Summary 1



TESTER
RANGKUMAN / SUMMARY 1

P O T R E T:
Catatan Kronologi Pengakuan Dan Pengungkapan
Perjalanan Dan Lika-Liku Kisah Nyata Cinta Terselubung
Dan Pemerkosaan Laki-Laki Secara Massif Oleh Para
Lady Escort, Man Escort, Heterosexual, Bisexual, Gay
Dan Lesbi Yang Sangat Tragis Dan Mengharukan.
=====o0o=====
 
                                          Office Looking                                      

T
ahun 1999, pagi dini hari yang sunyi ketika semua makhluk Tuhan masih pada sedang lelap tertidur pulas sejak tadi malam, kini terdengar bunyi suara kumandang adzan dibeberapa mesjid dan beberapa mushola terdengar hampir bersamaan sekitar daerah Salemba Jakarta Pusat dan sekitarnya. Akupun terbangunkan dan seperti biasa; aku mandi dan dilanjutkan menjalankan shalat subuh seorang diri, dan berdo’a pada Tuhan walau hanya sebentar saja. Dan karena aku suka dengan pariwisata, setelah berdo’a kemudian aku bergegas membuka laptop dan mengetik catatan-catatan tentang object-object pariwisata yang terdapat di Indonesia, sambil mendengarkan berita dari salah satu stasiun TV berita di Indonesia, menunggu waktu sarapan padi dan berangkat kerja, melanjutkan aktivitas kemaren yang tertunda.
Dan setelah sarapan pada jam 08:00 pagi aku bergegas ke kantor, ke salah satu gedung sangat megah dan mencakar langit yang terdapat di kawasan perkantoran daerah Kuningan, Jakarta Selatan. Terlihat dan terasa jelas kemacetan rutin yang terjadi setiap hari sepanjang jalan menuju tempat kerja tidak dapat dihindarkan lagi. Dalam perjalan ke kantor aku sempat membuat konsep kerja dan jaringan kerja yang harus aku tempuh dalam pekerjaanku di Event Organizer itu. Sambil menghubungi beberapa client yang telah konfimasi akan berpartisipasi mengikuti penyelenggaraan Exhibition di Singapore, termasuk membicarakan jadwal pameran berikutnya sebagai kalender event tahunannya.
          Setibanya di dalam kantor, aku langsung masuk ke dalam ruangan tempat kerjaku sambil menatap para office mate yang telah pada hadir pula. “Good Morning all.” Kataku tersenyum, menatap para office mate yang tampak terlihat Office Looking itu. “Ya. Good morning too, Mr. Ricky.” Jawab mereka kompak dan bersamaan, tersenyum dalam keramahannya pula. “Bagaimana hasil pertemuan kemaren petang, Pak Ricky.?” Tanya atasanku setelah aku duduk di kursi tempatku. “Owgh. Tadi malam kami bertemu di salah satu café sambil ngofi sekalian menikmati live music dan ngobrol kesana-kemari. Dan pada prinsipnya, para pengusaha itu akan pada turut berpameran di Singapore juga, Pak. Alhamdulillah mereka pada membooking stand masing-masing dua stand.” Jawabku sambil mengaktifkan laptopku. “Oh, baguslah. Semoga mereka dapat mempersiapkannya dengan baik juga.” Kata atasanku sambil mengacungkan jempol tangan kanannya padaku.
          Segala percakapan di kantor Event Organizer itu semakin terdengar, sesuai dengan tugas dan materi yang dibicarakannya, juga tanggung jawabnya masing-masing. Mulai dari follow up para clients, menawarkan jasa Exhibition - Event Organizer, booking ticket pesawat terbang, booking hotel untuk para peserta dan para crew, berhubungan dengan publishing untuk membuat draft brosur, spanduk dan lain-lainnya terdengar jelas sekali.
Aku sendiri berkemas-kemas pula untuk dapat mem-follow-up para clients di beberapa instansi pemerintah sesuai dengan jadwal kegiatan yang telah tercatat dalam agenda harianku dan harian kantor tempat bekerjaku itu. Brosur dan laptop juga surat pengantar dari pimpinan kantor telah aku siapkan pula dalam tas kejaku, agar aku dapat sekaligus ke lapangan dan mendapatkan jawaban dari para clients itu untuk dapat berpameran di Singapore Expo itu.
          Tepat jam 11:30 siang, setibanya di salah satu tempat kantor clients, instansi pemerintah yang mengurusi para UKM (Usaha Kecil dan Menengah), aku langsung ke ruangan kantor client-ku itu disambut dengan senyum ramah salah seorang staff client-ku itu yang telah dikenal sebelumnya bernama Suprihadi Santoso yang dipanggil Hadi ketika aku mengantarkan proposal dan catalog Event Exhibition itu sendiri.
“Hai, selamat siang, Pak Ricky.” Sapanya ramah dan tersenyum manis. “Selamat siang juga, Pak Hadi.” Jawabku tersenyum juga. “Apa yang dapat saya bantu, Pak Ricky.?” Tanya Pak Hadi menatapnya tajam sekali namun terlihat agak kaku dan serba salah, lalu menunduk dalam salah tingkahnya itu membuat aku agak heran ditahan dan bertanya-tanya sendiri, lalu aku juga memperhatikan Pak Hadi yang salah tingkah itu dan sepertinya tidak ingin melihatku.
“Saya mau ketemu dengan Pak Neldy. Tadi saya telah meneleponnya.” Jawabku sambil menatap tajam pada Hadi yang masih serba salah dan salah tingkah itu. “Baik, Pak Ricky. Baru saja kami telah berbicara dengan Pak Neldy, katanya Pak Ricky dimohon tunggu sebentar dulu karena bertepatan Bapak Neldy juga ada undangan makan siang dahulu.” Kata Hadi. “Oh, baik, Pak Hadi, tidak apa-apa. Saya akan tunggu disini saja.” Jawabku sambil memperhatikan sosok tubuh Hadi yang semakin serba salah dan salah tingkah aku tatap tajam dan aku perhatikan seperti itu.
          “Pak Ricky. Sambil menunggu Pak Neldy yang sedang makan siang, gimana acara makan siang Pak Ricky apakah akan disekitar tempat kantor ini atau dimana ya.!?” Tanya Hadi. “Oh. Ide dan pertanyaan bagus juga tuh. Jika memang ditempat ini ada, apa salahnya disekitar tempat kantor ini saja agar saya tidak terkena macet juga nantinya.” Jawabku menatap Hadi yang menunduk terus, wajahnya merah membuat aku heran. “Baik. Disekitar kantor sini juga ada kantin sangat besar. Banyak pilihan menunya.” Kata Hadi. “Ok, kalau begitu, kita makan bersama disana aja bagaimana, Pak Hadi?” Tanyaku. “Oh, baik, Pak Ricky. Kita kesana saja.” Kata Hadi sambil mempersilakan aku agar segera bergegas bersama pula.
          Aku dan Hadi memilih tempat duduk di pojok, tampak terlihat disana juga semuanya Office Looking, para professional pihak swasta dan instansi pemerintah juga banyak yang pada sedang makan siang ditempat itu membuat semangat bagi siapa saja yang akan sekalian cuci mata siang itu. Sambil makan siang kami pada ngobrol kesana kemari hingga sharing nomor Hand Phone pula.
“By the way, apa yang melatar belakangi belajar Bahasa Francis itu, Pak Hadi?” Tanyaku. Namun sejenak terdiam, Hadi terlihat tersenyum manis membuatku heran juga, lalu Hadi menjawab. “Saya suka aja dengan bahasa itu. Lagipula orang-orang Francis menarik bagi saya; tampan-tampan. Banyak Orang Francis yang tampan dan….. dan…..” Kata Hadi tersenyum dan tidak dilanjutkan bicaranya sambil menunduk malu dalam salah tingkahnya itu.
          Kini aku menatap Hadi menjadi senang dan nyaman, senyumnya menarik juga, bicaranya tidak dilanjutkan membuat aku menjadi penasaran juga. Hadi menunduk dan tersenyum membuat aku semakin menjadi ingin tahu juga. “Ga apa-apa, katakan saja pada saya, Pak Hadi. Senyumanmu itu sepertinya penuh dengan rahasia.” Kataku menatapnya. Namun Hadi sebelum menjawabnya menatap kesana kemari.
“Saya suka Orang Francis, Pak Ricky. Orang Francis tampan-tampan dan banyak gay disana. Mereka hidupnya saling menghargai dan saling mengakui. Disana welcome dengan dunia itu. Berbeda dengan Negara lainnya, apalagi dengan di Indonesia.” Kata Hadi tetap tersenyum walau serba salah. “Oooh… Ya, memang mereka tampan-tampan. Itukah yang membuat alasan Pak Hadi belajar bahasa itu.?” Tanyaku mendesak lagi, namum dengan informasi itu aku akhirnya teringat dengan beberapa laki-laki di salah satu café pusat perbelanjaan kawasan Jalan M.H. Thamrin Jakarta Pusat, yang pada mengerdipkan kelopak-kelopak bola matanya padaku beberapa waktu yang lalu, namun aku mengbaikannya.
“Ya. Tidak usah munafik-lah Pak Ricky, beberapa orang yang belajar Bahasa Francis itu ada yang begitu juga, tapi mereka tidak kelihatan sikapnya.” Kata Hadi meyakinkanku. Aku berfikir; pantas Hadi sejak dari tadi terlihat salah tingkah terus, tapi aku berfikir positif saja karena itu urusan dia, walau aku menjadi ingat dengan sosok pria-pria yang tinggi dan tampan-tampan yang pada mengerdipkan kelopak bola matanya padaku itu.
Siang berganti malam; sepulangnya aku bekerja seharian rasanya lelah sekali. Seperti biasa aku menaiki taxi sambil beristirahat dalam taxi dan dalam kemacetan dan dapat mendengarkan beberapa lagu bertemakan cinta, baik lagu-lagu lokal maupun lagu-lagu “Love Songs” yang dinyanyikan oleh beberapa artis mancanegara melalui Hand Phone-ku itu. Bahkan aku juga sesekali turut menyanyikan lagu-lagu ‘Love Songs” dengan cara Lip-synch.
Aku teringat dengan obrolan dengan Hadi dan beberapa pria tampan Office Lokking itu juga membuatku penasaran pula. Sosok Hadi memang menarik dan sopan, ramah dan memang menarik juga murah senyum dalam keramahan dan kesopanannya. Aku tersenyum sendiri dalam taxi itu tanpa diketahui oleh driver taxi itu, sekaligus aku membuka dasi biru favoritku. Tanpa disadarinya pula karena macet, dengan isengnya aku tiba-tiba meletakan dasiku itu di atas tas laptop dipangkuanku, lalu dibagian belakang dasiku itu aku dengan isengnya menulis “Hadi” dengan gaya abstrak namun terbaca jelas “Hadi”.
Setibanya dirumah aku menerima SMS. “Selamat malam, Pak Ricky. Bagaimana follow-up clients-nya sukses-kah? Semoga berhasil ya. Senang saya dapat berkenalan dengan Pak Ricky.” Kata Hadi. “Oh, Hai, Pak Hadi. Selamat malam juga Pak Hadi. Alhamdulillah tadi sebagian clients-ku pada akan ikut Event Exhibition di Singapore. Saya juga senang dapat berkenalan dengan Pak Hadi. Tadi ngobrolnya juga seru ya. Terima kasih jika Pak Hadi senang berkenalan dengan saya.” Kataku mereply SMS itu. “Oh, Pak Ricky senang dapat berkenalan saya? Apakah tidak kecewa?” Tanya SMS Hadi membuatku heran. “Tidak. Saya tidak kecewa, Pak Hadi. Memangnya kenapa? Pak Hadi kan orangnya baik, murah senyum dan ramah. Tampan pula menurutku. Diajak bicaranya nyambung dan seru.” Kataku mereply SMS kembali.
“Oh, gitu. Saya seorang Gay, Pak Ricky. Mana mungkin Pak Ricky ingin berkawan dengan seorang Gay.!?” Kata Hadi membuatku terperanjat pula. Sejenak aku terdiam dan termenung dalam konsentrasiku teringat kembali dengan beberapa pria tampan yang pada telah mengerdipkan kelopak bola matanya itu termasuk beberapa laki-laki tampan yang pada memanggilku sebagai suatu isyarat karena tempat itu terkenal dengan dunia Gay/Bisex-nya itu, namun aku abaikan saja karena aku sedang bekerja juga, dan kini aku teringat dengan obrolan tadi siang itu, juga tentang pria di Francis yang Gay itu pula.
Karena aku heran dan sekaligus ingin tahu, lalu aku angkat Hand Phone-ku menghubungi Hadi. “Halo, Pak Hadi. Met malam.” Kataku. “Hai, Pak Ricky. Met malam juga. Udah sampai rumah ya?” Kata Hadi. “Udah. Saya udah rehat juga dikamar nih. Sama kucing hitam kesayanganku. Gimana, Pak Hadi udah sampai rumah juga ya?” Kataku. “Iya. Saya udah sampai rumah juga nih. Enak dong ditemani kucing. Saya juga senang sekali dengan kucing. Malah pernah melihara kucing juga.” Kata Hadi. “Oh, gitu ya? Ko ada kesamaan suka dengan kucing sih? Bisa jadi begini ya, Pak Hadi?” Kataku tertawa.
“Iya. Pas kebetulan saja kali Pak Ricky. Oh, iya Pak Ricky, saya orangnya seperti yang telah saya bilang tadi di SMS.” Kata Hadi. “Oh, bagi saya tidak ada masalah, Pak Hadi. Memangnya perkenalan dan pertemanan kita akan risih jika diantara kita terdapat seorang Gay.? Aku malah suka juga berkawan dengan siapa saja. Mungkin karena posisiku bekerja di Event Organizer, selalu berhubungan dan bertemu dengan banyak orang, jadinya tidak boleh sentiment dengan siapa saja. Maklumlah saya bergerak dibidang jasa, harus baik dan sopan pada siapa saja.” Kataku.
“Oh, bagus kalo gitu. Terima kasih jika Pak Ricky dapat menerima saya sebagai temannya.” Kata Hadi. “Iya, saya tidak ada masalah apa-apa, Pak Hadi. Malah kalo boleh saya tahu, Pak Hadi kasih saya info tentang dunia Gay itu. Maklum saya masih buta tentang dunia itu. Saya jadi ingin tahu juga karena saya juga pernah beberapa kali bertemu dengan pria-pria tampan dan menarik ditempat-tempat umum, mereka pada mengerdipkan kelopak-kelopak bola matanya pada saya dan beberapa laki-laki ada yang mengajakku sebagai suatu isyarat juga, namun saya abaikan saja. Aku belum tahu harus bagaimana karena aku masih buta. Tapi aku jujur terfikirkan juga setelah dikedipkan oleh beberapa pria tampan itu. Pak Hadi karena telah bicara seorang Gay, tentunya memiliki pengalaman yang berkaitan dengan dunia Gay itu sendiri. Gak apa-apa kita berkawan saja yang penting sama-sama tutup mulut pada yang lainnya agar jangan sampai saling menjatuhkan dan menghina. Betul kan.!??” Kataku.
“Oh, gitu.? Menarik juga kalo gitu, Pak Ricky. Kenapa tidak di respon saja mereka itu.?´Kata Hadi. “Saya tidak tahu harus bagaimana, Pak Hadi. Maklum saya masih trauma abis putus sama tunangan saya cewek orang Tasikmalaya, Jawa Barat.” Kataku. “Oohh… Pak Ricky putus juga sama tunangan.! Semoga mendapatkan lagi penggantinya ya Pak Ricky.” Kata Hadi. “Iya. Saya baru putus sama tunanganku. Lalu saya ditaksir sama cowok-cowok juga. Tampan-tampan sih cowoknya itu dan pernah bertemu beberapa kali juga ditempat yang sama, tapi saya abaikan begitu saja. Maklum saya ga ngerti Pak Hadi.” Kataku.
“Ah, Pak Ricky ada kesempatan diabaikan begitu saja. Hahahahaa…..” Kata Hadi tertawa. “Maklum saya baru putus sama cewek tunanganku, bagai harus dimulai dari nol lagi. Tapi malah cowok-cowok yang curi-curi pandang pada saya. Tapi ga apa-apa sih kalo cowoknya tampan-tampan sih. Hahahaha….” Kataku sambil meledek Hadi. Hadi-pun terdengar tertawa, dan dalam tertawanya terdengar senang sekali. Obrolan-pun kini semakin menjurus pada dunia Gay-Bisex.
Dan ternyata Hadi benar berpengalaman, baik berpacaran ketika sedang duduk di bangku SMA daerah Halim Perdana Kusuma dengan temannya sendiri bernama Sonny dan bercinta dengan laki-laki juga, termasuk dengan kawan sekantornya itu pula bernama Muchtar membuat aku heran dan terperanjat pula. Yang membuatku terperanjat Hadi berpacaran dengan Muchtar dan bercinta ketika pada jam istirahat siang, tanpa diketahui oleh isteri Muchtar itu sendiri karena isteri Muchtar itu hanya sebatas mengetahui jika Hadi dan Muchtar itu hanya teman sekantor saja, tidak lebih dari itu. Namun kenyataannya Hadi dan Muchtar sering bercinta dirumahnya ketika isterinya tidak sedang dirumah. Pamit pada Office Mate ada acara diluar kantor namun kenyataannya bercinta dengan pria ber-isteri dan ber-anak pula. Sejenak aku termenung baru dapat menyadaraninya jika hal itu bisa terjadi tanpa diketahui oleh siapa saja kecuali oleh para pelaku/pesakitan dan bicara terus terang seperti itu.
“Pak Hadi. Ternyata Pak Hadi berpengalaman juga ya tentang dunia Gay itu?” Kataku. “Ya. Kalau saya boleh jujur, aku sejak kecil, Pak Ricky. Ketika saya masih kelas Sekolah Dasar daerah Perum Klender. Aku telah bercinta dengan temanku sendiri yang bernama Iman. Saya bercinta ketika sedang belajar mengaji itu. Tapi sampai sekarang Iman itu telah tidak berhubungan lagi, kecuali sekarang dengan Muchtar ini. Tapi sekarang sedang jarang kontek juga dengan Muchtar. Dia sibuk mengurusi Isteri dan Anaknya itu. Susah berpacaran dengan yang telah punya isteri. Perhatiannya kurang. Kasih sayangnya kurang juga.” Kata Hadi.
“Ya, semuanya bisa diatur kan Pak Ricky. Harus dapat bersandiwara dimanapun kita berada. Apalagi di Indonesia kan tahu sendiri dech budaya dan kebiasaan juga religinya.” Kata Hadi. “Iya sih. By the way, jadwal kurus Bahasa Francis kapan, Pak Hadi?” Tanyaku. “Oh, besok saya ada jadwal kursus. Kebetulan ada acara membuat salad juga bersama class mate itu.” Kata Hadi. “Wah, aysik banget dech acaranya. Bisa kenyang tuh. Bagi-bagi dong saladnya.” Kataku bercanda. “Mau, Pak Ricky? Boleh nanti saya kirim ke Pak Ricky. Oh, iya. Pak Ricky Salembanya dimana ya?” Tanya Hadi terdengar senang juga.
Selepas komunkasi itu, aku meletakan Hand Phone sambil membelai-belai kucing-ku namun fikiranku bertanya-tanya; ko bisa orang dapat berpacaran dengan orang yang telah berkeluarga juga. Para isteri dan anak-anaknya tidak saling mengetahuinya jika mereka itu ternyata Gay dan Bisex; dapat berpacaran atau bercinta dengan perempuan dan laki-laki juga. Aku juga menjadi teringat kembali dengan beberapa pria tampan bertubuh sangat tinggi yang sama-sama pada mengerdipkan kelopak bola matanya itu padaku ketika mereka pada sedang makan dan minum di salah satu café daerah Thamrin itu namun aku mengabaikannya karena aku tidak tahu apa maksudnya dan apa yang harus aku lakukan ketika itu. Para pria itu juga memang terlihat manly dan penampilannya sangat rapih, Office Looking dan perawakannya sangat bersih pula; tampan dan gagah. Fikiranku juga menjadi penasaran dan heran, terhadap dunia Gay / Bisex / Lesbi itu karena mereka ternyata ada dan nyata sekali dalam kehidupan ini yang selama ini sangat tertutup rapih sekali dalam cinta terlarangnya.
Dan keesokan harinya aku seperti biasa, mandi dan sarapan pagi, sambil turut memperhatikan televisi juga yang mengupas aneka berita terkini dan update. Tidak lama kemudian Hadi menghubungiku melalui Hand Phone-nya akan berkunjung ke tempatku itu pula setelah kurus Bahasa Francis itu.
Dari jauh Hadi telah memberikan senyuman dan isyarat sambil bergegas melangkah menghampiriku. Kini Hadi terlihat menatapku dalam salah tingkah pula, tatapannya terlihat curi-curi pandang menatap seluruh tubuhku yang memakai celana jeans pendek di atas lutut, ujung celananya cuwar cawir, sementara badanku karena sedang santai memakai tang-top warna hitam sebagai kebiasaanku jika sedang santai dirumah. Kemudian Hadi memasuki ruang tamu dan duduk dikursi sambil tetap senyum manis, kini tatapannya menatap tubuh dan dadaku yang memang berbulu semuanya.
Obrolan-pun dimulai kembali kesana-kemari berbagai topik up to date sambil pada tertawa jika terdapat hal-hal yang sangat lucu. Kami tidak perduli dengan pembantu rumah yang kesana kemari dalam aktivitasnya. Namun mereka mengetahui jika pada saat itu terdapat tamu. Karena kami telah merasa akrab, obrolan menjurus kembali pada point yang telah diinformasikan oleh Hadi itu. Namun karena dirasa riskan jika terdengar oleh orang lain, aku berinisiatif mengobrol di dalam kamar yang luasnya 5 x 6 meter itu sambil nonton TV juga.
“Kalau pengalaman Pak Hadi yang tadi malam mengaku ‘Gay’ itu bagaimana selama ini? Boleh dong saya kasih bocoran dikit saja, banyak juga boleh.!?” Tanyaku. Dan sejenak terhenti, namun Hadi tetap tersenyum manis dalam percaya dirinya itu. “Ya. Seperti telah saya katakana dalam setiap obrolan itu. Ketika di SMA juga saya pacaran dengan Sonny, kawan-kawan kelas dan kawan sekolahku tidak ada yang mengetahuinya. Kami dihadapan mereka perperan seperti teman, padahal dibalik itu kami pacaran dan bercinta juga. Cukup lama juga kami pacaran denan Sonny. Saya juga pernah beberapa kali pacaran dan bercinta dengan orang-oarang yang telah berkeluarga, terakhir ini dengan teman sekantorku, Muchtar itu.” Kata Hadi. “Para Isterinya itu pada tidak mengetahuinya jika mereka pacaran atau selingkuh dengan Pak Hadi?” Kataku. “Tidak. Mereka tidak mengetahuinya. Kan kami berperan seperti teman kantor saja. Baik dikantor atau diluar kantor. Juga dirumah jika kami sedang bertamu. Padahal kalau isterinya pergi, kami pada bercinta dirumahnya itu atau ditempat lain jika memang tidak ada tempat lagi.” Kata Hadi. “Oh. Ko bisa ya?” Kataku. “Ya, semuanya bisa diatur, Pak Ricky. Dan enjoy aja.” Kata Hadi tetap tenang.
Sejenak aku berfikir dalam sambil menatap TV. “Hubungan seperti itu, jika diselingkuhin juga bagaimana, Pak Hadi?” Tanyaku. “Ya, tidak ada masalah bagi kita sih. Yang penting tidak diketahuinya.” Jawabnya enteng. “Oh, jadi gak ada rasa cemburu toh?” Tanyaku. “Cemburu pasti ada. Yang penting tidak diketahui saja, Pak Ricky.” Jawab Hadi sambil malu-malu. Tapi tiba-tiba Hadi membuka ranselnya sambil berbicara. “Oh, iya. Saya bawa majalah nih. Buat Pak Ricky.” Kata Hadi memberikan majalah Bahasa Inggris bercover para pria yang pada memakai celana blue jeans pendek dan ujung-ujung celananya pada cuwar-cawir, sama dengan yang aku pakai juga membuat aku heran dan sedikit agak terperanjat kaget juga. Bedanya aku masih memakai kaos tank-top hitam itu. Sementara para pria di majalah itu pada tidak mengenakan pakaian baju, kecuali celana blue jeans pendek itu.
Dan gaya para model pria tampan itu ada beberapa yang pada berpelukan dalam ekspresi kemesraannya walau sama-sama dengan pria juga. Bahkan ada yang saling berpelukan sangat mesra, juga saling berciuman segala. Pantas jika Hadi suka dengan Orang Francis itu, aku baru dapat menyadarinya itu. Namun ketika aku sedang membuka-buka majalah itu Hadi tetap memperhatikanku, baik menatap tubuhku maupun menatap wajahku yang masih konsentrasi membuka-buka majalah asing itu yang ternyata salah satu majalah khusus kaum Gay / Bisex itu juga.
Lama-lama aku tersenyum karena aku baru dapat menyadarinya jika hal itu di Negara lain memang telah legal seperti itu hingga majalahnya juga dapat diproduksi seperti itu juga dapat beredar ke Negara yang lainnya hingga ke tangaku juga. Hadi yang tak henti-hentinya menatapku tajam sekali walau diraut wajahnya tersenyum manis.
Sungguh sangat terperanjatnya aku; kini aku baru dapat melihat foto-foto para pria yang (Ma’af) pada telanjang bulat dengan berbagai gaya dan fose, baik di sofa, di teras rumah, di kolam renang, di tempat tidur dan di tempat lain-lainnya. Mereka pada mesra dengan para pria juga dan bahkan ada yang pada sedang bercinta juga dibeberapa tempat dalam kebebasan eksresi dan gayanya juga termasuk yang sedang melakukan orgy dan lain-lainnya itu, sepertinya para Gay/Bisex itu pada sedang mengekspresikan gaya hidupnya itu jika mereka juga dapat bercinta dan berekspresi sama dengan yang lainnya walau mereka pada terlihat manly dan tampil sebagai pria tulen, berotot dan berfostur tubuh sangat kekar, wajahnya tampan-tampan sekali.
Hadi menunduk malu-malu tapi tetap tersenyum manis. Namun tiba-tiba Hadi berbicara lagi. “Pak Ricky. Boleh saya panggil ‘Mas’ saja agar kita lebih akrab.!?” Tanya Hadi. “Oh, ga apa-apa, Pak Hadi. Panggil nama saja juga boleh ga apa-apa.” Jawabku menatapnya. “Saya yang panggil mas karena saya jauh lebih muda dari Mas Ricky. Tidak apa-apa Mas Ricky panggil saya nama saja.” Kata Hadi. “Ok ga apa, Hadi. Terserah Hadi mau panggil saya Mas atau Nama juga ga apa-apa, ga ada masalah bagi saya.” Kataku tidak keberatan.
“Jujur, Mas Ricky. Aku kaget dengan penampilan Mas Ricky ini. Hampir membuat saya merasa shock.!” Kata Hadi membuatku heran juga. “Loh, memangnya kenapa, Hadi? Penampilanku setiap santai dirumah seperti ini. Saya sangat suka dengan memakai tank-top dan celana pendek agar tidak gerah. Tahu sendiri Jakarta ini panasnya minta ampun kan.!? Saya mohon ma’af jika penampilanku membuat Hadi tersinggung.” Kataku menatapnya.
“Saya… Saya suka dengan Mas Ricky. Saya suka dengan penampilan Mas Ricky. Saya suka dengan bulu dada Mas Ricky yang terbuka dan terlihat itu. Saya suka dengan bulu-bulu tubuh Mas Ricky itu. Mas Ricky tubuhnya berbulu semua mulai dari jambang hingga ujung kaki itu. Saya pernah mengidamkan punya cowok atau BF (Boy Friend) yang memiliki bulu dada dan bulu perut dan semuanya. Kini orang itu ada dihadapan saya sendiri. Penampilan Pak Ricky yang selalu datang ke kantor itu selama ini hanya berpakaian Office Looking menutupi seluruh tubuhnya, penampilan Mas Ricky sekarang seperti yang menjebak hati dan persaaan saya. Saya sangat terperanjat kaget ketika Mas Ricky tampil memakai pakaian ini. Jujur, saya kaget sekali hampir schock serasa terpancing emosi saya. Penampilan Mas Ricky sama dengan beberapa orang model dalam majalah gay asing yang saya bawa itu.” Kata Hadi jujur dan terus terang sekali membuatku kaget pula. Sejenak aku termenung, karena pada dasarnya Hadi juga membuatku nyaman berbicara dan sikapnya yang sopan juga. Aku juga sedikit serba salah juga.
“Saya telah katakan jika saya seorang Gay, Mas Ricky.” Kata Hadi. “Ya. Saya mengerti, Hadi. Saya juga sebetulnya telah mengetahui Hadi dari salah tingkah dan bunyi suaranya itu yang bagi saya itu semua adalah salah satu ciri khas seorang Gay. Cara dan gaya sikap Hadi terhadap saya telah berbicara jika Hadi sebetulnya menyukai saya.” Kataku agak kaku juga. “Nah, bagaimana menurut Mas Ricky? Saya telah katakan jika saya suka dengan Mas Ricky.” Kata Hadi menunduk.
Aku berfikir, aku juga sebetulnya nyaman dapat melihat sosok Hadi dan berbicara dengannya meskipun aku telah bertunangan dengan seorang wanita dari Jawa Barat itu walau terputus juga karena tuntutan karier yang belum dapat memenuhi standardnya itu. Aku merasakan gejolak dalam hati jika aku juga mungkin seorang Bisex yang dapat menyukai wanita tapi juga menyukai pria tampan, karena jika aku melihat laki-laki biasa aku tidak tertarik, namun jika aku melihat sosok laki-laki yang bersih, tinggi badan dan tampan, aku ada rasa suka juga, serasa nyaman melihat dan memandangnya itu. Keanehan rasa dalam diriku telah kutahan selama puluhan tahun karena aku mengutamakan perempuan sekalipun aku pernah diberi suatu isyarat oleh para pria tampan dengan kedipan-kediapan kelopak bola matanya itu. Keanehan rasa dalam diriku ini selalu menghantuiku jika melihat pria tampan dan fostur tubuhnya tinggi dan proporsional sekali penampilannya.
Lalu aku menatap Hadi yang masih tersenyum dalam senangnya itu sepertinya Hadi percaya diri sekali sambil berbicara. “Mmmhh… Jangan salah Mas Ricky. Walau telah bertunangan juga tidak membuat jaminan ‘ma’af’ normal, banyak laki-laki yang pada telah berkeluarga dan memiliki anak tapi kenyataannya mereka Gay dan Bisex juga. Mereka hidup pada bersandiwara dalam keluarganya dan juga pada mencari cinta diluar keluarganya itu demi kesenangan dan kepuasannya itu pula.” Kata Hadi meyakinkanku.
“Ya. Aku sebetulnya suka jika aku melihat sosok pria yang terlihat bersih, tampan dan tinggi badan seperti Hadi. Tapi sebaliknya jika aku melihat laki-laki yang biasa saja apalagi badannya tidak tinggi seperti yang lainnya aku tidak tertarik. Rasanya juga biasa saja sama dengan yang lainnya. Keanehan rasaku itu juga telah aku tahan dalam diri saya ini bisa dikatakan puluhan tahun hingga sekarang karena aku belum ada jalan juga. Lagipula type pria yang aku suka juga sangat jarang. Aku menahan rasa telah puluhan tahun, aku hanya berfikir dan bertanya inikah keanehan rasa suka atau sayang yang mendua seperti sosok makhluk yang aneh juga. Aku selalu bertanya mengapa aku dilahirkan seperti ini..!?” Kataku menatap Hadi.
“Telah saya katakana tidak jaminan normal kan.! Sekalipun orang telah berkeluarga juga mereka sebetulnya ada rasa terhadap pria yang lainnya namun sebagian dari mereka pada berhasil menahannya itu. Tapi yang pada selingkuh dari keluarganya juga sangat banyak, mereka dapat membagi cinta ditempat yang lainnya seperti pengalamanku itu.” Kata Hadi. “Ya. Aku dapat merasakannya itu. Dan aku juga bisa menerima Hadi, tapi aku tidak ingin orang lain jadi mengetahui hubungan cinta terlarang kita ini khususnya keluargaku itu. Aku juga tidak ingin diselingkuhin karena aku tidak ingin ribut gara-gara cinta terlarang ini. Aku akan jahat kalau aku dijahatin, harus diingat itu…..!” Kataku menggaris bawahin.
“Ya. Saya dapat mengerti, Mas Ricky. Terima kasih jika Mas Ricky dapat menerima saya ini. Semoga hubungan kita ini baik-baik saja.” Kata Hadi sambil mengarahkan tangannya agar dapat bersalaman denganku. “Ok. Janji ya, Hadi. Jangan selingkuhin aku..!! Jangan khianati aku karena pengalamanku tunangan juga putus. Dan jangan sampai orang lain tahu tentang hubungan cinta terlarang ini…!!!” Kataku sambil bersalaman juga dengan Hadi, pertanda sejarah cinta Gay dan Bisex terjadi dan terproklamasikan juga pada saat itu. “Iya. Jika saya boleh jujur, ibu saya juga telah mengetahui tentang saya yang Gay, Mas Ricky. Ibu saya tahu jika saya suka dengan laki-laki. Tapi Ibu saya telah berpesan pada saya agar jangan sampai Bapak dan kakak-kakak saya pada tahu agar mereka tidak marah dan saya tidak diusir dari rumah itu.” Jawabnya tenang membuatku terperanjat juga.
=====o0o=====

Tester Random – Bersambung Summary 2
(Selengkapnya di buku bersangkutan)
=====o0o=====