Summary 2


SAMBUNGAN RANGKUMAN / SUMMARY 1

Boy Friend (Berpacaran)

FROM THIS MOMENT
(Lirik Lagu From This Moment – Shania Twain)

(I do swear that I'll always be there
I'd give anything and everything and I will always care
Through weakness and strength, happiness and sorrow
for better for worse, I will love you with every beat of my heart.)
From this moment life has begun, From this moment you are the one
Right beside you is where I belong, From this moment on
From this moment I have been blessed, I live only for your happiness
And for your love I'd give my last breath, From this moment on
I give my hand to you with all my heart
Can't wait to live my life with you, can't wait to start
You and I will never be apart, My dreams came true because of you
From this moment as long as I live, I will love you, I promise you this
There is nothing I wouldn't give, From this moment on
You're the reason I believe in love
And you're the answer to my prayers from up above
All we need is just the two of us, My dreams came true because of you
From this moment as long as I live, I will love you, I promise you this
There is nothing I wouldn't give, From this moment
I will love you as long as I live, From this moment on.
=====o0o=====

Sejenak aku termenung karena kami telah berkomitmen pacaran dengan laki-laki dan babak cinta terlarang akan segera dimulai juga. Obrolan-pun sangat seru dan akhirnya kesana kemari tentang kupasan dunia Gay/Bisex/Lesbi dan seterusnya menambah semakin akrab, sambil makan camilan yang ada dan serasa nyaman juga. Dan ternyata Hadi menginformasikan database alangkah banyaknya kaum Gay/Bisex/Lesbi di Indonesia ini, khususnya kaum lesbian yang jauh lebih banyak daripada kaum Gay/Bisex itu sendiri, sangat diluar dugaanku walau aku tidak percaya akan semua itu karena aku belum berpengalaman dan baru saja terjalin hubungan cinta terlarangnya itu.
Bersamaan dengan itu pula kini Hadi membuka ranselnya kembali lalu mengeluarkan DVD Gay/Bisex, Buku Agenda dan beberapa souvenir untukku. “Mas Ricky coba saja tonton DVD Gay ini. Orangnya cakep-cakep. Dan saya suka banget dengan Lucas, yang main dalam film ini. Lucas itu favorit saya.” Kata Hadi. “Oh, terima kasih, Hadi. Akan saya coba lihat DVD itu.” Jawabku sambil menerimanya. Asing, aneh dan terperanjatnya ketika Hadi akan berpamitan, tiba-tiba Hadi tersenyum ramah menghampiriku, sementara tangannya merangkul tubuhku dan mencium bibirku yang merah muda, bibirku yang pernah disukai teman wanitaku juga. Karuan saja aku merasa asing dan serba salah, juga salah tingkah pertama kali berpelukan dengan pria dan dicium bibirnya.
Aku suka dengan cara Hadi berjalan tampak terlihat seperti laki-laki tulen dan gentle, tidak ada orang yang akan mengira jika pada dasarnya sosok Hadi itu Gay tulen sejak kecil. Rasa sayang dan cinta terhadap pria kini mulai terasa tumbuh karena sosok Hadi adalah salah satu type pria yang aku sukai juga, namun tidak berlaku bagi pria yang lainnya karena aku Bisex dan tidak total mencintai laki-laki, kecuali jika sosok laki-laki itu terlihat tampan dan manly atau gagah sekali dalam ketampanannya juga. Rasa itu yang selama bertahun-tahun aku tutup erat-erat namun kini terjadi pula berpacaran dengan laki-laki itu, sepertinya babak baru dimulai.
Aku juga masih suka dan mencintai wanita namun sejak terputus dengan tunanganku hingga saat itu aku belum dapat pasangan lagi karena banyak faktor yang sangat mempengaruhiku, khususnya tentang pekerjaanku itu, karena aku terputus dengan tunanganku itu juga disebabkan tuntutan karier yang harus jauh lebih bagus dan sukses dalam keberhasilan yang nyata yang dapat dirasakannya, tuntutan wajar seorang keluarga yang cukup disegani dalam keluarga dan lingkungannya karena mereka jauh lebih sukses dibanding keluarga yang lainnya itu. Ku baru menyadarinya benar jika aku ini benar-benar sosok seorang Bisex yang seluruh teman dan anggota keluarga termasuk Ibuku tidak mengetahuinya jika salah seorang dari anaknya yang dilahirkannya ini memiliki kelainan jiwa yang rasa dalam hatinya dapat mendua dengan pria tampan bertubuh tinggi terlihat gagah, membuatku menjadi bingung sendiri atas keanehan dalam jiwa ragaku ini.
Kini aku menatap Hadi di mobil angkot karena angkot yang ditumpangi Hadi telah cukup menjauh mengarah ke arah Jakarta Timur, khususnya ke arah Lubang Buaya, Jakarta Timur itu. Karena kami telah menjalin hubungan Cinta Terlarang itu, aku dan Hadi selalu kontek baik melalui SMS maupun kontek langsung melalui Hand Phone. Pertemuan juga menjadi rutin bertemu baik di dalam kantor masing-masing temasuk jika pada weekend diluar rumah sambil pada makan siang diluar kadang-kadang makan malam bersama pula, dilanjutkan tidur bersama pula dalam balutan Cinta Terlarang tanpa ikatan resmi hitam di atas putih itu. Aku dan Hadi telah sepakat dan berkomitmen menjalin hubungan intim sesama jenis itu tanpa dikethui oleh siapapun, dan tanpa saksi resmi siapaun juga, dan dalam setiap pertemuan selalu diakhiri dengan bercinta bersamanya pula.
Kebetulan sosok Hadi itu sendiri type pria idamanku juga membuatku semakin semangat dan semakin jatuh hati kepadanya, karena aku juga baru pertama kali berpacaran dengan laki-laki itu karena selama ini aku hanya meredam rasa dalam hati dan bathin ini.
Rasa dan hasyrat biologis mendua “Bisex” dalam hatiku yang telah puluhan tahun aku tahan kini dapat tersalurkan dengan adanya sosok Hadi itu. Ini benar-benar baru pertama kalinya aku berpacaran dengan laki-laki itu yang sebelumnya aku tahan selama puluhan tahun karena banyak pertimbangan lainnya apalagi di Negara mayoritas religinya muslim ini. Hal ini bukan penyimpangan atau melawan religi namun memang aku sendiri dilahirkan mendua dalam rasa seperti ini, sama dengan kaum Luth yang lainnya dalam rahasia Tuhan yang tidak ada seorangpun yang dapat mengungkapnya itu, kecuali Tuhan itu sendiri sebagai penciptaNya untuk isi Planet Bumi sebagai salah satu kerajaanNya itu.
Balutan dan sentuhan serta belaian-belaian tangan lembut Hadi yang telah berulang kali mengatakan Gay sejak kecil memang sangat luar biasa, sehingga aku sendiri kini dapat terangsang dan bergairah pula. Televisi berukuran cukup besar mewarnai audio-visual film Gay/Bisex yang dibawa oleh Hadi itu sendiri membuatku senang berduaan dengan Hadi dalam buaian cinta terlarang remang-remang kegelapan malam yang hanya terhiasi sinar-sinar lampu neon taman di lantai atas dan sinar-sinar bintang di langit yang dapat aku tatap dari barisan jendela yang terbuka dan tembus pandang karena barisan jendela itu menggunakan kasa nyamuk.
Sinar bulan juga aku dapat menyaksikannya sambil berbaring dan bercinta dengan Hadi bagaikan sedang melepas rindu dan hasyrat yang selama puluhan tahun terpendam dan membeku dalam hati seiring mental jiwaku yang menutupi kelainan biologis aku sendiri. Ciuman halus dan lembut bibir Hadi dan belaian-belaian tangan lembutnya bagaikan sesuatu keajaiban yang selama ini baru dapat dirasakannya itu. Rangsangan dan cumbu rayu tanpa kata-kata di atas tempat tidur spring-bed empuk itu menambah keleluasaan bercinta sesuai dengan gerak alamiah insan-insan yang menyatukan cinta sesama jenis semakin memanas dan semakin eksposif nan lembut menjawab kepenasaranan yang selama ini aku tahan sekuat semampu mental dan jiwaku ini.
Seluruh pakaian aku dan pakaian Hadi menjadi saksi bisu apa yang kami lakukan dalam eksplorasi cinta terlarang dimalam yang sedang berbintang dan sempurnanya bulan purnama di atas Kota Jakarta itu. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana karena aku belum berpengalaman namun aku sepertinya bagai pasrah pada Hadi yang menggauliku sangat lama sehingga akupun terangsang sepanjang malam, bagaikan pasrah dan menyerahkan seluruh tubuhku pada kekasih yang sangat aku cintai itu. Juga sebaliknya akupun membalasnya dengan cinta tanpa kata dan hanya dapat dirasakan dalam gerakan-gerakan halus di atas tempat tidur itu.
Eksplorasi cinta terlarang di atas tempat tidur srping-bed empuk itu bagaikan mengeksplor dunia yang selama ini masih tertutup untuk umum dan hanya dapat dilakukan hanya oleh kaum Gay/Bisex itu saja yang dapat melakukannya, karena rasa mendua dalam hati bukan kami yang menciptakannya melainkan ada yang menciptakannya pula, sama dengan “rasa” yang dimiliki masyarakat umum yang lainnya itu. Eksplorasi cinta terlarang sepertinya tidak mengenal lelah dan dan tidak mengenal waktu, hingga jelang pagi hari, sehingga lagu-lagu Love Songs telah silih berganti judul menambah irama dalam hasyrat bercinta hingga pagi hari itu.
Akupun menyadarinya dalam hatiku ini jika bercinta dengan Hadi ini bagaikan pelampiasan yang selama bertahun-tahun ini aku tahan dan aku tutup sekuatnya karena khawatir jika aku membuka mulut lingkungan sekitarnya pada akan mengucilkan aku ini pula, karena aku juga memiliki banyak kawan yang sangat benci dan merasa jijik pada kaum Luth atau Gay/Bisex ini, tanpa disadarinya mereka berbicara dengan salah seorang Bisex pula membuat aku menjadi semakin tahu kondisi dilingkungan itu, bahkan banyak juga yang pada menghindar jika ternyata setelah diketahui sosok laki-laki itu Gay/Bisex.
Kami bercinta dalam semalam hingga beberapa kali karena Radi jikala sedang terjaga dan terbangun dari tidurnya selalu memeluk tubuhku kembali bahkan membelai-belai seluruh tubuhku hingga aku terangsang kembali dan bercinta kembali. Bahkan hingga pagi, termasuk setelah waktu subuh pula, sepertinya pada melampiaskan hawa nafsunya itu, hingga lupa daratan dikamar itu membuat aku lupa segalanya dalam cinta terlarang bersama Hadi itu. Aku mengikuti arah dan ekspresi berselancar cinta Hadi itu yang ternyata dapat berulang kali dalam satu malam.
Aku menyadarinya dan bertanya pada Tuhan, mengapa aku dan yang lainnya dilahirkan ke dunia ini seperti ini, dapat membagi rasa dan cinta dalam hati yang sebagian orang pada tidak mengetahuinya sekalipun keluarganya yang terdekat karena kami sama-sama menutupinya secara ketat sekali, sebab jika diketahui oleh orang-orang yang mengklaim paling suci, kami akan dicerca dan dihina, juga akan dikucilkannya bahkan diasingkannya bagaikan makluk Tuhan yang tidak ada artinya atas kelainan jiwa dan hatinya ini walau secara fisik kami terlihat manly seperti pria-pria yang lainnya itu, sementara perselingkuhan oleh para pria hidung belang ditempat lainnya masih tetap semakin merajalela berlangsung dengan berbagai alasannya itu pula. Bahkan yang secara diresmikan adalah dengan faham ‘Sunah Rasul’ dengan memiliki isteri banyak padahal intinya ma’af “sex” belaka karena banyak isteri dan anak dan pada tidak terurus yang ujung-ujungnya pertikaian dan perceraian pula, tidak ada yang memprotes dan mencacinya apalagi pada diusirnya karena tersumbat dengan kata “Sunnah Rasul” yang membohongi kaum wanita itu sendiri agar pada mau dipoligami dan lain sebagainya itu.
Selama aku menjalin hubungan Cinta Terlarang itu, tidak ada teman dan keluarga yang dapat mengetahuinya, kecuali Ibu-nya Hadi itu diawali ketika pada hari weekend di petang hari aku berkunjung kerumahnya Hadi bersama Hadi itu sendiri di daerah Lubang Buaya itu, karena Hadi telah diketahui oleh Ibu-nya jika Hadi itu seorang Gay sejak kecil di dalam anggota keluarganya itu.
Beberapa obrolan penting yang aku kaget adalah Ibu-nya bertanya pada Hadi. “Supri. Kamu suka sama Mas Ricky ya.!?” Tanya Ibu Sutiariyah itu tanpa diketahui oleh Ayah dan kedua kakak perempuannya memanggil Supri, panggilan nama lengkap Suprihadi Santoso yang selama ini aku panggil ‘Hadi’ itu. “Ya, Bu. Supri suka sama Mas Ricky. Dia orangnya baik juga pada saya, Bu.” Jawab Suprihadi Santoso (Hadi) terdengar tenang. “Oh. Gitu. Pantas selama ini kamu suka pamit sama Ibu jika kamu selesai kursus Bahasa Francis itu suka langsung menginap ditempat Mas Ricky ini. Dan kamu juga sering bersama dengan Mas Ricky ini kalau hari-hari libur itu.” Kata Ibu Sutiariyah. “Ya, Bu.” Jawab Hadi. “Ga apa-apa kalau kamu suka sama Mas Ricky. Memang Mas Ricky orangnya terlihat sepertinya baik juga sih. Tapi awas, jangan sampai ketahuan sama Bapakmu itu loh..!! Kalau kalian pada sampai ketahuan oleh Bapakmu, kalian pasti pada diusir dari rumah ini..!! Ibu ga mau kalau kita karus berpisah..!” Kata Ibu Sutiariyah itu mengingatkan Hadi. “Ya. Bu. Supri akan tutup mulut dan jaga sikap juga. Sampai sekarang juga kan Bapak sama Sari dan Warti tidak mengetahuinya kan, Bu.” Jawab Hadi. Aku sendiri mendengar perkataan itu dari kamar Hadi sempet terperanjat kaget sekali, Ibu Sutiariyah langsung menembak Hadi seperti itu, karena kamarnya bersebelahan itu.
“Ibu faham, kalian semua pada telah menjalin hubungan. Ibu tidak bisa bicara apa-apa lagi karena kalian sendiri yang akan menghadapinya itu, juga semua risikonya itu. Kalian harus jaga hubungan itu jangan sampai Bapaknya Supri dan kakak-kakaknya; Sari dan Warti pada tahu saja. Kalau Bapaknya Supri sampai tahu kalian pada akan disusirnya dari tempat ini. Anak saya memang udah begitu sejak kecil. Ibu tahu semuanya, Mas Ricky. Nitip anak saya saja, Mas Ricky. Jaga baik-baik semuanya…!!” Kata Ibu Sutiariyah itu menasehati aku sambil menunggu Hadi mandi itu.
“Iya, Bu. Terima kasih saya diizinkan berteman dengan Hadi ini.” Kataku malu juga karena tidak dapat membohonginya lagi. “Ya sudah, kalau begitu, kalian terlihat seperti teman saja agar tidak diketahui dan dicurigai oleh Bapaknya Supri dan kakak-kakanya itu. Jaga hubungan kalian itu.” Kata Ibu Sutiariyah keluar kamar karena Hadi selesai mandinya dan masuk kamar Hadi itu sendiri dalam ekspresi agak aneh. Kini aku berpacaran dengan laki-laki telah diketahui dan direstuinya pula oleh Ibunya sendiri seperti itu hanya secara lisan saja dan tanpa hitam di atas putih, seakan-akan aku merasa diberi jalan keleluasaan berpacaran dengan Hadi itu. Namun pembicaraan belum selesai Hadi selesai mandinya dan kini telah berada dalam satu kamar itu pula.
Hadi juga sempet kaget sambil menatapku tajam menyaksikan Ibu-nya ada dikamar Hadi itu dan berbicara denganku, yang kemudian Ibu-nya itu keluar setelah Hadi masuk kamar itu pula. “Ibu gue bilang apa, Rick.!?” Tanya Hadi agak keras dan kaget. “Ga bilang apa-apa, Di. Dia cuman nyaranin ma gue suruh jaga diri baik-baik aja atas hubungan kita ini agar jangan sampai kita ketahuan sama yang lainnya. Memangnya kenapa, Di..!??” Kataku agak heran juga dan serba salah. “Ooh. Iya, kita jangan sampai Bokap gue tahu hubungan ini. Kalau bokap gue tahu, bahaya, gue bisa diusir dari rumah ini. Gue juga ga suka sama Bokap gue.” Kata Hadi sambil berpakaian baju tidur dan santai, ekspresinya serius sekali. “Oh. Ko loe ga akrab sama Bokap loe, Di?’ Tanyaku.
“Ga. Gue sebel sama bokap gue..!! Sejak dia punya Isteri Muda waktu itu, gue sebel, kasihan sama Nyokap gue. Gue juga pernah ribut dan pernah berantem sama Bokap gue itu. Lama juga gue musuhan sama Bokap gue walau tetap serumah.” Kata Hadi membuatku terperanjat pula.
Hadi berpengalaman di dunia Gay sejak kecil, artinya berapa banyak pasangan yang telah hidup dan bercinta bersamanya pula termasuk para pria yang telah beristeri dan beranak itu membuatku termenung dalam berfikir serius karena aku baru dapat menyadarinya jika dunia Gay/Bisex itu telah berjalan lama juga yang selama ini belum terungkap karena para pelaku/pesakitan itu masing-masing menutup diri di masyarakat ini, walau penampilan mereka sama-sama pria tulen bahkan beristeri dan beranak pula, bahkan dianggap tabu, namun kenyataannya sangat potensial juga.
Aku yakin mereka pada tertutup karena banyak factor yang sangat mempengaruhinya itu khususnya di Negara berkembang atau di Negara yang mayoritas muslim seperti di Indonesia yang masih belum dapat menerimanya kaum Gay/Bisex/Lesbi tanpa disadarinya jika kaum Gay/Bisex/Lesbi juga sama-sama ciptaan Tuhan sebagai pemilik Planet Bumi-nya ini, namun masyarakat kebanyakannya pada mengklaim jika dirinya-lah yang paling suci dan paling bersih dari yang lainnya itu, Tuhan sendiri menciptakannya untuk penghuni Planet dan KerajaanNya pula, namum masyarakat itu yang pada mencaci dan mengucilkannya dalam sumpah serafahnya terhiasi tertawaan dan olok-olokkannya itu, belum dapat berfikir jika kita semua sebagai makhluk Tuhan yang sama ciptaan Tuhan pula sama dengan makhluk yang lainnya.
Kini aku menyaksikan koleksi DVD dan koleksi foto Gay/Bisex yang sangat banyak itu hanya bernafas panjang karena baru dapat menyadarinya ternyata dunia Gay/Bisex itu telah, sedang dan akan berlangsung pula selama umat manusia hidup di permukaan bumi ini walau selama ini tertutup pada publik, karena mungkin Tuhan tetap akan menciptakannya pula untuk isi KerajaanNya, kita semua yang pada belum menerimanya karena tidak pernah berfikir jika Tuhan itu sang pencipta segalanya termasuh roh dan jiwa ini, juga semua yang berada di Planet Bumi dan Planet Bumi itu sendiri dan lain-lainnya atas kehendakNya pula.
Pantas jika kaum Gay/Bisex/Lesbi sebagai minoritas di seluruh dunia juga pada protes mengklaim hak hidup-nya dalam penindasan dan diskriminasi terhadapnya beraneka ragam dengan Negara-Negara lainnya. Hadi juga menunjukkan beberapa foto mantan-mantan BF-nya termasuk foto teman-teman Gay-nya itu pula. Aku juga demi keamanan dan harga diri harus dapat berperan seperti teman kantor saja dalam sandiwara Cinta Terlarang dan terselubungnya itu sekaligus menunjukkan kesetiaannya itu pula.
Dalam hubungan Cinta Terlarang dan terselubung ini, Hadi yang telah berjanji akan setia padaku, Ia sering menginap di Salemba, Jakarta Pusat, dan berakhir dalam eksplorasi cinta terselubungnya itu di atas ranjang hingga pagi, kadang-kadang aku yang menginap di rumah Hadi, Lubang Buaya, Jakarta Timur itu hingga lama-lama dengan semua anggota keluarga Hadi itu serasa semakin akrab juga, bahkan seperti saudara saja, mereka tidak menyadarinya jika kami ini pasangan Gay-Bisex yang hidup dalam Cinta Terlarang dan terselubung diantara keluarganya, kecuali Ibu Sutiariyah itu yang telah mengetahui hubungan intim kami itu.
Dan disetiap kami pada akan tidur, ada kesamaan mendengarkan musik dan lagu, yaitu selalu mendengarkan musik khususnya lagu-lagu bertemakan cinta dan/atau Love Songs itu. Bahkan Hadi sendiri suka menyanyi mengikuti Love Songs itu dengan cara Lip-Synch-nya pula. Aku juga yang berbaring disampingnya kadang-kadang menyimaknya kata-perkata dari lirik lagu itu yang terucap dari mulut Hadi itu sambil kupeluknya erat sekali dalam balutan Cinta Terselubung Gay-Bisex itu.
Namun aneh dan herannya setiap kami tidur bersama Hadi, Hand Phone Hadi selalu diselipkan dibalik bantalnya sambil SMS-an dengan kawan-kawannya itu, kadang-kadang Hadi terlihat suka tertawa dan senyum sendiri sambil SMS-an dengan mitranya itu. Tapi aku masih toleran dan bijaksana menghadapinya semua itu.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan aku berpacaran dengan Hadi semakin lengket, dan yang paling sering kontek adalah Hadi itu sendiri daripada aku ini, bersamaan dengan pertemuan-pertemuan yang rutin dilakukannya seminggu tiga kali khususnya jikala waktu weekend itu selalu bersama baik siang maupun malam, tidur dan bercinta bersama pula, sementara aktivitas kantor tetap berjalan seperti biasanya saja, tidak ada orang yang mengetahui jika kami berpacaran cukup lama, seiring aku kini dikenalkan pada teman-teman Hadi yang ternyata Gay juga, mereka pada bekerja kantoran pula sama seperti kami bedua ini.
Tahun-pun berganti menginjak Tahun 2000 aku masih berpacaran dengan Hadi, aktivitas kantor dan yang lainnya sama seperti biasa. Bersamaan dengan perkembangan itu pula, Hadi pindah kantor, kini diterima bekerja di perusahaan asing yang bergerak dalam pengeboran minyak dan gas bumi yang berlogo kulit kerang warna kuning ada list merahnya.
Aku juga sepulangnya tugas dari Malaysia dan Singapore, pimpinan kantor (Boss) aku seperti biasa selalu mengadakan meeting secara bersama pula bersamaan dengan evaluasi pekerjaan yang telah dilakukannya sekaligus membuat agenda kerja berikutnya. Namun dalam kesempatan meeting itu lama-lama pembicaraan akhirnya terfocus padaku disaksikan oleh semua personil kantor International Event Organizer itu pula.
Sekembalinya dari kantor, seperti biasa aku suka menaiki taxi ke Salemba, Jakarta Pusat. Dalam kemacetan di taxi aku menghubungi Hadi via Hand Phone. “Di. Posisi loe dimana?” Kataku. “Hai, honey. Gue on the way pulang. Gue mau ketemu ma loe bisa kan malam ini? Gue kangen ma loe, Rick..!” Kata Hadi. “Oh, ya udah kemari aja. Sekalian nonton film di Metropol Megaria aja ya. Tapi kita ketemuan di Kentacky Fried Chicken aja dulu. Gue tunggu disana..!!” Kataku. “Ok, honey. Loe pulang dulu kan.!?” Tanya Hadi. “Gak. Gue ga pulang dulu. Gue gi males aja nih..!” Kataku. “Kenapa, Rick.?” Tanya Hadi. “Ga apa-apa, Di. Nanti kita ngobrol sambil makan KFC aja.” Kataku. “Ok kalau gitu. Gue kesana ya sekarang juga. I love you. Mmuuaacchhh..!” Kata Hadi menutup komunikasinya dengan ciumannya melalui Hand Phone itu dibales olehku sambil menatap kaca cermin taxi depan driver itu khawatir driver taxi menatapnya dan menertawakanku juga, atau mungkin tetarik denganku juga karena aku juga pernah suka dengan melihat sosok driver taxi yang ganteng sekali dan badannya tinggi sekali namun aku menahan rasa itu sekuat kemampuanku itu. Dan kini aku meluncur ke daerah Theater 21 Metropol Megaria sesuai dengan konfirmasi dengan BF-ku itu.
Obrolan seperti biasa kesana kemari sambil membahas film yang akan ditonton pula. Tampak aku juga melihat yang berpasangan dengan pria itu pula bukan hanya aku, bahkan ada juga yang terlihat mesra walau mereka telah berusaha pada jaga diri agar tidak terlihat oleh orang lain. Aku yakin mereka pasangan Gay juga walau mereka berusaha agar tidak terlihat dengan yang lainnya, namun dari gerak-geriknya mereka terlihat karena pasangannya tanpa sadar membersihkan kotoran makanan di dada dan pipi pasangannya dengan tissue bahkan cara bicaranya terlihat sekali sebagai pasangan sejati Gay membuat aku tersenyum pula karena aku tidak seperti itu.
Sepulangnya menonton itu, Hadi juga terlihat menatapku sangat tajam dan tidak berani bertanya karena aku masih berfikir serius tentang akan dipindahkannya tugas ke Bali itu. Karena Hadi pandai merayu dan menghibur akhirnya Hadi menggodaku dengan berbagai candaanya hingga sampai juga kerumah itu. Lalu kami mandi malam berdua dikamar mandi dan bahkan kini atas permohonan Hadi kami pada bercinta juga dikamar mandi, dan tanpa disadarinya ternyata pembantu memperhatikannya atas sikap dan gerak-gerik kami berdua itu namun aku tidak perduli dengan mereka itu.
Setelah kami mandi dan becinta berdua kami pada memasuki kamar seperti biasa dan pada berpakaian karena Hadi juga suka memakai pakaianku juga. “Rick. Boleh gue tidur dikamar yang sebelah ini?” Tanya Hadi ingin mencoba tidur dikamar yang sebelahnya. “Oh, kenapa, Di?” Tanyaku heran. “Gue pengen coba tidur dikasur itu. Terlihat nyaman dan empuk. Loe tahu kan kasur tempat tidur gue tidak seperti ini..!!?” Kata Hadi memelas membuat aku merasa iba dan kasihan juga, bahkan sayang. “Oh, boleh ga apa-apa, Di. Tapi AC-nya sedang rusak di kamar ini.” Kataku. “Ga apa-apa. Gue pengen coba tidur dikasur ini.” Kata Hadi. “Ya udah, kita tidur Disana aja, Di.” Jawabku sambil masuk ke kamar yang satunya dan langsung pada rebahan ditempat tidur yang memang empuk sekali karena tempat tidur spring bed itu.
Obrolan-pun jelang tidur berlanjut kembali sambil menonton TV di kamar, bahkan sambil berpelukan dalam kemesraan yang nyata. Tanpa dirasa obrolan yang tadinya kesana-kemari sedikit-demi sedikit mengarah pada urusan kantor dan tentang tugas ke Bali itu kembali. “Di. Menurut loe jika gue tugas di Bali bagaimana perasaan loe.!?” Tanyaku. “Tadi loe bilang sama orang kantor loe bagaimana, Rick?” Jawab Hadi. “Gue bilang, gue mau bilang dulu sama keluarga, Ibu gue. Padahal Ibu gue kan di Kuningan, Jawa Barat. Gue disini sendirian aja. Maksud gue sebetulnya bukan Ibu atau keluarga gue, tapi loe orang terdekat gue sekarang ini, Di. Pendapat loe bagaimana setuju ga kalau gue tugas di Bali itu.!?” Kataku menegaskan. “Berapa lama tugas di Bali-nya, Rick? Jadi apa pula loe disana.?” Tanya Hadi. “Kayaknya selamanya. Gue jadi Branch Office Manager di Bali. Jika tidak salah, Boss gue bilang kalau mau pulang dulu boleh, tapi per-dua bulan sekali, biaya dari kantor. Kalau rutin pulang, biaya ditanggung sendiri.” Kataku.
“Wah, jangan-lah kalau gitu.! Gue sayang ma loe. Kalau gue mau ketemu sama loe, gaji gue kagak cukup untuk sekali bertemu, apalagi rutin bertemunya. Belum untuk makan, hotel dan lain-lainnya itu. Gaji loe juga ga cukup untuk rutin ketemuan itu.” Kata Hadi. Sejenak aku termenung dalam serius. “Iya sih. Nantinya kita jarang ketemuan juga. Gue juga masih bingung sih, Di. Jawabannya besok harus udah disampaikan sama Boss gue.!” Kataku resah juga dalam berfikir seriusku.
Kini pelukan Hadi di tempat tidur itu semakin erat sambil berbicara.”Gue sayang ma loe, Rick. Jangan mau kalau lama. Bilang saja Ibu loe dan keluarga loe ga setuju loe tugas di Bali itu. Gue susah nantinya kalau mau ketemuan. Sekarang aja dalam seminggu kita ketemuan rata-rata tiga kali.” Kata Hadi pelukannya semakin erat sekali. “Ok. Gue harus berbohong juga besok. Tapi loe janji ya setia sama gue, Di.!?” Kataku. “Iyeee…. Mmuaacchh…!!” Kata Hadi sambil mencium keningku, bahkan meraba-raba dada berbulu-ku ini. “Ok, kalo gitu. Deal ya, Di..!” Kataku menegaskan. “Iyeee….!!!” Kata Hadi sambil mencium bibirku perlahan-lahan yang telah merah bekas bercinta di kamar mandi tadi.
Dan kini bercinta-pun berlanjut kembali di kamar, dan Hadi sepertinya nafsu sekali. Seluruh pakaian akhirnya pada lepas dari sosok tubuh para pria ini diiringi lampu kamar yang pada di-off-kan, hanya pantulan remang-remang lampu taman menembus jendela-jendela yang cukup jelas pula untuk beraksi di atas kasur empuk pilihan Hadi itu. Sentuhan-sentuhan dan belaian-belaian tangan Hadi yang memang tangannya lembut dan halus itu juga menambah rangsangan bagiku membuatku heran sekali sehingga aku dapat mudah terangsang oleh sentuhan tangan-tangan Hadi itu. Tanpa ada kata-kata semua tubuhku kini menjadi bergairah kembali sambil akupun berusaha membalasnya pula dengan bahasa isyaratnya itu sebagai perwakilan bahasa kata-kata itu, perwujudan dari Bahasa Kalbu dan perasaan dari masing-masing makhluk Tuhan yang Gay dan Bisex yang pada sedang mabuk asmara terpendam namun sangat bergairah dalam kobaran asmaranya itu.
“Loe type gue banget, Rick.! Bulu dada dan perut loe membuat gue semakin bergairah juga.” Kata Hadi sambil terus menggauliku ini. “Iya. Thank you, Di. Tapi gue ga mau diselingkuhin ya. Loe harus janji ma gue.” Kataku tetap sambil bercinta. “Iyeeee….!!! Gue janji sama loe, yang penting loe tetap sama gue dan ngerti keinginan gue.” Kata Hadi. Mendengar janji dari Hadi itu aku percaya, lalu aku memeluk erat sekali bagai menyerahkan badanku ini karena Hadi tetap membelai-belai titik lemah aku hingga aku semakin terangsang bagai yang pasrah pula. Dan Oh, My God, Hadi dapat bersetubuh denganku pula, aku kesakitan pula namun aku tetap memeluk tubuh Hadi erat sekali bersamaan Hadi yang semakin lama semakin ereksi dan mengerang, juga mendesah sangat keras hingga terdengar jelas erangan dan desahan kenikmatannya itu. Aku sendiri memeluk Hadi erat sekali dalam berselancar cinta terlarang itu bagaikan sedang menyerahkan diriku ini dalam bahtera cinta terlarang itu karena merasa Hadi-lah yang aku cintai selama ini yang berulang kali berjanji.
Pada pembukaan awal meeting pembicaraan masih ruang lingkup kegiatan dan Event kantor di Singapore itu, namun pada akhir meeting akhirnya pimpinan kantor menatapku serius sekali sambil berbicara. “Pak, Ricky. Kamu ikut tugas di Singapore.” Kata pimpinanku. “Baik, Pak.” Jawabku disaksikan oleh semua personil kantor itu. “Pak Ricky, kamu ke Batam dulu, simpan perlengkapan kantor bersama perlengkapan pribadimu di apartemen Batam Center yang untuk di Batam. Kemudian kamu ke Singapore. Setelah kelar tugas di Singapore, kamu kembalinya ke Batam lagi dan bergabung dengan temanmu di Batam itu pegang kantor bagian Batam dan Provinsi Riau itu untuk dapat turut Event Exhibtion di Singapore dan Batam itu bersama Pak Kiki.” Kata pimpinanku itu. “Baik, Pak. Kapan kira-kira saya harus mempersiapkannya?” Tanyaku agak serba salah. “Besok kamu persiapkan perlengkapan kamu untuk di Batam. Yang untuk Singapore biarkan Pak Jedy yang mengaturnya. Hari berikutnya kamu langsung terbang ke Batam saja dulu, nanti kita ketemuan di Singapore.” Kata pimpinanku. “Baik, Pak.” Jawabku.
Kemudian pimpinanku menatap bagian accounting dan secretaris. “Pak Tony, Pak Ricky kasih pegangan dana untuk selama di Batam. Jika kurang, biacara saja lagi tapi bill pengeluarannya sertakan saja, Pak Ricky.” Kata pimpinanku itu. “Baik, Pak.” Jawab Tony manggut. “Sisty. Pesan ticket pesawat aja sekarang untuk Pak Ricky, ke Batam dan Singapore.” Kata pimpinanku menatap secretaries kantor. “Ya, Pak. Nanti akan saya kerjakan.” Kata Sisty manggut pula lalu menatapku. “Pak Ricky. Kamu konsentrasi saja di Batam dan Provinsi Riau itu untuk Singapore dan Batam itu sendiri. Biarkan yang di Jakarta ini untuk petugas kantor yang disini saja.” Kata pimpinanku menegaskan kembali. “Ya, Pak.” Jawabku. Kemudian meeting-pun dilanjutkan dengan pembicaraan Event itu. Setelah meeting kelar, terdengar Sisty langsung memesan ticket pesawat dan hotel dengan namaku yang tercatat dalam salinan passport-ku itu, termasuk apartment di Batam Center itu sendiri. Aku berfikir sepertinya harus bicara lagi pada Hadi bagaimana solusinya itu. Siap atau tidak siap, aku harus berbicara dengan Hadi. Aku harus siap berpisah dengan Hadi karena aku harus menjalankan tugas kantor itu. Selama dalam taxi di perjalanan pulang, aku menghubungi Hadi melalui Hand Phone, dan Hadi akan bertemu denganku kembali.
Sepulangnya aku ke rumah, aku berkemas sambil menunggu Hadi datang. Hadi-pun akhirnya datang ke tempatku kembali malam-malam itu dan terperanjat agak kaget pula melihat aku kini berkemas seperti itu. Koper besar dan koper kecil telah siap-siap rapih sekali termasuk perlengkapan kerja juga. Aku tidak dapat berbuat banyak, akhirnya aku harus pamit pada Hadi itu. Hadi juga pada akhirnya harus menerimanya jika aku harus pergi untuk sementara waktu dahulu. Malam perpisahan erat sekali dikamar itu, bercinta-pun hingga sampai pagi. Aku dapat merasakan rasa bimbang dan sedih harus berpisah dengan kekasihku itu yang sama-sama pria juga dalam Cinta Terlarang tanpa ikatan resmi hitam di atas putih. Bercinta telah berlangsung dengannya cukup lama dan menginjak tahun kedua. Hadi juga mencium keningku penuh dengan kasih sayang. “Semoga loe ga lama di Singapore dan Batam itu ya, Rick.” Kata Hadi memeluk erat tubuhku dalam tidurnya malam itu. “Iya. Gue sebetulnya berat hati juga harus perpisah seperti ini. Gue sayang sama loe, Di.” Kataku sambil mencium bibir Hadi itu, bahkan memeluknya erat sekali.
=====o0o=====

Batam &  Singapore
Dan selama kami tidur berdua, lagu-lagu Love Songs terdengar sepanjang malam karena kebetulan kami pada suka dengan lagu Love Songs itu. Bahkan kadang-kadang turut bernyanyi Lip Synch walau secara perlahan-lahan pula sambil pada tidur itu. Kami sendiri hampir pada hafal lirik-lirik lagunya juga. Aku sendiri tidak mengira jika pada akhirnya dapat berpacaran hingga menginjak tahun kedua dan bertemu hampir setiap hari, berakhir dalam urusan ranjang itu, khususnya pada weekend itu.
Kini rasa enggan berpisah terasa sekali apalagi meninggalkan seorang kekasih yang sangat aku sayangi itu. Aku juga merasa mendapatkan sosok orang seperti Hadi susah sekali hingga harus bertahun-tahun dalam kamuflase aku sendiri menahan rasa “Bisex” dalam hati ini. Aku benar-benar merasa serba salah. “Gue juga suka ma lue, Rick. Gue juga ga mau berpisah sama loe. Gue nyaman sama loe, Rick. Mmmuuacchh…!” Kata Hadi menciumiku, melanjutkan bercintanya melepas perpisahan itu. Rasa kesedihan juga kini aku dapat merasakannya walau hanya dalam Cinta Terlarang itu. Aku harus meninggalkan seseorang yang aku sayangi, juga sebaliknya Hadi terlihat gelisah dan resah juga ditinggalku seperti itu.
Selesai sarapan pagi itu, aku hanya tatap menatap dengan Hadi, berbicara tanpa kata. Pagi itu kami benar-benar harus dapat rela berpisah apapun alasannya itu. Hadi berangkat kerja, aku berangkat ke Bandara Soekarno-Hatta untuk ke Batam dan Singapore dalam tugas itu. Aku benar-benar kesal dan benci juga jika aku harus pergi lama di Singapore dan Batam itu. Tapi apa mau dikata aku harus turut dalam keputusan manajemen kantor itu. Siap atau tidak siap aku harus siap apapun risikonya itu, lalu aku menaiki salah satu pesawat di Soekarno-Hatta Airport itu.
Aku masih teringat berjalan berduaan dengan Hadi, tanpa ada seorangpun yang mengetahuinya jika kami ini sepasang kekasih Gay dan Bisex. Penampilan kami benar-benar manly dan terlihat Office Looking, tidak ada yang dapat mengira jika kami ini memiliki kelainan hasyrat dan biologis. Karena jika kami membuka kartu pada public, masyarakat dan keluarga tentunya pasti pada akan protes, pada mencaci, pada memaki, pada mencerca, pada menghina dan pada mengasingkannya bahkan pada mengucilkannya bagai pada makhluk yang tidak ada harganya, tanpa disadarinya jika kami ini hanya produk Tuhan sang pencinta langit dan bumi ini. Aku sebetulnya enggan berangkat, namun apa mau dikata, ini tugas apapun aku harus melakukannya karena pekerjaan itu.
Aku menjadi teringat dengan warga yang menyanjung dan memuja hewan-hewan peliharaanya bahkan ada yang diberi kalung emas dan berlian dan potong rambut (bulu/surai) serta mandinya di salon ternama dan termahal, sementara manusia yang memiliki kekurangan dan kelainan sedikit saja pada langsung dicaci-makinya dan pada diasingkan dari lingkungannya dalam kebengisan dan cemoohan manusia yang dapat berfikir dalam. Sepertinya hewan peliharaan jauh lebih berguna dan jauh berharga daripada manusia yang memiliki kekurangan sedikit saja. Aku tersenyum semu dalam pesawat atas keanehan sikap manusia itu sambil menatap awan-awan yang telah dilewati pesawat yang aku tumpangi itu. Penerbanganku mulai terasa tidak nyaman dan membosankan, aku menatap jam tangan di tangan kiriku ternyata penerbangan baru 35 menit dan kalendernya Tahun 2000.           
Dan fikiran masih teringat dengan segala kejadian dengan Hadi yang aku sayangi dalam Cinta Terlarangnya itu. Aku benar-benar dapat merasakannya jika aku ini seorang Bisex yang memiliki rasa cemburu di atas tirai Cinta Terlarang tanpa ikatan resmi hitam di atas putih itu karena bercintanya disetiap pertemuan dengan sang kekasih sesuai dengan keinginan Hadi dan selalu berakhir dengan adegan ranjang dalam sex-nya itu. Kebersamaan dan bercinta tanpa mengenal batas waktu itu baik, pagi, siang jika sedang pada berlibur, sore atau malam masih teringat dalam benakku, mengapa aku menjadi terbujuk rayu dan suka terbawa seperti itu.
Semua rasa dalam hati dan perasaan tidak dapat aku lupakan walau aku telah berusahanya untuk dapat melupakannya, aku menyadarinya jika semua rasa itu hanya Tuhanlah yang menciptakanNya untuk bagian kecil penghuni Planet Bumi ini karena kehidupan Gay/Bisex/Lesbi itu bukan hanya terjadi di Indonesia namun terjadi dan terdapat disemua Negara di dunia ini. Tapi Negara-negara lain itu pada menerimanya dan saling hidup rukun pula satu dengan yang lainnya, dalam kebebasan hidup bersamanya; tidak saling mencemooh, tidak mencaci, tidak menghina, tidak tidak usil, tidak mengucilkannya dan lain-lainnya hingga mereka aman.
Setibanya di Apartement Batam Center, kini Hadi menghubungiku kembali via Hand Phone itu. Obrolan-pun seperti biasa berlangsung hingga aku selesai belanja dan memasuki ruang kamar apartemen itu, dan kini terasa berbeda karena di dasarkan pada masing-masing rasa kangen itu. Selama aku di Batam, dalam satu hari Hadi menghubungiku lebih dari lima kali; kadang pagi-pagi, siang, sore, petang dan malam, dan sekali menghubungiku hingga cukup lama juga waktunya itu, karena biaya komunikasi di Hand Phone Hadi kantornya yang membiayainya.
Setelah aku kelar tugas di Batam aku langsung ke Singapore, meninggalkan segala perlengkapanku di kamar Apartement Batam Center itu, karena aku kembalinya harus ke Batam lagi sesuai dengan mandat pimpinan kantorku itu. Apatemen juga kebetulan telah di booking oleh kantor tempatku bekerja. Dan Hadi tetap menghubungiku walau aku telah di Singapore itu. Sehari menghubungiku lebih dari lima kali sehingga akhirnya pembicaraan kami tersadap dan tersimpulkan juga oleh para Office Mate karena yang dibicarakan hanya obrolan ringan dan bukan urusan kantor. Tapi semua Office Mate pada memakluminya karena aku meneima panggilan Hand Phone jika sedang pada break kerja agar semuanya dapat tersolusikan secara bersamaan pula.
Namun tetap para Office Mate telah memiliki kecurigaan denganku itu karena kadang-kadang aku terpancing dengan perkataan dan pertanyaan Hadi yang harus di jawab walau aku harus menggunakan istilah, tapi para Office Mate itu tetap pada mengerti makksudnya itu.
Hari berganti hari hingga aku cukup lama di Singapore dan jika aku sedang resah, aku suka berjalan kaki sambil menghirup udara segar disana. Ketika selesai tugas di Singapore aku kembalinya ke Batam; Apatement Batam Center itu. Hadi masih gencar menghubungiku sehari lebih dari lima kali dengan berbagai alasannya; kangen dan lain-lainnya.
Para Office Mate di Batam juga saling tatap-menatap dan pada senyum bahkan pada membicarakan posisiku ini. Bahkan ada teman kantor perempuan yang dengan latahnya terucap. “Ko, Pak Ricky ganteng-ganteng itu pacaran sama cowok sih? Mesra juga bicaranya.!?” Kata temanku, Nely, itu terdengar olehku sendiri, berbicara dengan temanku yang laki-laki karena heran. “Nggak.! Aku hanya ledek-ledekan saja sama temen ko.! Bercanda dan meledek temen kan bisa aja caranya bagaimana.” Kataku membela diri. “Oh, Ma’af, Pak Ricky. Aku kira Pak Ricky ga dengar aku. Aku sangat kaget saja… Tapi… Tadi yang kontek kan laki-laki..!? Ma’af, ya Pak Ricky. Aku salah ucap.” Kata Nely terlihat serba salah, namun ekspresinya heran tujuh keliling menghadapiku yang pada akhirnya tercium juga seperti itu karena frequency Hadi menghubungiku melebihi batas pula.
Sepulangnya pada petang hari ke kamar apartemen, aku resah, gundah dan serba salah. Fikiranku menerawang jauh dan hampa. Semua orang kantor termasuk yang di Jakarta kini pada telah mengetahuiku jika aku ini sosok Bisex yang sedang berpacaran dengan seorang Gay juga di Jakarta, dan mereka juga pada telah mengetahui sosok Hadi ketika janjian denganku dan Hadi menjemputku ke kantor itu. Aku menarik nafas panjang dalam kegundahan dan keresahanku itu bercampur rasa malu juga. Bersamaan dengan itu kini terdengar bunyi suara Hand Phone-ku berdering, dan setelah aku lihat yang menghubuniku ternyata Hadi.
“Hai, Di.” Kataku. “Hai, Rick. Lagi apa kamu, Rick.?” Tanya Hadi. “Gue sedang berbaring aja dikamar apartemen.” Jawabku. “Wah, enak bener.? Kangen nih gue ingin ikut bersama. Pengen ketemu dan tidur bersama loe.” Kata Hadi. “Gue masih di Batam, Di. Sabar ya, nanti juga gue kembali lagi ke Jakarta.” Kataku. “Kapan? Lama banget sih loe tugasnya? Di Singapore juga lama. Gue kira loe pulangnya ke Jakarta, tahunya pulang ke Batam. Disambung lagi di Batam lama.” Kata Hadi. “Iya. Gue kan udah bilang, kalau gue mau ke Batam dulu. Gue hanya menjalankan tugas boss gue aja, Di. Sabar ya, Di.” Kataku. “Sepi nih ga ada loe, Rick. Kangen gue..!” Kata Hadi. “Iya, Gue ngerti. Gue juga kesepian nih, Di.” Kataku.
Dan obrolan-pun seperti biasa, kesana-kemari cukup lama hingga malam hari. Keluhan Hadi sering terucap merasa kangen dan kesepian dan lain-lainnya membuatku lama-lama berfikir juga sebagai pacarnya ini. Aku juga menyarankan jika akan menghubungiku jangan sampai ketahuan oleh para teman kantorku itu khususnya pada jam sibuk kerja. Aku juga berbicara jika semua teman kantor pada telah mengetahuiku jika aku berpacaran dengan Hadi itu pula. Tapi sepertinya Hadi tidak perduli dengan semua itu. Hadi tetap menyarankan agar aku dapat pulang dulu ke Jakarta dengan berbagai alasannya itu.
 “Iya, Di. Gue usahakan agar gue juga dapat pulang dulu ke Jakarta. Tunggu saja ya agar gue dapat kesempatan pulang dulu. Kita bisa ketemuan dan bercinta seperti biasa. Kita puas-puasin bercinta.” Kataku menghibur Hadi yang merasa kanget berat denganku itu. “Ok, gue tunggu ya Rick. Kangeeeennn….!!! Mmuaach..!” Kata Hadi. “Mmuaach juga…” Kataku membalasnya juga. “I love you. Met tidur ya.” Kata Hadi. “Me too. Met tidur juga. Mimpi yang indah ya…” Kataku. “Ok. Bye…” Kata Hadi menutup komunikainya. Aku-pun langsung tertidur sendirian di apartment itu tanpa seorangpun yang menyentuhku.
Hari berganti hari seiring bergulirnya waktu, hingga aku tinggal di Batam menginjak bulan ketiga pada tahun 2001 itu. Rasa bosan mulai merasuki pribadiku walau aku telah berusaha mengusir sepi dan resah juga kesepian dengan sering berjalan-jalan seputar Pulau Batam itu. Bahkan jika pada hari libur dan weekend aku berjalan-jalan ke Singapore dan Malaysia juga, berangkat pagi pulang malam hari ke Batam kembali bagai Jakarta-Depok saja yang dapat ditempuh 15 menit perjalan melalui kapal. Dan Hadi masih tetap gencar menghubungiku bahkan semakin gencar frequency-nya kontak aku sehari lebih dari lima kali membuatku kewalahan juga, memohon agar aku dapat pulang dulu. Karena aku merasa pacarnya, aku berjanji pada Hadi jika aku akan berusaha membuat alasan di kantorku agar aku dapat pulang dulu. Akhirnya aku membuat laporan dan permohonan ke kantor pusat di Jakarta agar aku dapat pulang dulu.
Tidak lama kemudian, secretaris kantor menghubungiku. “Halo, selamat siang, Pak Ricky.” Kata Sisty. “Ya selamat siang juga, Mbak Sisty. Ada yang dapat saya bantu?” Kataku. “Kamu bikin surat pengen pulang ke Jakarta ya, Rick.!?” Kata sekretaris kantor, Sisty, itu nadanya agak lain dan agak keras membuatku agak heran juga. “Oh, Ya. Betul sekali. Gimana udah dipelajarin-kah?” Kataku. “Udah. Kata Bapak, kamu beli ticket pesawat aja sekarang minta tolong sama bagian accounting disana. Besok pagi-pagi kamu ke kantor..!” Kata Sisty itu. “Ok, kalo gitu. Sekarang saya mau beli ticket pesawat dan besok saya seperti biasa ke kantor. Sampai ketemu besok ya, Sis..!” Kataku senang permohonannya di acc juga. “Ok..! jangan lupa besok pagi-pagi.” Kata Sisty menutup pembicaraannya. “Baik. Besok saya ke kantor sana.” Kataku senang sekali.
Lalu aku keluar kantor sebentar ingin menghubungi Hadi. Namun alangkah terperanjatnya, ketika aku menutup komunikasi itu, ternyata Pak Kiki terlihat sedang tersenyum sinis dan berjalan menghampiriku juga, jaraknya dekat sekali membuatku kaget ditahan. “Pak, Ricky. Ticket pesawat udah dipesan dan dalam perjalanan kemari. Setelah menyelesaikan pekerjaan disini nanti, semua berkas kantor perlengkapanmu itu sekalian saja dibereskan juga. Besok pagi kamu ditunggu pimpinan di kantor pusat, Jakarta itu.” Kata Pak Kiki serius pula. “Oh, iya, Pak Kiki. Akan saya selesaikan semuanya. Terima kasih.” Kataku melangkah memasuki kantor itu kembali dan melanjutkan aktivitasku. Namun anehnya semua Office Mate kini terlihat pada terdiam dalam kesibukannya, hanya tatapan-tatapan bola mata saja.
Aku juga menjadi berulang kali bergumam; “I’LL BE THERE, DI. And I Love You Too…!”. Lalu aku berkemas-kemas termasuk semua perlengkapan kerjaku juga kini pada dibawanya pula, tanpa ada yang ditinggalkan karena perlengkapan sehari-hari disana milik apartement itu. Yang ada difikaranku ini aku dapat bekerja kembali di kantor pusat di Jakarta, dan aku juga akan rutin bertemu dengan kekasihku itu, kami dapat bersatu kembali dalam hubungan intimnya itu pula walau tanpa ikatan hitam di atas putih, karena Ibunya juga telah merestuinya secara lisan, backsreet dari semua anggota keluarganya itu demi keamanan Hadi dan aku pula. “I’ll be there, Di. Gue nanti malam balik ke Jakarta. Gue juga bawain oleh-oleh satu stel pakaian kerja dan farfume buat loe.” Kataku berguman dan senang juga akan bertemu dengan sang kekasih yang aku cintai juga selama ini.
Setibanya di Jakarta, alangkah kaget dan herannya ketika aku memasuki ruangan kantor, semua Office Mate sikapnya pada terlihat asing dan aneh pula, sama dengan yang terdapat di kantor Batam; mereka pada sibuk namun mulutnya pada diam sementara bola-bola matanya pada saling menatap dengan yang lainnya.
=====o0o=====

Job Fired  ( PHK )
Sapaan selamat pagi-ku hanya dijawab dengan hampa dan aneh sekali membuatku bertanya-tanya dalam keherananku ini. Dan ketika aku mencari database-ku untuk prospect pekerjaan, tampak semua database aku telah pada lenyap dari meja utama padahal penting sekali database itu. Ketika aku membuka laci mejaku juga tampak kuncinya telah dibuka dengan sistim congkel dan database-nya telah pada lenyap pula membuatku heran sekali, tapi mereka sepertinya tidak perduli denganku ini.
Namun tidak lama kemudian atasanku melangkah menghampiriku sambil berbicara dengan nada keras sekali. “Mas Ricky. Kapan datang?” Tanya atasanku membuatku heran karena selama ini aku suka dipanggil ‘Pak Ricky’ oleh semuanya. “Tadi malam jam 23:00, Pak.” Kataku. “Oh. Sekarang tinggal dimana? Masih bersama Ibu-nya-kah.?” Tanya atasanku. Tapi anehnya tiba-tiba ada yang nyeletuk bicara keras juga. “Sama pacar Gay itu. Gay itu suka sama orang yang brewokan..!” Kata salah seorang Office Mate itu terdengar meledek aku membuat yang lainnya pada tersenyum ditahan. Sepertinya mereka pada benci padaku terlihat dari sikap dan cara bicaranya itu juga database-ku hingga lenyap pula.
Namun aku menahan mental dan kesabaranku pagi-pagi telah diteror seperti itu. “Saya stay di hotel sendirian Pak. Rumah di Salemba udah dijual. Keluarga saya tidak disana lagi.!!” Kataku jujur. “Oh gitu. Ricky. Bukannya kamu masih single? Setahu kami yang single di kantor ini hanya kamu, Ricky. Yang lainnya pada telah berkeluarga semuanya. Dan tadinya kami tidak mungkin menugaskan orang yang pada telah berkeluarga di Bali atau Singapore serta Batam karena pertimbangan keluarga dan anak-anaknya itu. Kamu ini ditugaskan untuk di Bali tidak mau dengan alasan keluarga tidak mengizinkannya. Ditugaskan di Singapore kamu malah uring-uringan dan yang dibicarakan urusan pacar terus. Pindah tugas di Batam kamu minta dipulangkan juga dan yang dibicarakan tetap hanya pacarmu itu. Tadinya hanya kamu pilihan kantor ini untuk ditugaskan diluar kota karena kamu masih single, Ricky..!! Ternyata kami salah memilih juga.!” Kata atasanku terdengar keras sekali sambil berdiri dekat meja kerjaku membuat aku terperanjat pula mendengarnya itu.
Sepertinya aku telah tersumbat mulutnya hingga salah tingkah karena aku tidak dapat berbohong. Lalu atasanku melangkah dan duduk dikursinya sambil ngomel kembali terdengar oleh semuanya. “Ricky. Yang kuasa di kantor ini bukan kamu.!!! Tapi pimpinan kita semua. Tunggu sebentar lagi Bapak masih dalam perjalanan, sebentar lagi Bapak akan datang khusus untuk berbicara dengan kamu ini.” Kata atasanku terdengar sedang emosi pula.
“Ya, Pak.” Kataku heran dan terdiam sambil menatap pada para Office Mate yang pada sibuk bekerja namun tidak ada satu kata-pun terucap kecuali bunyi dering telepon yang mulai sibuk bekerja seperti biasanya di kantor-kantor. Namun tidak lama kemudian aku masih mendengar suara pelan-pelan ledekan dan ejekan para Office Mate yang menertawakan aku berpacaran dengan seorang Gay itu membuatku malu ditahan juga. Lalu aku menunduk dan berfikir mengapa jadi begini.
Tidak lama kemudian pimpinanku datang dan menyapa. “Selamat pagi semuanya.” Kata pimpinanku. “Selamat pagi juga, Pak.” Jawab semuanya termasuk aku juga. “Hey, Ricky. Kamu udah datang..!!?? Tunggu sebentar ya..!!” Kata pimpinanku. “Iya, Pak.” Kataku melihat Boss-ku yang terlihat ramah dan tersenyum lalu memasuki ruangannya itu. Tapi tidak lama kemudian atasanku memasuki ruangan pimpianku itu juga. Setelah lima menit kemudian atasanku keluar dan duduk dikursinya bersamaan dengan secretaris kantor berbicara. “Ricky. loe dipanggil Bapak.!” Kata Sisty itu nadanya agak keras dan tidak seperti biasanya membuatku bertanya-tanya pula.
Dalam keherananku, lalu aku memasuki ruangan pimpinanku itu dan aku dipersilakan duduk dikursi depan pimpinanku itu. “Selamat pagi Pak.” Kataku tetap sopan dalam keheranan yang nyata. “Ya selamat pagi juga, Ricky. Gimana perkembangan di Batam itu?” Tanyanya dalam serius itu tatapannya tajam sekali, tangannya memegang kertas permohonanku untuk kembali ke Jakarta itu, sepertinya telah di print-out oleh sekretaris itu dan digandakan pula karena disetiap meja para Office Mate juga ada dan tersimpan rapih sekali.
“Di Batam berlangsung baik. Event di Singapore bulan depan tetap akan berlangsung. Beberapa peserta Exhibition telah ada yang akan berpartisipasi di Singapore dan Batam itu. Salah satu perusahaan rokok ternama akan menjadi sponsor Event itu juga, Pak. Kami telah bertemu dan meeting bersama mereka di Batam.” Kataku. “Ya, ya….. Ricky. Saya sibuk, tidak banyak waktu untuk berbicara. Terima kasih kamu sudah bergabung di kantor ini. Dan semua teman kantor ternyata telah pada tidak suka dengan kamu, mereka merasa kamu ini under estimate terhadap mereka.” Kata atasanku membuatku terperanjat kaget juga.
“Untuk kerja, kamu memang lumayan bagus. Tapi saya mempertimbangkan temen-temen kantor itu yang merasa tidak nyaman dengan kamu. Mereka bilang kamu ini under estimate pada yang lainnya. Masa teman kamu juga disini harus sujud sama kamu, Ricky? Kamu memang pintar. Kamu mendengar kan omelan mereka? Saya mengutamakan teamwork disini. Kemarin setelah saya terima permohonan kamu, kami langsung meeting disini secara marathon hingga malam hari juga. Kamu ditugaskan di Bali tidak mau, padahal kamu single. Ditugaskan di Singapore juga kamu sepertinya uring-uringan gitu, ditugaskan di Batam juga kamu ingin pulang.” Kata pimpinanku. “Ya, Pak. Saya mohon ma’af. Saya akan bekerja sesuai dengan Job Descrition di kantor ini. Sekali lagi saya mohon ma’af jika sikap dan perilaku saya terkesan under estimate terhadap teman-teman kantor disini. Saya akan melanjutkan tugas itu disini dengan baik.” Kataku.
“Tidak bisa, Ricky. Terima kasih kamu sudah bergabung di kantor ini. Silakan kamu berkemas-kemas saja dan bawa semua barang kamu dimejamu itu. Kamu katanya mau pulang ke Jakarta. Ini Jakarta kan, Ricky. Sekarang kamu bisa pulang bukan? Ini cheque gaji kamu yang terakhir.!” Kata pimpinanku sambil memberikan cheque itu membuatku semakin terperanjat kaget sekali. “Ma’af, Pak…” Kataku kaget, tapi pimpinanku itu langsung angkat tangan, tidak mau berbicara lagi denganku dan tidak memberikan kesempatanku untuk dapat berbicara dengannya itu. Tapi aku tetap memaksakan berbicara kembali. “Ma’af Pak. Saya masih ingin bekerja disini. Saya….” Kataku tidak dilanjutkan karena pimpinanku itu langsung mengangkat tangan kanannya kembali tinggi-tinggi sambil menatapku yang kini menjadi salah tingkah dipecat dari pekerjaanya itu.
Sejenak aku terdiam dan meneteskan air mata sambil menatap pimpinanku itu, lalu menatap selembar cheque terdapat angka gaji dan komisiku itu. Dan ketika aku menarik nafas ingin berbicara kembali, pimpinan kantorku itu tetap mengangkat tangan kanannya kembali pertanda memecat dan mengusir aku juga melarangku untuk tidak berbicara kembali serta sekaligus ucapan selamat tinggalnya.
Dengan berat hati, secara perlahan aku ambil selembar cheque itu namun tetap sambil berbicara. “Terima kasih, Pak. Saya telah dapat bergabung di kantor ini. Terima kasih juga dengan cheque ini.” Kataku terpaksa harus dapat menerima keputusan pimpinan itu sambil bersalaman dengannya dan keluar ruangan pimpinanku itu, lalu berkemas-kemas sambil berpamitan pada Office Mate yang lainnya pula.
Terlihat mereka pada tatap menatap satu dengan yang lainnya, bahkan senyum sinis, sepetinya mereka pada puas dengan dipecatnya aku dari pekerjaanku itu karena mereka juga masih menertawakanku jika aku berpacaran dengan cowok itu. Aku melangkah dengan tetesan air mata walau aku telah berusaha menahannya semampuhku itu namun air mata tetap pada keluar dari celah-celah kelopak bola-bola mataku terlihat oleh semuanya yang hanya menatap dalam senyum kepuasannya itu. Yang semula hendak pulang dan akan bekerja di kantor pusat ternyata kini sebaliknya, kini aku benar-benar pulang juga dari kantor itu. Sepertinya mereka telah kompak dalam meetinnya itu untuk pada sepakat memecatku karena menurut pengakuan mereka aku ini melawan dan mengatur sendiri; tidak mau ditugaskan sebagai Branch Office Manager baik di Bali, Singapore dan Batam itu. Aku tidak menyangka sedikitpun jika pada akhirnya aku harus meninggalkan kantor dan gedung itu atas dasar karena sikapku yang pada dasarnya aku terbujuk rayu Hadi; jangan mau tugas di Bali, Singapore dan Batam serta bujukan Hadi untuk pulang dulu itu. Jika memang akhirnya akan seperti itu, aku lebih baik mengutamakan kerja saja.
Aku teringat terus pada Hadi itu yang telah gencar menghubungiku dalam sehari lebih dari lima kali dan tidak mengenal batas waktu dan kondisi; membujuk aku agar lekas ke Jakarta dengan berbagai alasannya kangen dan lain-lainya itu. Tidak terfikirkan jika sejak aku tidak mau ditugaskan di Bali itu dinilai oleh pihak kantor itu. Dan kini aku berhenti di koridor gedung itu sambil mengangkat Hand Phone lalu menghubungi Hadi, tak perduli dengan para professional yang pada sedang sibuk disekitar gedung kantor itu juga tidak perduli dengan CCTV-CCTV yang terpasang di seluruh pojok gedung itu pula merekam segala gerak-gerik para pengunjung gedung mentereng dan tinggi mencakar langit itu, termasuk merekam aku yang menangis ditahan sambil menghubungi kekasihnya itu.
=====o0o=====

Tester Random – Bersambung Summary 3
(Selengkapnya di buku bersangkutan)
=====o0o=====