SAMBUNGAN
RANGKUMAN / SUMMARY 2
Terjatuh
Dari Motor
Dan ketika telah memasuki daerah kawasan belakang bandara Halim, dalam
kegelapan petang itu pengendara motor ojek yang aku tumpangi itu sepertinya
tidak dapat melihat polisi tidur, dengan sangat terperanjat dan kagetnya motor
ojek itu kini tiba-tiba melayang dan tersungkur, para penumpangnya pada
terpelanting pula hingga lima meter lebih disertai jeritan histeris aku dan
tukang ojek itu sendiri.
Anak-anak SMA sekitar Halim yang pada baru pulang sekolah juga pada
menjerit histeris menyaksikan aku dan tukang ojek itu pada terpelanting dan
pada terjatuh itu membuat suasana semakin riuh. Dengan tanggapnya anak-anak
sekolah SMA kawasan Halim baik laki-laki dan perempuan itu pada bergegas
menolongku yang telah luka-luka tersungkur di tanah dan hampir tertiban motor
ojek itu sendiri. Laptopku yang masih dalam tas-nya juga terpelanting hingga
rusak. Aku tidak dapat bangun, namun aku tetap berusaha bangkit berdiri atas
bantuan anak-anak SMA itu. “Mas. Ke Rumah Sakit aja. Tangan dan wajah Mas
luka-luka dan berdarah.” Kata anak SMA itu. “Tidak usah. Mungkin saya masih
bisa bertahan. Terima kasih atas bantuannya adek-adek.” Kataku. Padahal yang
sebenarnya aku tidak memiliki uang se-peser-pun, perut juga lapar belum makan
karena sedang puasa juga. Dan ojek saja belum dibayar juga. Aku mulai berfikir
betapa perjuangan hidup banyak lika-likunya, teringat aku tidak memiliki
saudara di Jakarta, aku hanya meneteskan air mata saja, nangis ditahan sambil
meregangkan badan dibantu anak-anak SMA-Halim itu, senyum dapat aku lakukan memberikan
senyuman pada anak-anak SMA-Halim itu yang dengan baiknya pada menelongku dan
tukang ojek itu pula. Mereka pada kompak membantu kami ini[1].
Setibanya aku dirumah Hadi petang itu, aku memencet tombol bell yang
terdapat dikusen pintu depan rumahnya itu. Dan kemudian Kakak Hadi bersama Hadi
itu sendiri pada membuka pintu, tampak wajah Hadi terlihat kecut karena aku
agak telat datang, tidak tahu jika aku ini mendapatkan musibah itu. “Lama
Banget sih.!!??” Tukas Hadi kecut sambil membuka pintu, tidak sadar jika aku
masih berdarah dan butuh perawatan juga. Aku menatap Hadi dan Kakaknya yang
pada berdiri bersebelahan, Kakak Hadi bernama Suprihapsari atau yang dipanggil
Sari hanya menatapku yang berdarah itu penuh selidik dalam keherannya itu.
“Sorry gue telat, Di. Nih gara-gara loe kontek gue terus harus kemari, gue
terjatuh dari motor juga.! Kan baru kemaren malam kita ketemuan, apa ga puas?
Dan loe masih tetap gitu, seperti ga mau tahu juga..!!!” Kataku agak kesal.
Namun perkataan Hadi dan aku seperti itu sempat didengar oleh Sari, yang sempet
terperanjat mendengar pembicaraan dan sikap kami itu tapi tampak Sari kini
melangkah kedalam rumah sepertinya tidak mau campur urusan itu. Hadi juga
sempet menatap Sari ketika aku menjawabnya itu, dengan wajah kecutnya Hadi
berbicara kembali. “Lekas Masuk kamar gue..!” Kata Hadi sambil melangkah keluar
akan membayar tukang ojek itu. Aku melangkah langsung ke kamar Hadi agak
perlahan-lahan karena sakit dan meletakan tas laptopku yang rusak itu pula.
Namun aku sangat terperanjat dan kaget, baru saja aku meletakan tas
laptopku itu, pipi kiri aku yang terluka dan berdarah itu ditonjok pula oleh
Hadi sambil berbicara. “Ngomong apa loe tadi didepan Kakak gue, Rick.!!??
Goblok loe..!!!” Kata Hadi, aura wajahnya amarah sekali. Aku yang sedang
luka-luka sakit butuh perawatan dan ketenangan jiwa serta fikiran juga fisik
dihadapkan pada kondisi seperti itu hanya ternganga kagetnya, dan baru saja aku
mau menjawab, Hadi menonjok kembali hingga wajahku semakin sakit, darahnya terlihat
pada menetes kemana-mana pula. “Loe berhak untuk mendapatkannya, Rick..!” Kata
Hadi.
Dengan kesalnya aku menangis sambil duduk dikamar Hadi bagai pesakitan
yang telah di eksekusi saja. Hati dan perasaan juga fisik rasanya sakit sekali.
Aku merasa telah jatuh ketiban tangga. Dalam kondisi seperti ini aku ingin
menjerit tapi tak berdaya, menjadi teringat dengan Ayah yang telah meninggal
dunia dan keluarga, Ibuku yang tidak mengetahui jika salah seorang anaknya
diperlakukan seperti ini. Air mata-pun menetes seiring aku duduk dikarpet dalam
kesal dan tidak dapat berbuat banyak karena aku sedang bertamu dan tidak pantas
untuk berbuat tidak wajar dirumah orang, namun hati dan perasaan ini sakit
sekali. Tampak Hadi masih terlihat kesal, nafasnya terengah-engah pula. Aku
merasakan pesedihan, kepedihan dan kekesalan atas diri sendiri mengapa hidupku
menjadi begini, rasanya pahit sekali aku diperlakukan oleh Hadi seperti ini.
Aku teringat dengan seluruh keluargaku yang jaraknya jauh disana. Jika saja
jaraknya dekat aku akan langsung pulang ke rumah Ibuku itu.
=====o0o=====
Inovasi
Membuat Buku
Aku harus tetap bangkit dan berjalan sebisa dan semampuku. Sambil
menunggu panggilan kerja, aku membuat buku fiksi/novel genre fantasi, aku
mengetik baik pagi, siang, dan malam di laptopku yang telah dibetulkan, yang
rusak karena terjatuh dari motor itu. Aku konsentrasi mengetik di kamar Hadi
karena sambil melamar pekerjaan dan menunggu panggilan kerja walau kenyataannya
tak kunjung tiba pula membuatku harus semakin sabar luar biasa. Anehnya jika
Hadi pulang kerja aku juga dilarang mengetik naskah buku, dan aku harus
menemani Hadi saja di kamar itu. Aku boleh mengetik buku jika Hadi sedang tidak
ada dirumah saja, seperti ketika Hadi sedang bekerja siang hari. Tapi jika Hadi
sedang berada dirumah aku dilarang keras untuk mengetik buku apapun judul dan
ceritanya. Lama-lama keluarga dan Hadi juga menyindirku tentang membuat buku
itu pula padahal menurut hematku melakukannya itu sambil menunggu panggilan
kerja daripada buang-buang waktu secara percuma saja karena usaha juga bangkrut
begitu saja, dan meminjam modal usaha juga pada tidak ada yang mempercayainya
mungkin karena kemiskinanku ini yang sedang terpuruk seperti ini pula.
Ingin membuat usaha Event Organizer juga banyak yang pada tidak dapat
mempercayaiku untuk meminjamkan modal usaha itu juga, bahkan Hadi sendiri juga
malah menghinanya pula. Aku teringat dengan kata-kata Hadi ketika itu. “Rick.
Loe gak akan mampu mendirikan kantor, apapun bentuknya. Loe harus sadar, loe
sekarang kagak punya uang sedikitpun. Gue kagak mau semua itu dibebankan pada
gue ini. Gue muak sama loe..!!!” Kata Hadi. “Gue kagak membebankan biaya sama
loe, Di. Gue cuman berusaha mau bikin proposal usaha kerja. Gue kagak minta
bantuan loe. Membuat kantor itu butuh biaya gede, bisa puluhan dan bahkan
ratusan juta. Memangnya loe punya duit sebanyak itu? Kagak kan?” Kataku.
“Justeru itu. Makanya gue muak sama loe.! Loe kerja aja. Kerja apa saja. Yang
penting halal.!” Kata Hadi. “Justeru itu, loe lihat sendiri, sejak gue dipecat
gara-gara gue terbujuk rayuan loe, gue susah cari kerja lagi. Kagak semua
kantor yang dapat menerima orang yang usianya udah tua kayak gue ini. Usaha
juga bangkrut..! Gue cuman mau cari sponsor aja. Kalau memang loe keberatan, ya
sudah, jangan perdulikan gue, hiraukan gue aja. Gue tetep mau cari solusi untuk
gue sendiri agar mendapatkan pekerjaan lagi.” Kataku.
“Pokoknya gue kagak mau menolong loe, apapun bentuknya. Gue kagak punya
modal untuk usaha.” Kata Hadi. “Lagian siapa yang mau minta sama loe, Di.?? Gue
cuman mau cari sponsor dan sistemnya kerjasama saja sama shareholder jika ada.
Bukan sama loe..!!” Kataku. “Fuck, loe Rick.! Loe berhenti bikin proposal kerja
itu. Loe cari kerja aja..!! Di kantor gue banyak yang usianya udah tua masih
diterima kerja juga. Loe-nya aja yang malas, Rick..!!” Kata Hadi. Mendengar ocehan
itu aku terdiam menahan amarah dan emosi, ingin rasanya menghajar Hadi tapi aku
menahannya sekuat semampu mentalku ini. Betapa meremehkan dan merendahkannya
Hadi itu untuk memudahkan mendapatkan pekerjaan kembali. Tapi aku berfikir
terus untuk mendapatkan pekerjaan itu. Tapi aku tetap sabar dalam berfikir
positif-ku ini. Aku menjadi pemurung dan sering termenung meratapi nasibku ini
yang semakin sukar. Melamar kerja masih berlangsung namun tak kunjung tiba
pula. Dan sejak itu aku sering mendengarkan lirik lagu You Raise Me Up itu
pula, sepeti yang memberikan semangat juang padaku yang kini sedang terpuruk
pula. Pantas salah seorang teman kost aku seorang kepala sekolah meminta teks
dan lagu You Raise Me Up itu untuk keperluan dalam pertemuan resmi dan lain
sebagainya, dan salah satunya untuk keperluan keagamaan pula dalam group dan
komunitasnya itu.
Seiring jarum-jarum jam berputar secara terus menerus, aku tetap
mengetik di laptop-ku sambil menungu dan menunggu panggilan kerja. Ratusan
lamaran telah aku kirim namun tak kunjung ada panggilan juga. Hadi juga
menilaiku seperti orang aneh. “Rick. Gue benci banget melihat loe mebuat buku
itu. Buang-buang waktu saja. Apakah ga ada pekerjaan yang lainnya lagi.!?”
Tukas Hadi agak ketus. “Gue bikin buku sambil menunggu panggilan interview
kerjaan dan dapat pekerjaan, Di. Melamar kerja gue masih berjalan terus melalui
internet dan dikirim langsung itu. Kenapa sih, Di, loe sentiment banget ma
gue.?” Kataku tenang dan sabar. “Gue sebel melihat loe bikin buku itu. Bikin
buku itu pekerjaan buang-buang waktu percuma..!! Masa depannya ga jelas..!! Ga
ada orang pengarang buku kaya..! Gue muak lihat loe bikin buku itu..!! Dan
ingat, kalau loe jalan sama gue, sekarang jangan sekali-kali mebawa buku
bacaan. Gue sebel sama loe kemana-mana selalu membawa buku juga.. Gue aja
kuliah ga gitu-gitu amat..!!!” Kata Hadi.
Sejenak aku termenung dan bernafas panjang dalam kesabaran mentalku.
“Ini sambil menunggu panggilan pekerjaan aja, Di. Lagipula kenapa gue ga ada
panggilan kerja juga karena mungkin gue udah tua gini. Ya akhirnya gue mencoba
membuat buku aja sambil menunggunya siapa tahu nanti masih ada panggilan
pekerjaan itu.” Kataku tenang. “Bikin buku itu pekerjaan orang-orang
pengangguran..!! Lebih baik loe kerja apa saja yang penting menghasilkan uang.”
Kata Hadi. “Gue kan dah ga punya dana banyak untuk modal, Di. Simpanan dana gue
juga tinggal sedikit lagi. Itu juga ga tahu cukup atau gak untuk operasional
gue disini. Lagipula gue ga mau merepotkan Nyokap gue karena Bokap gue juga dah
meninggal dunia. Kasihan Nyokap gue itu. Loe tahu kan usaha kedai juga
bangkrut. Karena mungkin tempatnya ga strategis masuk ke dalam itu. Loe lihat
juga kan gue udah melamar kerja kemana-mana tapi nihil juga..!!!” Kataku
tenang.
=====o0o=====
Pertengkaran
Di Kamar
”Bu. Seperti Ibu ketahui, yang nyuruh tinggal disini itu kan Hadi, atas
dasar hubungan itu, Ibu tahu kan maksudnya hubungan kami berdua ini? Bukan
keinginan saya numpang disini. Apalagi saya juga sering mendengar kata-kata
yang sangat tidak nyaman didengar rasanya saya harus mencari solusi juga.”
Kataku. “Iya, Ibu ngerti, Mas. Ma’afkan Bapaknya Hadi dan Warti itu.” Kata Ibu
Sutiariyah menyeka air matanya. “Iya Bu. Saya juga lelah kalau lama-lama
seperti ini. Rasanya hidup selalui dihantui juga dengan berbagai hal. Saya juga
susah mencari pekerjaan, dihina dan selalu disindir dari berbagai hal juga.
Bikin buku juga sambil menunggu panggilan kerja karena usaha juga bangkrut,
dihina juga. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan saya udah jatuh ketiban
tangga; dan ma’af, Ibu juga saksinya Hadi itu sering menginap di hotel dengan
berbagai alasannya dengan teman-teman Gay/Bisex-nya, apa maksudnya itu? Saya
tahu teman-teman Gay/Bisex selingkuhannya itu, Bu. Bagaimana perasaan saya jika
demikian.? Bagaimana juga perasaan dia jika jadi saya ini? Akhirnya saya sering
ribut, dan Ibu juga tahu karena selalu mengetauinya juga kan kapan Hadi pulang
ke rumah. Barusan Bapak nanya saya tentang pacarnya Hadi, saya katakana namanya
Dewi saja, Bu. Saya memiliki harga diri dan perasaan juga…” Kataku sambil
meng-off-kan laptopku dan dikemas juga.
“Ibu ngerti perasaanmu, Mas Ricky. Ibu faham sekali. Ibu juga pernah
diselingkuhin oleh Bapaknya Hadi itu hingga punya anak. Tapi Ibu sabar dan
akhirnya Bapaknya Hadi tetap kembali lagi ke Ibu dan anak-anak ini. Sakit
memang diselingkuhin itu, Mas.” Kata Ibu Sutiariyah itu menangis. “Iya, Bu.
Ma’afkan saja jika saya banyak salah dan telah merepotkan semuanya disini. Saya
harus beres-beres.” Kataku. “Mau pergi kemana, Mas? Jangan pergi dari rumah ini
sebelum mendapatkan pekerjaan.” Kata Ibu Sutiariyah menyeka air matanya. “Ga
tahu Bu saya mau pergi kemana. Di Jakarta kan saya tidak punya saudara dan
tempat tinggal. Mungkin saya menjadi gembel saja daripada saya hidup dibawah
tekanan mental terus seperti ini.” Kataku.
Mendengar jawaban dariku seperti itu Ibu Sutiariyah menangisnya malah
semakin keras. “Mas, Ricky, jangan pergi. Biarkan disini saja..!! Ibu seperti
dengan anak sendiri…!!!” Kata Ibu Sutiariyah, tetap menangis dan berjalan ke
kamarnya itu, tepat pada pukul 18:30. Dan aku juga mendengar di kamar Ibunya
Hadi mereka pada diskusi karena Ibu Sutiariyah masih menangis. Aku juga sempat
mendengar kata-kata Ibu Sutiariyah itu. “Biarkan anak itu. Mas Ricky itu tidak
bersalah. Anak kita yang bersalah..!! Mas Ricky juga orangnya tidak sombong,
kerja apa saja mau dirumah ini..! Disuruh apa aja mau.!” Kata Ibu Sutiariyah.
“Walah, Ibu. Ko belain mereka sih.? Bagamana sih Ibu ini.? Ya sudahlah terserah
saja.” Kata Pak Paiman itu malah kini ngomelin Ibu Sutiariyah pula. Lalu Pak
Paiman itu terdengar bergerutu sambil masuk ke dapur hendak mengambil air
minumnya.
Ketika aku masih sedang berkemas-kemas pada petang hari itu kini Hadi
datang pula dan mendapatkan Ibu Sutiariyah matanya berkaca-kaca telah menangis
itu dan Hadi masuk kamarnya pula sambil bertanya keras sekali. “Loh, ada apa
Rick? Loe berkemas-kemas gitu.?” Tanya Hadi sambil menaruh ransel kerjanya
ditempat tidurnya itu. “Sorry, Di, gue
ga bisa jawab. Kalau mau-pun jawaban gue, kita ngomong diluar aja.” Kataku. “Ga
bisa, Rick. Ngomong aja disini sekarang gue capek, kenapa sih? Ibu gue juga
abis nangis tuh..!” Kata Hadi memaksanya. Aku berfikir jika aku bicara dikamar
itu yang lainnya akan pada turut berbicara dan masalah intinya, hubungan Cinta Terlarang
itu juga akan semakin terbongkar, lebih baik bicara diluar saja agar aku dan
Hadi dapat sama-sama mensolusikan masalahnya itu, tapi Hadi malah berbicara
lagi. “Ngomong cepat, Rick, ada apa dan kenapa?” Tanya Hadi lagi. “Gue ga bisa
jawab kecuali kalau gue ngomongnya diluar saja, Di. Riskan kalau gue ngomong
disini.” Kataku bermaksud agar Hadi dapat faham akan maksudnya itu karena ada
hal tentang hubungan Gay itu akan dibicarakan pula dalam kondisi tenang pula.
“Cepat ngomong ada apa, Rick?” Kata Hadi nadanya keras juga.
Aku dalam kondisi seperti itu juga merasa naik emosinya, telah bicara
baik-baik malah tidak faham juga. “GUE UDAH BILANG JIKA GUE BISA JAWAB KALO
DULUAR, BUKAN DISINI. NGERTI GA SIH.!?” Kataku nadanya keras dan terdengar
hingga tengah rumah pula. “LOH, KO MARAH SAMA GUE SIH.!? GUE CAPEK, LOE NGOMONG
ADA APA DISINI.!? LAGIAN SIAPA ELLOE..!!???” Kata Hadi membuatku semakin panas
juga. Aku ingin mengatakan jika aku ini hancur gara-gara dia dan ada hubungan
pacaran Gay/Bisex dengan dia hingga tinggal dirumah itu juga tidak dapat
terucap, yang ada malah aku teriak pula karena dikatakan ‘siapa elloe’ itu.
Jika Hadi berbicara seperti itu berarti menempatkanku sebagai sosok Bisex
sebagai tempat pelampiasan hawa nafsunya membuatku panas juga, dengan emosi
terbakarnya aku berteriak pula tapi tetap menjaga kata-kata ‘Gay/Bisex’-nya itu
tidak terucap agar tetap aman juga. “EH, DI. LOE NGOMONG APA.!? APA GUE HARUS
BUKA KARTU JUGA.!? MEMANG GUE BUKAN APA-APANYA DIRUMAH INI. ASAL TAHU AJA YA
SIAPA YANG SURUH TINGGAL DIRUMAH INI.!? GUE HANCUR LOE TAHU KAN PENYEBABNYA.!?
SEMUA GARA-GARA ELLOE, TAHU GA..!!?” Kataku keras hingga semua anggota keluarga
Hadi juga kini pada memasuki kamar Hadi termasuk Ayahnya itu.
=====o0o=====
Bercinta
“Threesome”
Sejenak aku terdiam dan berfikir, apakah hubungan pacaran Gay-Bisex
memang harus seperti ini. Aku sendiri pacaran dengan laki-laki Gay baru kali
ini dengan Hadi karena sebelumnya aku juga putus hubungan dengan seorang
perempuan juga karena menuntut materi yang lebih darinya itu, kini masa aku
harus mengikuti arus kebebasan bergaul di dunia Gay-Bisex itu yang ternyata
aneh dan membahayakan juga dengan sepak terjangnya itu, seperti apa yang aku
hadapi dengan Hadi itu.
Karena aku terdiam saja, Hadi berusaha menggodaku kembali dengan
menyentuh dan memeluk tubuhku sambil berbicara. “Rick. Gue mau bercinta dengan
Christiano, loe gabung sama gue dong sini. Kita bercinta bertiga disini.” Kata
Hadi sambil meraba-raba tubuhku dan meraba-raba alat vitalku. Kini aku tidak
dapat berbuat apa-apa dihadapan Hadi, dengan pasrah dan menerima apa adanya aku
membalas ciuman Hadi juga disaksikan oleh Christiano, tapi tangan kiri Hadi
kini malah merangkul Christiano juga, dan sebaliknya Christiano juga
meresponnya pula sambil menciumi Hadi itu sendiri. “Ga apa-apa kan Rick, kita
threesome bersama Ian.!?” Kata Hadi. Lalu aku menatap Christiano yang malu-malu
didepanku itu, aku tahu jika Christiano itu juga sangat menyukai Hadi tapi apa
daya Hadi masih sedang berpacaran denganku ini, bahkan secara terang-terangan
Hadi merangkul dan meraba-raba tubuhku dan menciumiku dihadapan Christiano itu.
Karena aku kasihan pada Christiano yang terlihat serba salah dan salah
tingkah, dan tidak mungkin aku bercinta dengan Hadi saja dihadapan orang lain,
aku berbicara juga. “Ya udah, ga apa-apa, Di.” Kataku menatap Christiano. “Ian.
Ricky ga apa-apa kita bercinta bertiga. Kita threesome aja ya.!?” Kata Hadi
menatap Christiano itu. “Ya, bagaimana Mas Ricky, apakah keberatan atau tidak,
Mas.!??” Kata Christiano itu. “Gak. Gak apa-apa, Ian.” Kataku serba salah,
bagaimana mungkin kini aku siap atau tidak siap harus dapat melakukannya
bercinta secara bertiga seperti itu atas dasar permohonan Hadi sekaligus
ancamannya pula jika aku ingin selamat. “Terima kasih, Mas Ricky, atas kebaikan
Mas.” Kata Christiano itu sambil dicium Hadi yang memang menunggu jawabanku
yang serba salah juga. Sementara tangan Hadi meraba-raba tubuhku dan tubuh
Christiano pula. Kini aku dan Hadi juga dengan selingkuhannya itu melakukan
bercinta secara bertiga yang sering disebut threesome untuk kalangan penyuka
sex bebas itu.! Kini aku berpacaran dengan sosok laki-laki Hypersex Gay
seakan-akan diajarkan dalam kebebasan sex dan bercinta itu dan langsung praktek
juga dalam eksplorasi sex-nya itu.
=====o0o=====
Persahabatan
Kaum Bisex
Dan ketika aku dan keluarga Rendy pada bertemu secara langsung tatap
muka, tampak sosok Rendy juga ternyata sangat tampan, tubuhnya sangat tinggi
pula, badannya ramping dan atletis. Pantas isterinya dapat memilikinya sosok
Rendy yang ganteng dan berwibawa, juga secara karier telah mapan, mereka turun
dari mobil Land Rover hitam yang terlihat elegan juga bagi pasangan tampan dan
cantik, namun hal ini perlu digaris bawahi, sosok Rendy itu Bisex, sama seperti
sosok aku ini pula yang hingga kini pada tidak mengetahuinya jika aku ini
memiliki dua hasyrat yang berbeda. Dan mungkin isterinya Rendy itu juga tidak
mengetahuinya jika Rendy itu Bisex juga yang sering ucing-ucingan dengan
isterinya itu namun Rendy dapat mengendalikan diri agar isteri dan anak-anaknya
itu pada tidak dapat mengetahuinya jika Rendy juga sosok laki-laki Bisex
dikeluarganya itu.
Aku juga diperkenalkan pada isterinya yang sangat cantik itu termasuk
pada kedua anak laki-lakinya yang juga sangat tampan sama seperti Papanya;
Rendy itu, walau mereka masih pada anak-anak. Isteri dan anak-anaknya juga
welcome dengan keberadaanku ini, dan sepertinya mereka pasangan harmonis pula,
terlihat dari cara dan gayanya yang saling perhatian dan saling mengingatkan
pula, juga tata bahasanya sopan dan baik sekali. Kedua anaknya sangat lucu dan
tampan sekali, suatu keberuntungan bagi keluarga Rendy dan isterinya itu. Aku
sendiri sebetulnya dalam hatiku ini kagum pula pada sosok Rendy, yang terlihat
gagah dan ganteng melebihi sosok Hadi itu, namun Rendy yang hidungnya mancung
itu telah beristeri dan ber-anak dalam menutupi hati dan perasaan yang
sebenarnya mendua itu; Bisexual.
Rendry sendiri yang bertubuh proporsional dan indah dilihat menyarankan
pada isteri dan anak-anaknya agar renangnya secara masing-masing saja karena
anak-anaknya tidak mungkin berenang ditempat dewasa yang ukurannya sangat dalam
sekali. Dan ketika kami pada sedang melangkah berjalan disekitar kolam renang
itu tampak bola-bola mata laki-laki dan perempuan itu terlihat pada menyaksikan
dan menatap tajam kami berjalan itu karena titik centralnya sosok Rendy yang
ganteng itu dan isterinya yang cantik, juga anak-anaknya yang tampan dan lucu
pula, sementara aku juga masih memakai kacamata hitam, sama dengan Rendy pula
yang tubuhnya jauh lebih tinggi dariku ini.
Aku dan Rendy juga pada cuwek saja pada yang lainnya termasuk ketika
kami pada membuka pakainku untuk berenang didalam air hangat itu, dan isterinya
Rendy langsung menemani anak-anaknya berenang ditempat khusus anak-anak pula,
sepertinya isteri Rendy itu tidak memiliki kecurigaan sedikitpun pada suaminya
itu yang Bisex dan janjian renang dengan kawannya; aku, Bisex juga. Dan ketika
aku dan Rendy telah pada membuka pakainnya dan hanya memakai celana renang
saja, tampak tubuh Rendy dan aku juga pada berbulu mulai dari atas hingga
bawah, khususnya dada dan perut hingga merasa aku ini sebagai orang yang langka
karena 99% yang pada renang disekitar itu hanya aku dan Rendy saja yang pada
berbulu dada itu. Semua yang pada renang ditempat kolam renang air hangat itu
juga pada menatapnya namun kami pada cuwek saja dan tidak perduli orang mau
bilang apa, karena ini tempatnya renang
dan hanya pada memakai celana renang saja, seluruh tubuhnya hampir pada terbuka
semuanya hingga lekukan-lekukan ditubuh ini pada dapat terlihat pula oleh
semuanya seakan-akan tontonan gratis pula karena terdapat pula beberapa
perempuan yang pada tersenyum dengan kawan-kawannya juga setelah pada
menyaksikan kami ini.
Kini aku juga merasa ada satu pilihan dari dua itu; wanita atau
laki-laki karena yang menatapku itu juga termasuk Rendy yang tersenyum dalam
ketampannya itu membuat hati dan perasaanku juga sempat berdetak namun tanpa
diketahui oleh yang lainnya karena tidak dapat merasakannya pula, apalagi
ketika aku menatap sosok tubuh Rendy yang benar-benar sangat luar biasa ideal
sekali. Pantas jika para perempuan yang berada disekitar tempat renang itu pada
menatapnya pula dengan senyum manis terselubungnya itu. Aku sempat menatap
tubuh Rendy tanpa diketahui oleh isterinya itu yang jaraknya cukup jauh karena
kolam renangnya berbeda. Terlihat tubuh Rendy itu benar-benar sangat luar biasa
ganteng sekali hanya memakai celana renang saja dan lekuk-lekuk tubuh dan yang
lainnya dapat terlihat jelas sekaligus tubuh yang tertutup oleh celana renang
khususnya itu menjawab pertanyan sosok blasteran Arab-Indonesia yang
benar-benar membuat tersenyum semuanya yang berada disekitar tempat itu pula,
khususnya aku yang berada dihadapannya itu. Karena kami harus menjaga privacy
masing-masing, kami hanya tersenyum pula sambil pada meloncat dan salto
menembus air kolam renang air hangat itu disaksikan oleh orang-orang yang
berada disekitar kolam renang itu pula.
Sejenak isterinya Rendy juga sempat menyaksikannya sambil melambaikan
tangannya dibalas oleh lambaian tangan Rendy itu sendiri. Tapi tetep, dalam
berenangnya kami sambil mengobrol kesana-kemari, dan ketika tidak ada orang
disekitar kami berdua, kami mengobrolnya seputar hubungan intim dengan laki-laki
itu pula. Ternyata pada dasarnya Rendy itu juga tetarik dengan sosok aku ini
namun sukar untuk dapat membagi waktunya khawatir dapat ketahuan oleh isteri
dan anak-anaknya itu, mengingatkan pada sosok Hadi yang sering selingkuh dengan
selingkuhannya sekalipun laki-laki itu telah pada berkeluarga dan pada memiliki
anak pula dalam keluarganya.
Terlihat sosok Rendy blasteran Arab-Indonesia bertubuh sexy dan ganteng
berambut cepak itu juga bunyi suaranya laki-laki sekali dan tidak ada
tanda-tanda jika Rendy itu sosok Bisex juga. Dan disekitar tempat kolam renang
itu juga tidak ada yang dapat mengira jika kami berdua itu sosok Bisex yang
pada sedang curhat. Yang aku hargai adalah jika Rendy itu tidak mau mengganggu
hubunganku dengan Hadi itu, hanya berkawan sesama Bisex saja dan sama-sama
dapat tukar fikiran tentang dunia Gay/Bisex itu pula, kecuali jika aku sosok
Bisex single. Padahal hati kecilku ini sangat menyukai sosok Rendy yang jauh
lebih sexy dan ganteng daripada Hadi namun aku juga tidak ingin menganggu rumah
tangganya karena hubungan cinta terlarang antara Bisex dan Bisex itu, dan aku
tidak ingin menghancurkan rumah tangga orang atas nama Bisexual itu.
Aku sefaham hanya berkawan saja dalam tali persahabatan terselubung
“Bisexual” itu karena tampak sosok Rendy juga jauh lebih dewasa pola fikirnya
ketimbang Hadi yang egois dan selingkuh terus yang disebabkan Hypersex Gay-nya
itu. Obrolan dengan Rendy itu sangat nyaman dan masuk akal pula bagiku karena
kedewasaan berfikir dan sikapnya itu pula. Dan selama kami berenang kesana
kemari secara berduaan saja, banyak juga orang yang pada memperhatikanku namun
mereka pada tidak mengganggunya. Masuk di akal karena sosok Rendy juga yang
blasteran Arab-Indonesia itu membuat siapa saja dapat tergoda imannya, bukan
hanya perempuan namun laki-laki Gay/Bisex juga pada dapat tergoda karena Rendy
benar-benar sempurna secara fisik dan penampilan pula. Namun kini sepertinya
Rendy tidak memperhatikannya karena konsentrasi ngobrol denganku ini yang
selalu digoda dan diajak bicara oleh Rendy yang pandai berbicaranya.
Beberapa obrolan sambil berenang bersama yang masih aku ingat dan masuk
akal fikiranku hingga sekarang diantaranya adalah. “Aku bisa mengerti perasaan
dan hatimu, Rick. Dunia Gay memang begitu.” Kata Rendy. “Terima kasih, Ren.
Maklum, setelah aku putus sama cewekku itu, aku baru bertama kali hubungan
intin dengan laki-laki juga, jadinya aku juga kaget ketika dihadapakan pada
kenyataan seperti ini. Aku kira BF-an sama cowok itu aman-aman saja dan biasa
saja, tahunya malah sangat luar biasa dan sangat liar dari apa yang
diperkirakan sebelumnya.” Kataku sambil tetap mengayuh air dan berenang
bersama, secara bolak-balik juga.
“Haha, jangan salah, Rick. Itulah
mengapa gue hati-hati banget dikeluarga gue, sangat berbahaya. Tapi aku
beruntung, Isteriku dan anak-anakku sampai sekarang ga ada yang tahu jika gue
ini Bisex juga.” Kata Rendy tersenyum. “Yup. Kamu beruntunglah, Ren. Secara
fisik kamu ganteng dan sexy juga membuat orang-orang pada ter-kelepek-kelepek
terkesima melihat sosok tubuh dan ketampananmu itu. Aku juga sempet shock
melihat seluruh tubuhmu yang cuman terbungkus celana dalam aja seperti itu.
Tapi aku masih dapat mengendalikan diri. Secara karier kamu sukses juga. Secara
privacy, kamu juga dapat menutupinya hingga sekarang ini, dan semua anggota
keluargamu itu pada ga mengetahuinya jika kamu itu Bisex sama seperti gue ini.”
Kataku. “Aaach, kamu bisa aja, Mas Ricky. Haha, tapi terima kasih-lah, Rick.
Aku emang berusaha keras agar semua anggoa keluargaku pada tidak mengetahuinya
juga dengan keberadaanku yang sebenarnya ini.” Kata Rendy tenang juga dan
tampil percaya diri. Lalu menenggelamkan kepalanya dalam santainya renang di
air hangat itu.
=====o0o=====
Tester
Random – Bersambung Summary 4
(Selengkapnya di buku bersangkutan)
=====o0o=====