamu
ini under estimate pada yang lainnya. Masa teman kamu juga disini harus sujud
sama kamu, Ricky? Kamu memang pintar. Kamu mendengar kan omelan mereka? Saya
mengutamakan teamwork disini. Kemarin setelah saya terima permohonan kamu, kami
langsung meeting disini secara marathon hingga malam hari juga. Kamu ditugaskan
di Bali tidak mau, padahal kamu single. Ditugaskan di Singapore juga kamu
sepertinya uring-uringan gitu, ditugaskan di Batam juga kamu ingin pulang.”
Kata pimpinanku. “Ya, Pak. Saya mohon ma’af. Saya akan bekerja sesuai dengan
Job Descrition di kantor ini. Sekali lagi saya mohon ma’af jika sikap dan
perilaku saya terkesan under estimate terhadap teman-teman kantor disini. Saya
akan melanjutkan tugas itu disini dengan baik.” Kataku.
“Tidak bisa, Ricky. Terima kasih kamu sudah bergabung di kantor ini.
Silakan kamu berkemas-kemas saja dan bawa semua barang kamu dimejamu itu. Kamu
katanya mau pulang ke Jakarta. Ini Jakarta kan, Ricky. Sekarang kamu bisa
pulang bukan? Ini cheque gaji kamu yang terakhir.!” Kata pimpinanku sambil
memberikan cheque itu membuatku semakin terperanjat kaget sekali. “Ma’af, Pak…”
Kataku kaget, tapi pimpinanku itu langsung angkat tangan, tidak mau berbicara
lagi denganku dan tidak memberikan kesempatanku untuk dapat berbicara dengannya
itu. Tapi aku tetap memaksakan berbicara kembali. “Ma’af Pak. Saya masih ingin
bekerja disini. Saya….” Kataku tidak dilanjutkan karena pimpinanku itu langsung
mengangkat tangan kanannya kembali tinggi-tinggi sambil menatapku yang kini
menjadi salah tingkah dipecat dari pekerjaanya itu.
Sejenak aku terdiam dan meneteskan air mata sambil menatap pimpinanku
itu, lalu menatap selembar cheque terdapat angka gaji dan komisiku itu. Dan
ketika aku menarik nafas ingin berbicara kembali, pimpinan kantorku itu tetap
mengangkat tangan kanannya kembali pertanda memecat dan mengusir aku juga
melarangku untuk tidak berbicara kembali serta sekaligus ucapan selamat
tinggalnya.
Dengan berat hati, secara perlahan aku ambil selembar cheque itu namun
tetap sambil berbicara. “Terima kasih, Pak. Saya telah dapat bergabung di
kantor ini. Terima kasih juga dengan cheque ini.” Kataku terpaksa harus dapat
menerima keputusan pimpinan itu sambil bersalaman dengannya dan keluar ruangan
pimpinanku itu, lalu berkemas-kemas sambil berpamitan pada Office Mate yang
lainnya pula.
Terlihat mereka pada tatap menatap satu dengan yang lainnya, bahkan
senyum sinis, sepetinya mereka pada puas dengan dipecatnya aku dari pekerjaanku
itu karena mereka juga masih menertawakanku jika aku berpacaran dengan cowok
itu. Aku melangkah dengan tetesan air mata walau aku telah berusaha menahannya
semampuhku itu namun air mata tetap pada keluar dari celah-celah kelopak
bola-bola mataku terlihat oleh semuanya yang hanya menatap dalam senyum
kepuasannya itu. Yang semula hendak pulang dan akan bekerja di kantor pusat
ternyata kini sebaliknya, kini aku benar-benar pulang juga dari kantor itu.
Sepertinya mereka telah kompak dalam meetinnya itu untuk pada sepakat memecatku
karena menurut pengakuan mereka aku ini melawan dan mengatur sendiri; tidak mau
ditugaskan sebagai Branch Office Manager baik di Bali, Singapore dan Batam itu.
Aku tidak menyangka sedikitpun jika pada akhirnya aku harus meninggalkan kantor
dan gedung itu atas dasar karena sikapku yang pada dasarnya aku terbujuk rayu
Hadi; jangan mau tugas di Bali, Singapore dan Batam serta bujukan Hadi untuk
pulang dulu itu. Jika memang akhirnya akan seperti itu, aku lebih baik
mengutamakan kerja saja.
Aku teringat terus pada Hadi itu yang telah gencar menghubungiku dalam
sehari lebih dari lima kali dan tidak mengenal batas waktu dan kondisi;
membujuk aku agar lekas ke Jakarta dengan berbagai alasannya kangen dan
lain-lainya itu. Tidak terfikirkan jika sejak aku tidak mau ditugaskan di Bali
itu dinilai oleh pihak kantor itu. Dan kini aku berhenti di koridor gedung itu
sambil mengangkat Hand Phone lalu menghubungi Hadi, tak perduli dengan para
professional yang pada sedang sibuk disekitar gedung kantor itu juga tidak
perduli dengan CCTV-CCTV yang terpasang di seluruh pojok gedung itu pula
merekam segala gerak-gerik para pengunjung gedung mentereng dan tinggi mencakar
langit itu, termasuk merekam aku yang menangis ditahan sambil menghubungi
kekasihnya itu.
=====o0o=====
Tester
Random – Bersambung Summary 3
(Selengkapnya di buku bersangkutan)
=====o0o=====